
Darren duduk di kursi, tepatnya di sebelah Vano yang berbaring lemah dengan infusan di tangannya, Gun baru saja berpamitan pergi karna harus mengurus pekerjaan Vano yang tidak bisa ditinggalkan di perusahaan papanya, sedangkan orang tuanya masih di ruangan dokter, kekhawatiran yang berlebih pada anaknya yang tiba-tiba sakit memang menjadi hal yang sangat menakutkan bagi setiap orang tua, terlebih mereka pernah kehilangan satu dari keluarga kecilnya.
"apa dia baik baik saja? ".
Suara Vano yang terdengar lirih nan sendu, tanpa menatap Darren yang ia ajak bicara, namun Darren bisa melihat wajah pucat itu nampak putus asa dengan dirinya sendiri.
" tentunya tidak tuan, anda harus bangun dan melihatnya sendiri, sepertinya matanya bengkak karna banyak menangis. "
"aku melihatmu datang padanya malam itu di taman, Darren, apa kau juga menyukainya sepertiku? ".
sebenarnya Darren terkejut sedikit tentang itu, tapi ia menguasai dirinya kembali agar Vano bisa percaya bahwa perasaannya untuk Yara hanyalah sebatas ia memganggapnya seperti adik perempuannya sendiri, karna kedekatan mereka sejak masa putih abu-abu dulu, dan Vano sebenarnya tau akan hal itu.
"apa saya harus menjawab lagi? anda yang lebih tau tentang saya tuan. "
"cih.. Padahal aku melarangmu menemuinya lagi jika terjadi hal seperti ini, aku yang akan datang untuknya, tapi kau melanggarnya, jadi aku fikir mungkin perasaanmu berubah padanya. "
"tolong jangan berfikir seperti itu, setelah apa yang paman dan Nyonya lakukan untuk hidup saya, dan anda yang mau tetap mendukung saya sampai saat ini, mana mungkin saya mengkhianati anda tuan. "
Heuh, segaris senyum tertarik di bibir Vano, ia akhirnya melirik Darren yang berwajah tegang disana, mengingat kembali bagaimana ia dan Darren bertemu dulu dan membantunya membuat onar bersama, dia yang selalu dapat omelan dan memasang badan di depan Vano saat papahnya marah dan hampir mencambuknya dengan ikat pinggang, Darren yang tulus dan siap mati jika memang itu diperlukan untuknya, ya... Vano sepercaya itu pada laki-laki satu ini.
"tapi apa mungkin Yara yang berubah ren? jangan-jangan dia yang akhirnya mempunyai perasaan padamu. " ucapnya dengan sunggingan bibir yang benci.
"tidak mungkin".
" percaya diri sekali kau, aku tidak lupa ya beberapa kali dia sesumbar lebih memilihmu ketimbang aku, cih.. Padahal kau hanya menganggapnya adik. "
"sejak dulu ini sudah sering kita bahas tuan, kenapa anda mengungkitnya lagi?. "
"haa.. Aku juga tidak tau. " helaan nafas itu sepertinya sangat mewakili putus asa Vano dengan pemikirannya. " mungkin karna Gun juga melihatnya seperti itu, jadi aku berfikir orang lain juga akan berfikir begitu. "
Mata Darren berkedut sebentar,ia tersenyum samar menanggapi kata-kata Vano.
"apa saya boleh saran tuan? ".
" apa? ".
Vano menatapnya, meski hanya dengan memiringkan badannya sedikit karna ia masih merasa nyeri pada seluruh tulang dalam tubuhnya.
" bicaralah yang mendetail pada Nayyara, sepertinya dia salah faham soal perasaan anda, dia berfikir kalau anda dan dia tidak punya rencana masa depan apa-apa karna anda sedikit marah saat Nyonya bertemu dengan dia saat itu. "
"Apa? Memangnya dia berfikir apa? Aku kan hanya belum siap membawanya kerumah karna aku takut dia mengetahui soal Brian. "
Entah darimana datangnya kekuatan itu, ia seketika bangun dari baringnya dan duduk tegak dengan mata membelalak pada Darren.
__ADS_1
"apa anda mengatakan itu dengan jelas? Sepertinya Nayy menangkapnya berbeda, dia berfikir kalau anda hanya mempermainkan perasaanya saat ini dan tidak ada niatan untuk serius dengannya. "
"dasar wanita bodoh, beraninya dia menilaiku jadi pria seburuk itu, waahh... Ternyata keberanian dia yang terus mengatakan aku harus membuangnya karna dia berfikiran begitu padaku? Heuh... Yara si bodoh. "
"satu lagi, sepertinya dia juga cemburu soal Anita, dia sampai bilang kalau kalian lebih cocok berdampingan ketimbang dengan dirinya yang...
