Benci Yang Merindu

Benci Yang Merindu
cintanya Mario


__ADS_3

Malam yang datang hari ini seperti mendukung apa yang baru saja terjadi dengan perasaan Mario, ia di tolak mentah-mentah oleh Lisa dan itu membuatnya kesal sepanjang hari,tidak bisa menerima keadaan ini, karna fikirannya kacau akhirnya ia pulang menuju apartementnya dengan gundah gulana, ditambah hujan tiba-tiba datang menderas, seolah menertawakan dirinya di perlakukan bagai pecundang oleh wanita berambut pirang itu.


Sial


Umpatnya pada diri sendiri, ia melangkah keluar dari mobilnya setelah meninggalkannya di besmen apartement, sambil berjalan menuju lif, ia memegangi ponselnya dengan kesal dan cengkraman yang kuat, karna sejak tadi panggilannya terus di rijek oleh Lisa, pesan singkatnyapun belum di baca.


Helaan nafas panjang membuat hatinya berdenyut, sambil memikirkan cara bagaimana ia harus meluluhkan hati Lisa, tubuhnya bersandar di dinding lif yang sedang berjalan naik ke lantai 15 tempatnya tinggal saat ini.


Tingng..


Pintu lif terbuka, lorong yang mengantarkannya pada pintu miliknya nampak sepi, langkahnya sampai terdengar ditelinganya sendiri, ini lah alasannya kenapa ia memilih tinggal di apartement, karna yang tinggal disini kebanyakan orang yang mempunyai prifasi seperti dirinya, tidak akan saling ganggu dan kepo dengan kehidupan orang lain.


Tinggal beberapa langkah lagi kakinya akan sampai di pintu miliknya, tapi ia terkejut saat melihat ada seseorang yang sedang berdiri tepat di luar pintunya, tubunya kecil memakai switer berhody warna hitam, sedang menyender didinding dekat pintunya, seperti sedang menunggu kedatangannya.


Langkahnya berhenti saat kepala seseorang disana menoleh menatapnya, ada debaran halus menelusup pada hatinya yang tadi sempat gelisah, ia menghela nafas lega, Lisa memandangnya tanpa ekspresi tapi Mario tau,gadis itu pasti akan mengamuk padanya.


"kenapa tak mengangkat panggilanku?. "


Tukas Mario saat langkahnya sudah di hadapan Lisa, wanita itu menatapnya dengan sorot yang kesal dan juga marah, tapi Mario tak mau tau itu, ia hanya ingin gadis dihadapannya merespon apapun yang menjadi kepentingannya sekarang.


"kau itu idiot ya? Bisa-bisanya mempermalukanku di hadapan presdir dan ketua team, gara-gara kau sekarang di asrama banyak wartawan, untuk menyelinap saja aku susah sekarang. "


Lisa meninju pelan dada Mario, membuat laki-laki itu mundur setengah langkah, tatapan mata yang nampak lelah tercampur sendu pada wajah Lisa, membuat Mario sedikit merasa bersalah.


"apa kau sudah makan?. "


ucapnya pelan dan lembut


"jangan menatapku begitu Mar, aku tidak ingin kau mengasihaniku. "


"siapa yang mengasihani? Aku hanya peduli padamu. "


"makanya jangan peduli, kau ini kenapa sih, dengar ya, ciuman itu bukan apa-apa buatku, jadi berhenti bersikap seolah-olah kau menyukaiku atau apapun itu, jangan merasa terbebani, ok? ".


" tidak ok, enak saja kau bisa dengan mudah berkata begitu,kau fikir aku ini apa? Manusia tanpa hati?. "


"aku yang tidak percaya kalau kau menyukaiku. "


"aku menyukaimu lis, aku tidak pernah mencium wanita selain ibuku. "

__ADS_1


"katanya kau menyukai kak Nayy?. "


Sudah ingin membalas kata-kata Lisa, mulutnya sudah terbuka tapi suara dalam mulutnya tidak keluar, ia menatap Lisa dengan bingung, bukan karna tidak bisa menjelaskan perasaannya sekarang, tapi lebih pada takut kalau gadis ini tidak percaya apapun yang ia katakan nantinya.


cih.. Lisa tersenyum sinis, ia menganggap tebakannya benar, kalau Mario hanya menjadikannya pelarian setelah perasaannya pada Yara tidak tersampaikan.


"lihatkan, kau bahkan tidak bisa menyangkal kebenaran itu. " ujar Lisa lagi, ada nada sedikit kecewa pada kata-katanya.


"apa kalau aku menyangkalnya kau akan percaya? apa kalau aku jelaskan kau akan mengerti? Padahal kau yang lebih tau bagaimana perasaanku pada kak Nayy, aku menceritakan semuanya padamu Lis. "


Tatapan Mario yang terlihat sendu jadi bikin Lisa serba salah, sebanarnya yang dibilang Mario benar, tapi entah kenapa ia seolah ingin Mario kesulitan dengan penjelasan itu, seolah ia ingin Mario lebih berusaha lagi untuk terlihat nampak bersungguh-sungguh padanya.


Bagi Mario, Nayyara mungkin seseorang yang tidak bisa dilupakan dalam hidupnya, karna banyak kebaikan Nayy yang jika di ceritakan tidak akan habis seharian hanya untuk mengungkit kebaikan gadis itu, dan Lisa pun merasakan kebaikan Yara padanya, bagaimana sosok kakak perempuan yang hangat dan membuatnya berani mengambil sikap saat ini banyak sekali hasil tangan Yara dalam dirinya sekarang.


