
Devano datang dengan basah kuyup di bagian rambutnya, sepertinya jas hujan yang ia pakai tadi tidak berguna 50 persen, tapi sekarang ini bukan hal itu yang penting, Yara berada dalam gendongannya, gadis itu tertidur karna lelah menangis, tangannya melingkar di leher Vano, rambutnya menutupi wajahnya, tubuhnya berayun ayun di tangan Vano.
Darren, Mario, Alfian, medina dan Moana nampak berbarengan terlonjak dari sofa, saat mereka melihat Vano masuk sambil menggendong Yara di didepan, mereka semua berkumpul memang hanya untuk menunggu Vano kembali bersama Yara, sedangkan Lisa dan Gun berada di dapur, menyediakan air hangat untuk jika nanti di perlukan.
"Nayy...! ".
Medi sudah ingin menyambar tubuh Yara, tapi tiba-tiba Alfian menahannya dengan sentuhan di lengannya, ia menggeleng pelan pada Medi yang menatapnya penuh tanya.
Benar saja, Mario yang sudah ingin menghambur pun tak jadi melangkah karna Vano langsung membawa tubuh Yara masuk kedalam kamar miliknya tanpa berkata-kata, alhasil mereka semua yang ada disana hanya bisa menatap, menahan pertanyaan yang menari-nari dikepala masing-masing.
"apa kak Nayy baik-baik saja? ".
Suara Moana yang berdiri di dekat Darren memecahkan kebisuan di ruang tengah itu, seketika semua mata menatapnya, ada sendu di mata Moana, itu karna ia melihat Vano yang begitu kacau sejak mencari Yara tadi, firasatnya mengatakan kalau Vano sangat mengkhawatirkan Yara lebih dari seorang ketua team yang harus bertanggung jawab pada stafnya.
" dia baik-baik saja Mo, tenanglah, yang penting sekarang dia sudah disini. "
Ucap Darren, ia membagi senyuman pada orang-orang yang nampak tegang dan khawatir.
"ck, menyebalkan sekali. "
Mario melangkah pergi,ia naik ke atas menuju kamarnya, di susul Alfian yang menarik Medi ke arah balkon dekat dengan pemandangan lapangan golf di malam hari, hujan sudah berhenti, Alfian berniat mengajak Medi minum kopi panas yang baru saja di buatnya tadi, Lisa dan Gun saling tatap, lalu berbarengn meninggikan bahu, mereka membuat susu dan coklat panas yang akan mereka antar ke kamar Vano nanti.
Tinggal Darren dan Moana yang kembali duduk di sofa, ada helaan nafas kecewa pada wajah Moana, Darren tersenyum lagi, sepertinya banyak sekali hati yang patah disini. Fikirnya.
"istirahatlah Mo, besok kita akan ke air terjun dan bermain arum jeram, aku harap kalian tidak kelelahan karna bergadang malam ini. "
Darren mencoba menghibur, tapi Moana tetap mempertahankan wajah kecewanya, gadis itu sudah menghela nafas kesal berkali-kali.
"mau ikut memanggang sesuatu di halaman belakang?". Gun datang dengan secangkir kopi yang masih mengepul.
" memanggang? ". Darren bertanya untuk memperjelas.
" iya, cuaca cukup dingin dan malam masih awal untuk tidur, Lisa dan aku berniat memanggang sisa daging yang ada di kulkas, apa kalian mau ikut?. "
"aku sudah siapkan bahan-bahannya, cepatlah aku ingin makan daging. "
Lisa menyambar dan berlari ke halaman belakang sambil memeluk beberapa sayuran dan botol soda.
"apa aku boleh minum anggur? ".
Moana berucap, yang langsung di tatap bersamaan oleh Darren dan Gun.
" sepertinya kita punya beberapa di lemari penyimpanan. " jawab Gun yang langsung ditatap Darren, Gun hanya nyengir.
"tidak boleh lebih dari 2 gelas saja Mo, aku tidak ingin kau mengacau saat mabuk. "
Ucap Darren.
"cih, presdir kita ini norak sekali, mana ada orang minum anggur langsung mabuk. " sambil bangkit dari duduknya, Moana berjalan meninggalkan Darren dengan wajah misuh-misuhnya, ia menyusul Lisa disana.