" jangan diteruskan, aku tau soal dia yang sangat merendahkan dirinya jika membandingkannya dengan orang lain, hah... Gadis itu, dia tidak berubah sama sekali. "
Tertawa kecil membuat Darren lebih lega melihatnya, Vano akhirnya hidup kembali dari kematiannya beberapa hari ini. Sekarang yang ia tunggu hanya keputusan Yara, apakah gadis itu akan bertahan dengan menahan rasa rindunya? Atau akhirnya menyerah dengan fikiran yang tidak akan habisnya jika semua itu terus di pendam tanpa di utarakan.
#
Malam itu, setelah peperangan panjang dengan batinnya yang juga tidak menemukan titik terang, akhirnya Yara datang sendiri kerumah sakit dimana Vano dirawat, langkahnya memelan saat bertanya pada perawat yang berjaga soal letak kamar rawat Vano yang ternyata di ruangan VVIP berkoridor panjang.
hanya melihatnya sebentar saja, tidak usah masuk dan hanya melihatnya saja dari kaca pintu, tidak apa-apa kan? Yang penting kau sudah melihatnya baik-baik sajakan, jika melihatnya sudah agak baikan kau bisa langsung pergi Yara, ayo.. Kau pasti bisa. Sebentar saja.
Sambil melangkah hampir mendekati pintu itu, Yara terus bicara dalam hatinya sendiri, tangannya menggeggam tali tas kertas berisikan buah dan beberapa cake untuk nanti ia titipkan keperawat sesuai rencananya.
ia berdiri tegak di depan pintu, lalu menarik nafas panjang, debaran di hatinya belum berhenti sejak kakinya menginjak lantai rumah sakit ini, ia menghembuskan nafasnya kuat-kuat lewat mulutnya, lalu kakinya perlahan menjinjit untuk melihat kondisi didalam kamar sana lewat kaca yang ada di bagian atas pintu, walau hanya sedikit saja, itu di peruntukan agar bisa mengintip keadaan didalam kamar pasienkan? Fikir Yara.
Sudah sampai ingin menempelkan wajahnya ke kaca itu, Yara masih berusaha meninggikan kakinya yang berjinjit karna belum melihat apa-apa di dalam, sedikit lagi ia bisa melihat tempat tidur disana ketika tiba-tiba...
"kau harus masuk untuk melihat lebih jelas keadaannya. "
Suara yang tiba-tiba muncul di balik punggungnya, membuat Yara berbalik kaget dengan mata membelalak menatap wajah yang tertawa disana, ia sampai memegangi dadanya sendiri karna saking kagetnya jantungnya berdebar tidak normal.
Hahaha...
Devano tertawa geli, ia sampai memegangi tiang infusannya karna takut terjatuh menahan perutnya yang menggelitik.
"kak.. Kakak !. "
Rasa malu bercampur keterkejutan di wajahnya masih membekas, rona merah di pipinya nampak kontras dengan kulit putihnya, hal itu membuat Vano jadi terpesona dan menghilangkan tawanya seketika, ia menatap Yara yang kali ini tertunduk malu.
"kau datang? Kenapa mengendap endap begitu?, masuklah. "
Sambil mendorong tiang infusnya, Vano sudah meraih hendel pintu itu namun tiba-tiba Yara menahannya.
"tidak usah kak, aku hanya sebentar, maaf karna tidak bisa datang bersama rekan-rekan yang lain tadi, sepertinya kakak sudah baikan, ini. " sambil menyodorkan tas kertas yang di tangannya "semoga kakak cepat sembuh dan cepat keluar dari sini. "
Vano menatap Yara dengan tatapan tajam, gadis bodoh ini masih saja keras kepala, fikirnya.
"apa menurutmu aku terlihat baik-baik saja?. "
__ADS_1
Tatapan mereka masih saling mengunci, Vano menarik tangan Yara dengan tangan yang satunya, mendorong gadis itu masuk kedalam, membuat Yara sedikit terkejut dengan perlakuan Vano.
"kak..!. "
Vano berbalik menatap Yara dari dekat, ia tersadar kalau sendu tatapan mata Yara di tujukan padanya.
Masih saling berhadapan, Yara sempat ingin mengalihkan pandangannya tapi ia urungkan, karna biar bagaimanapun caranya, semua ini harus selesai, fikirnya.
