
siang itu bergulir ke titik yang lebih terik, diluaran orang-orang akan memakai pelindung matahari yang mungkin dapat membantu aktifitasnya, sedangkan yang berada di dalam rumah atau gedung lebih memilih menyalakan AC atau kipas angin agar aktifitas di dalam tidak terganggu dengan keluhan panas yang menyengat.
Namun di dalam ruangan ini, empat orang yang saling bertatapan sudah berusaha menekan panas yang mereka timbulkan dari badannya, sedangkan satu orang sepertinya makin segar dan malah tersenyum lebar setiap kali dilirik oleh anak-anak di hadapannya, yang paling tegang tentunya Yara, karna sejak di perkenalkan kalau wanita yang kini duduk disebelahnya adalah ibu dari Devano, wajah Yara langsung syok dan bingung harus bersikap bagaimana, pada akhirnya ia hanya menyembunyikan kecanggungannya dengan terus tersenyum pada wanita cantik itu.
"jadi kamu yang namanya Nayyara? Darren dan Vano selalu merahasiakan kamu loh dari tante, pantes di sembunyikan ya, orangnya cantik begini".
bukankah seharusnya Nayyara senang dengan pujian itu, tapi entah kenapa ia malah keringat dingin mendengarnya, lirikan matanya tertuju pada Vano meminta bantuan, tapi yang di lirik hanya sibuk menghela nafas dan bersandar di punggung sofa.
Tolong aku kak, aku harus bicara apa pada ibumu?
Ringisan di wajah Yara tidak terbaca oleh Vano, alhasil gadis itu hanya nampak gelisah sejak tadi.
"terimakasih tante, tante juga masih sangat cantik dan terlihat sangat muda. "
"ish..berbohong juga harus ada batasannya donk, hahaha... Kamu gak perlu menjilat mamaku Yara, dia tidak berpengaruh apa-apa di sini. "
Devano terkekeh, membuat Yara membelalak panik, tapi sang mama hanya manyun mendengarnya.
"kakak.... ".
Yara menekan panggilannya, berharap Vano tidak bersikap kurang ajar seperti itu di depan mamanya sendiri.
" sudah biarkan Vano bicara apapun Yara, dia memang selalu begitu sama tante, cuma dia yang gak mau mengakui mamanya masih cantik, dia juga gak pernah mau di ajak jalan bareng tante, katanya takut di bilang simpanan tante-tante. "
Hahaha...
tawa yang sangat renyah dan sumringah itu hanya di tatap Yara dengan ringisan kaku, ia benar-benar tidak tahu harus merespon apa, tapi di lihat dari dekat begini, mamanya Vano sepertinya orang yang ceria dan bersahabat.
"jadi, kapan kamu mau datang kerumah?. "
Mendengar hal itu Yara langsung syok lagi, ia langsung pias saat mata mamanya Vano menatapnya penuh harap.
"Hah?. " hanya itu yang bisa keluar dari mulutnya, ia sendiri kaget dengan respon mulutnya yang memalukan itu, wajahnya nambah bingung saat sang mama Vano terus menatapnya menunggu jawaban.
"Vano bilang kamu mau di bawa kerumah, tante tunggu loh, papahnya Vano juga sudah sangat menanti-nanti sepertinya. "
Yara melirik ke wajah Vano yang ternyata sedang menatap mamanya dengan kesal, laki-laki itu bahkan tidak menyembunyikan plototan matanya pada wanita yang selalu menggodanya kala di rumah itu.
"mah, akukan baru ngomong tadi sama mamah, jadi mana Yara tahu aku mau mengajaknya kerumah. "
__ADS_1
protes Vano, yang ngomong-ngomong sudah kesal sambil mendelik juga ke arah Darren meminta bantuan, tapi teman yang selalu mendukungnya itu seperti patung saja, seolah tidak ingin ikut campur pada permasalahan keluarga ini.
"yaaa mamakan hanya memastikan supaya ajakan kamu itu bukan sekedar niat saja,kalau Yara sudah tau kan setidaknya mama tau dia akan menolak atau tidak, iyakan Yara?. "
"ha? Oh iya tante, kalau kak Vano mau ajak Yara dan di undang langsung, Yara juga mau kok. "
Terpaksa nyengir saja, walau kelihatan di paksakan tapi mama Vano sepertinya mempercayai kata-kata Yara barusan.
"berarti kamu juga mau kalau tante undang makan maa....
" mah".
Wajah Vano sudah menunjukan tanda-tanda tidak suka yang serius, membuat sang mama menghentikan kata-katanya.
"aku berubah fikiran, Darren yang akan mengantar mama pulang. "
Vano berdiri tiba-tiba, diikuti Darren yang memang refleks saat namanya di sebut tadi, Yara dan mama Vano hanya mendongak menatap anaknya mulai berkacak pinggang, tangannya merih lengan Yara, memaksa gadis itu berdiri dan mengikuti langkahnya ketika tiba-tiba tubuhnya di tarik paksa oleh Vano, mereka keluar ruangan dengan Vano yang kesal dan Yara yang kebingungan, ia sampai mengangguk saja saat berpamitan dengan mamanya Vano tadi.
Cih, dasar pemarah, gerutu sang mama yang hanya manyun melihat anaknya dan Yara pergi.
#
"kak..
Dengan wajah jutek, Vano menyetir sambil menatap jalanan dengan sinis, ia bahkan mengklakson mobil yang menyalipnya di jalan yang cukup lengang di depannya.