"kau yang bertanggung jawab nanti. "
__ADS_1
Darren bangkit dan memukul bahu Gun pelan, dua lelaki itu terkekeh sebentar lalu ikut menyusul ke halaman belakang. Sepertinya Medi dan Alfian akan ikut bergabung nanti, hanya Mario yang tenggelam dalam kamarnya, masih kesal dengan cara Vano membawa Yara pulanng tadi.
#
Di dalam kamar Vano, ia meletakkan tubuh Yara dengan sangat hati-hati, ia lalu beranjak membersihkan dirinya dalam kamar mandi, tidak ada lima menit ia sudah keluar dengan wajah yang segar dan rambut yang basah sedang di gosok-gosokkannya dengan handuk kecil di tangannya.
Selanjutnya ia mendengar ketukan di pintu, Gun memberikan nampan berisi dua cangkir yang masih panas, satu berisikan susu dan yang satu lagi coklat panas untuk Yara, tanpa bicara Gun lalu meninggalkan pintu kamar hanya dengan senyuman kecil, Vano menutup pintu dengan rapat, ia berjalan kesisi tempat tidur dan meletakkan nampan itu di atas nakas, lampu kamarnya sudah mati, hanya tinggal lampu mejanya yang menyala temaram.
Devano duduk di tepian tempat tidurnya, menatap wajah Yara yang bernafas halus disana, helaan nafas sesal keluar dalam mulut Vano, teringat lagi bagaimana gadis itu menangis tersedu dalam dekapannya tadi.
Bodoh, kenapa tidak mengikutiku saat aku meninggalkannya, malah menangis di gubuk orang, membuat semua orang khawatir saja.
Vano menyentuh pipi Yara dengan pelan, mengusapnya lembut dengan jemari tangannya, rasa bersalah memenuhi dadanya, tatapan sendu yang sangat menyedihkan terpancar dari matanya.
Maafkan aku, aku terlalu keras padamu ya? Apa sekarang kau sangat membenciku? Kau harus membenciku Yara, aku sudah sangat jahat padamu, sampai kapan ini berakhir pun aku tak tahu.
Walau dalam hati Vano terus bicara, tapi tatapan matanya seolah menyampaikan kesedihan yang dalam saat mengatakannya, ia juga tidak tahu harus bagaimana menyampaikan semua perasaan ini, yang jelas, ia tidak ingin Yara meninggalkannya meski gadis itu sangat membencinya.
"kak! ".
Panggilan dari suara lirih dari mulut berbibir ranum itu nampak jelas, matanya masih terpejam namun perlahan bergerak membuka, tangannya meraih tangan Vano yang sejak tadi mengusap pipinya lembut.
" bangunlah, kau harus minum yang hangat-hangat agar dingin di tubuhmu hilang. "
Suara Vano begitu lembut, Yara menggerakkan tubuhnya agak memiringkan badan karna pegal tidur dengan tubuh lurus, selimut tebal membungkusnya sampai ke perut, ia menatap Vano yang masih duduk menatapnya disana.
"kakak masih marah padaku? ".
" minum coklat panasmu, sepertinya sudah hangat. "
Vano beranjak berdiri, ia ingin meninggalkan pembicaraan yang akan membangkitkan emosinya lagi nanti, sekarang ia tidak ingin Yara mendengar kata-kata pedasnya.
ia melangkah menuju sofa yang ada di dekat jendela balkon kamarnya, melempar handuk kecil yang tadi di tangannya ke atas sofa dan duduk dengan kasar sambil meraih remote TV, seketika layar besar di dinding itu menyala.
"aku akan kembali kekamarku saja kak, coklat panasnya aku bawa ya, terimaksih karna sudah membawaku pulang. "
Yara bangun dari tidurannya, selimutnya sudah ia sibak hendak menurunkan kakinya namun suara setengah berteriak itu mengejutkannya.
"diam disitu dan jangan bergerak. "
Seketika Yara membeku, wajahnya berkernyit muram, kenapa sih? Bukankah dia masih marah, kenapa melarangku pergi?.
aku juga tidak kuat jika hanya berduaan disini denganmu.