"apa aku terlihat baik-baik saja? ".
tukas Vano, ia menghembuskan nafasnya perlahan, karna ia juga tahu menghadapi Yara yang sedang salah faham ini butuh beberapa waktu agar mereka tetap saling bicara baik-baik.
"kalau begitu aku akan pergi, biar kakak bisa istirahat dengan nyaman. "
Yara meletakkan tas kertasnya di atas nakas dekat ia berdiri, sebenarnya Vano sudah kesal, melihat Yara yang nampak acuh tidak ingin bicara perihal keresahan hubungan mereka, ia terus saja memaki dalam hatinya, namun kesabaran itu datang dikala ia tetap ingin memperthankan wanitanya.
"Anita dan aku, tidak ada hal yang harus kau cemburui, yang kau lihat saat di kedai kopi perpustakaan, kami tidak sengaja bertemu, kedai itu milik temanku, teman Darren juga, Anita datang karna tahu Darren akan ada disana, dia bertanya soal Darren padaku, sepertinya dia tertarik dengan Darren, makan siang yang dia bicarakan, aku tidak pergi, hanya mereka, karna Darren sedang di restoran seberang kedai bersama Gun. "
Kaki Yara nampak kaku, ada getaran aneh yang membuatnya malu, apa dia ketahuan soal pandangannya terhadap Anita? padahal yang sepertinya tahu kalau dia cemburu dengan Anita hanyalah Darren, namun ia cukup tau kalau kak Darrennya tidak akan sesumbar itu untuk mengadu pada Vano.
Apa aku sedang dikhianati?
Ia menghela nafas, kembali menatap Vano di hadapannya dengan wajah yang masih sedikit pucat.
"kakak tidak perlu menjelaskannya padaku, aku...
" benar, aku juga kesal kenapa aku harus menjelaskan hal tidak penting begini padamu, aku saja tidak peduli kenapa harus selelah ini menjelaskan urusan mereka padamu, tapi kau.. ". Tatapannya yang kesal pada Yara, sudah ingin menoyor kepala gadis bodohnya itu. " sikapmu yang membuat aku harus bicara dan menjelaskan semua ini, kau mengabaikanku dan kau bersikap dingin padaku, membuat aku sakit, kau yang membuat aku ada disini, apa kau tidak merasa bersalah padaku?. "
sambil menunjukan tangannya yang di infus, dengan intonasi suara yang sedikit direndahkan, Vano seolah masuk kedunia berbeda di mata Yara, apa ini karna dia sakit? Apa orang sakit bisa berubah secepat itu?.
"kakak pikir, aku bagaiman? Aku juga sakit kak, sampai tidak bisa berkata-kata lagi. "
Yara menunduk, tidak ingin menunjukan wajah sedihnya, lalu ia merasakan kalau Vano selangkah lebih dekat padanya, tiba-tiba tangannya di raih, Vano memegang telapak tangannya dan mere-mas nya penuh hangat, membuat Yara terhentak menatapnya dengan mata mengembang air mata yang belum jatuh.
"dimana? Dimana letak sakitnya? ". Bertanya dengan lembut. " apa disini? ".
Menyentuh dadanya sendiri dengan tangan yang ia genggam tadi, perbuatan itu hanya membuat Yara terpaku.
" kakak!. " dia menjatuhkan air matanya.
"aku tau, soal kata-kataku saat kau bertemu mamaku, pasti kau tersinggung dan merasa aku tidak tulus padamukan? maafkan aku, tapi aku punya alasannya. " sambil menghapus air mata di pipi Yara dengan jarinya, Vano menghembuskan nafasnya perlahan, bersiap untuk melanjutkan kata-katanya. " Yara... Apa kau mau tau alasannya? Jika kau bilang mau, datanglah kerumahku, aku mohon, datanglah dan bersiap melihat kesakitanku selama ini, disana kau akan menemukan, alasan kenapa sikapku yang namapak membencimu dari dulu. "
Kernyitan halus di mata dan dahi Yara nampak membingungkan, wajah Vano yang serius juga nampak aneh di tatapnya, ada debar takut yang berselimut di dadanya, kata-kata Vano mensugestinya pada ketakutan yang mungkin tidak bisa ia bayangkan, fikiran negatif memenuhi kepalanya, untuk beberapa detik ia merasakan kalau ia tidak bernafas tadi, kegalauan muncul, kemarin ia berharap Vano bisa mengajaknya kerumah orang tuanya dan mengenali keluarganya padanya sebagai bukti kalau pria ini tulus. Sekarang ia malah takut, melihat ajakan Vano yang memberi isyarat kalau nanti ia akan membuat pria itu kecewa padanya.
__ADS_1
Bersambung😊