Padahal Yara hanya mau bertanya saja ingin di bawa kemana ia kali ini, lagipula kenapa harus Vano yang terlihat marah, bukankah mamanya hanya menyapanya dengan sopan,dan jujur saja Yara sangat iri mendengar gaya bicara mamanya Vano tadi, terlihat akrab dan pandai menempatkan diri, ia tau pasti mamanya Vano tau kalau ia tadi sangat canggung dan kikuk.
sedangkan Vano tau sebenarnya ia tidak boleh kesal dan marah pada mamanya yang tidak tau apa-apa, hanya saja, perkataan yang bilang ia ingin mengajak Yara kerumahnya itu hanya setengah sadar ia katakan, kenapa? Karna di rumah itu ada jejak Brian yang mungkin mengingatkan Yara pada adiknya itu, dan sepertinya di lubuk hatinya yang terdalam, Vano belum siap untuk menerima kenyataan itu, menerima jika ternyata Yara memang sengaja mempermainkan adiknya dulu.
hening di dalam mobil yang terus bergerak, entah kemana mereka akan pergi, yang Vano lakukan hanyalah menyetir dan menyetir saja, fikirannya terus berfikir hal yang belum tentu terjadi, dan sepertinya ia sedang melawan perasaan tidak enak itu dalam dirinya.
"maafkan aku. "
Akhirnya ia bicara, itu membuat Yara lega dan sedikit rileks, tidak tegang seperti tadi.
"soal apa?. "
"menyuruhmu untuk diam, sementara aku berfikir dulu. "
__ADS_1
"sekarang sudah berfikirnya? Apa aku boleh tau apa yang sedang kakak fikirkan? Apa ini soal mama kakak?. "
"hm, dia memang sedikit cerewet dan mengganggu. "
Yara tersenyum haru, matanya menatap wajah Vano yang masih belum mau menatapnya.
"saat mama kakak bicara akan mengundangku kerumah kakak, apa kakak merasa kesal?. "
Kini Yara menundukkan pandangannya, menatap jari-jari tangannya yang ia gerakkan memainkan kuku jarinya disana, kali ini sepertinya ia akan mendapatkan kekecewaan dari mulut Vano.
Butuh beberapa detik Vano untuk menjawabnya, dan itu semakin meyakinkan Yara kalau dugaannya benar.
"mamaku hanya bicara asal, jangan di anggap serius. "
Degh.
Apa itu artinya kau hanya menjeratku saja? Tidak akan ada masa depan untuk hubungan kita?
Nyut, rasanya ada rasa yang nyelekit mengenai hati Yara, ah.. Seharusnya ia sudah tau akan berujung apa hubungan ini, bahkan belum seumur jagungpun jalinan ini terasa menampar Yara untuk sadar diri akan keinginan Vano padanya hanyalah sebatas ini saja, kebencian itu masih sangat besar rupanya. Fikir Yara.
Ia memalingkan wajahnya ke arah kaca mobil yang tertutup rapat, menatap jejeran pohon-pohon yang berlarian di luar sana, dengan mata berkaca yang ia sembunyikan dari Vano.
"kita mau kemana? Bukankah harusnya kau mengantar aku pulang?. "
Getir, itulah yang Yara rasakan saat ini, tanpa melihat Vano ia bicara dengan kepalanya menyender ke pintu mobil, ia menahan rasa sesak di dadanya, bagaimana ini, sepertinya air mata nya mendesak keluar.
Sekuat tenaga Yara menahannya, ia sampai mengepalkan tangannya mengeratkan dengan se-erat-eratnya sampai telapak tangannya basah berkeringat.
"tunggulah, meski tidak dengan bicara, aku ingin kau menemaniku disini. "
Hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut Vano, setelahnya sepi dan dingin berselimut, sebenarnya Vano tidak akan tahan dengan situasi menyebalkan seperti ini, tapi dari pada kata-katanya keluar hinaan dan bicara yang menyakitkan pada Yara nantinya,lebih baik ia membiarkan ini, selama Yara diam saja dan tidak bertanya apa-apa atas sikapnya ini, itu sudah cukup membantunya menahan gejolak marah di dadanya.
Tapi di fikiran Yara saat ini adalah.
Kau harus tau diri Yara, memangnya sejak kapan Vano menjajikanmu masa depan indah bersamanya, pertemuan yang tidak sengaja ini dengan mamanya adalah satu kesalahan, harusnya kau tadi langsung saja menolak untuk bicara, atau kau tidak usah menyerahkan berkas hari ini, masih ada hari esok, sehingga kau tidak perlu merasa bersalah sudah bertemu dengan mamanya tadi.
Vano pasti merasa kasihan padamu, sudah berharap terlalu tinggi dan kau semakin membuatnya tidak enak, apa yang Vano curahkan padamu selama ini hanyalah karna kau berhutang padanya, benar, dia berhak mengambilnya dengan cara apapun, termasuk membuaimu dengan sikapnya yang seolah-olah menginginkanmu, dia berhak akan itu, kau berhutang banyak padanya, jadi... Ayo sadar, kau bukan wanita berkasta tinggi yang ingin dia miliki, harusnya kau sadar dan jangan terlena, padahal kau tau betul Vano lahir dengan sendok emas yang tidak bisa kau gapai, beraninya kau bermimpi memilikinya dengan derajatmu yang tidak seujung kukupun bisa di samakan dengan kehidupannya.
Yara sedang membenturkan kepalanya sendiri dalam fikirannya, caranya untuk menyadarkan diri akan angan-angannya selama ini, dan benar saja, sepertinya matanya terbuka, ia langsung menyeka sudut matanya yang nampak basah tadi, untung saja air matanya tidak sampai menetes, senyum getir ia tunjukan samar, pada bayangannya sendiri di kaca mobil.
__ADS_1
So bodoh, gumamnya dalam fikirannya.
Bersambung😊