Ah.. Dasar debaran sialan, sepertinya aku sakit jantung.
Mengoceh dalam diam, lalu ia mendengar langkah halus mendekat padanya, Vano duduk di hadapannya dengan tatapan mengharukan.
"jangan membuatku khawatir, kau tau kebodohanmu itu menyusahkanku. "
Ucap Vano, ia mendorong kening Yara pelan dengan telunjuknya. Yara hanya menatapnya dengan kernyitan.
__ADS_1
"apa maksud kakak?, kan yang marah kakak. "
"sudah tau tidak tau jalan, kenapa tidak mengikutiku saat aku pergi?. "
"itu karna kakak meninggalkanku. "
"ya memangnya kakimu tiba-tiba lumpuh tidak bisa mengejarku. "
"jadi kakak ingin aku mengejar kakak?. "
"jangan menyimpulkan yang sederhana jadi tidak biasa ya, kau ini senang berhalusinasi ya?. "
Lagi, Vano mendorong kening Yara lagi dengan telunjuknya, membuat gdis itu semakin menghela nafas kesal.
"aku fikir kak Darren yang datang menyusulku, biasanyakan kakak akan mengutus dia kalau habis membuatku menangis. "
"oh, jadi kau kecewa ya aku yang datang, bukannya berterimaksih dengan benar malah mengeluh begitu. "
"aku yakin kak Darren juga mengkhawatirkanku, pasti dia juga orang pertama kan yang menyadari aku tidak ada. "
"hey..berhenti menyebut Darren, aku sudah bilang kau dan dia itu sama-sama milikku. "
"bukankah bagus, aku dan kak Darren menjadi satu karna kami milik kakak, kami akan menjaga kakak dengan sangat baik dan...ehemmmm".
Devano hilang akal, ia tidak tahan mendengar Yara mengoceh soal Darren dan dirinya, sejak tadi matanya menatapi bibir Yara yang tak berhenti bicara, tiba-tiba saja keinginan terbesarnya muncul, ia meraih kepala Yara dan mendorongnya kehadapannya, seketika bibir itu membungkam mulut Yara yang berisik, bukan hanya kecupan, tapi ciuman yang menggigit bibir Yara dengan lembut, Yara membelalak karna dapat serangan yang tiba-tiba, dadanya berdebar kencang, ia tidak menyangka kalau Vano melakukan ciuman mendadak seperti ini.
"ehummm.. Kkkaa.. Aahhh... Ah.. Hah.. Hah".
Tangannya mendorong dada Vano kuat, karna laki-laki itu sangat kencang mencengkramnya, setelah terlepas dan nafasnya tersengal sengal, Yara melirik Vano yang sedang tertawa kecil sambil mengelap sudut bibirnya dengan ujung jempolnya, ah.. Itu terlihat seksi, Yara bodoh, bisa-bisanya ia terpesona setelah di cium paksa begini, makinya pada diri sendiri.
"sudah mengerti, perbedaan kau milikku dan Darren milikku? ".
Suaranya sinis, ada senyum kepuasan melihat wajah Yara yang nampak memerah di hadapannya.
" apa kakak tidak merasa bersalah padaku? Aku akan bilang pada kak Darren kalau kakak melecehkanku. " berpura-pura menantang Vano, Yara sebenarnya gemetaran karna takut Vano melakukannya lagi.
"lakukan saja, aku akan menciummu di depannya bahkan di depan yang lainnya kalau perlu. "
Vano tertawa gembira dengan mata berbinar senang, ia sudah membayangkan apa yang baru saja diucapkannya.
Sedangkan Yara yang tiba-tiba pias tidak bisa menyembunyikan ketakutannya kalau benar Vano melakukannya nanti, tapi percayalah, dimata Vano Yara terlihat sangat lucu dan menggemaskan.
"kau mau lagi? Sepertinya tadi kau terkejut dan kurang menikmati, sini...akan aku ajarkan caranya untuk..
" kakakkk..! ". Yara melempar bantal ke wajah Vano, tapi laki-laki itu malah terbahak-bahak tak tahan melihat wajah panik Yara yang nampak lucu.
Hahaha..
Aahh, imutnya, dia lucu sekali.
Bersambung😊
__ADS_1