Contohnya dari kasus yang kemarin menyeretnya, hanya Nayy yang pasang badan untuknya, ia bahkan percaya hanya pada mulutnya soal perkelahian antara dirinya dan Gea, Nayy yang menemaninya dipersidangan sampai akhir, jadi sebenarnya jika Mario membelah hatinya untuk Nayy dan dirinya tidaklah terlalu membuatnya nampak cemburu.


Tapi, sikap Mario yang terlihat santai dengan ini, membuatnya kesal dan tidak percaya pada laki-laki ini kalau ia sedang jatuh hati padanya, ciuman itu bahkan membuat Lisa berdebar hebat, tapi Mario mengungkapkannya tanpa gugup sekalipun. Jadi sebenarnya dia bagaimana sih? Beneran jatuh hati padaku atau tidak? , fikir Lisa.


"ayo jadi kekasihku Lis, kita akan jadi pasangan yang cocok dan terhits di tahun ini, bagaimana?. "


Nah kan, baru saja Lisa berfikir soal sikap santainya laki-laki ini, sudah ditunjukan dengan kata-katanya yang sembarangan dan terkesan hanya ingin mengambil keuntungan dari hubungan ini.


Aawwww...


Tendangan keras tepat di kaki bagian tulang kering Mario membuat pria itu menjerit sampai memegangi kakinya dan meringis, Lisa yang kesal melangkah hendak meninggalkan Mario disana, sambil mulutnya bersumpah serapah menggerutu dengan sangat marah.


Langkahnya tiba-tiba berhenti karna tangannya di tarik Mario yang dengan susah payah mengejarnya tadi.


"kau mau kemana?. "


"tadinya, aku ingin bicara baik-baik denganmu, tapi sepertinya aku salah memutuskan bicara pada laki-laki tidak punya fikiran sepertimu. "


"Lis...


" aku tidak mau tau, bereskan gosip antara kita atau kau akan melihat ku bunuh diri dihadapanmu."


Sebenarnya itu hanya ancaman kekanak-kanakan Lisa, hanya untuk mengancam dengan konyol, tapi tiba-tiba Mario menarik lagi tangannya yang tadi masih di genggam laki-laki itu, seketika tubuhnya di peluk erat oleh Mario, ia sampai membelalak membeku tak bisa bergerak saking terkejutnya Mario melakukan itu padanya.


"jangan katakan hal mengerikan seperti itu Lis, maafkan aku jika aku membuatmu susah, aku hanya mengatakan apa yang aku rasakan saat ini terhadapmu, jika kau belum menyukaiku tidak apa-apa, akan aku katakan kalau cintaku bertepuk sebelah tangan padamu. "

__ADS_1


pelan, suara Mario di balik punggungnya, tapi entah mengapa ia bisa merasakan kalau pria itu nampak sedih mengeluarkan setiap kalimat dalam mulutnya, helaan nafas pelan Lisa mengurai dekapan itu, Mario tertunduk sendu, dan Lisa masih membeku, tak tahu harus menghibur apa agar Mario tidak bermuka masam seperti itu, sebersit rasa bersalah membungkus udara dalam hening yang cukup lama antara mereka.


#


"padahal aku sudah mengatakannya sungguh-sungguh, tapi kenapa dia tidak mengerti maksudku padanya sih. "


Sejak tadi Mario mengoceh di hadapan Darren, diruangan presdirnya yang kini sedang duduk menatapnya dari sofa kebangsaan yang ada didalam ruangannya.


Dari kedatangan Mario di pagi yang tidak seperti biasanya, bocah itu terus bicara setelah menyampaikan maksudnya akan merilis konferensipersnya soal hubungannya dengan Lisa yang beredar tanpa narasumber darinya.


Darren lega karna Mario akan mengakui cintanya yang bertepuk sebelah tangan itu, tapi dengan wajah yang sedih ia mengatakannya, seolah mengadu pada Darren dan minta dikasihani agar ia tahu kalau presdirnya mendukung perasaanya pada Lisa.


"kau harus bersabar Mar, semua butuh waktu, mungkin Lisa belum berdebar seperti dirimu. "


"cih, presdir bicara seperti sudah berpengalaman saja, haaahh... Aku fikir Lisa nampak mudah dan tidak begitu sulit untuk soal perasaan, padahal dia berjiwa bebas dan suka blak-blakan jika bicara, tapi ternyata hatinya sulit sekali bergetar, aku bahkan menciumnya dengan penuh keberanian. "


"kau menciumnya saat dia sangka kau sedang mabuk. "


"tapikan aku sudah jujur, aku tidak mabuk dan aku berterus terang padanya. "


"apa benar kau mencintainya?. "


Pertanyaan Darren yang langsung di sambut tatapan sinis oleh Mario, ia nampak tersinggung soal itu, kenapa tidak ada yang percaya kalau ia benar-benar sudah jatuh hati pada Lisa sih? sampai presdir sendiri mempertanyakannya, apa mereka tidak bisa melihat dari sikap dan pancaran wajahnya? Bahwa ia menunjukkannya dengan sangat terang-terangan dan terbuka.


"presdir, apa kau juga tidak percaya? Apa aku terlihat main-main?. "


Satu alis Darren naik, menatap Mario dengan raut tidak percaya, pasalnya anak itu memang tidak terlihat serius saat membicarakan cinta pada Lisa.


"aku saja yang laki-laki ragu padamu, apa lagi Lisa, kau terlihat tidak sungguh-sungguh dan juga sepertinya kau kurang meyakinkan kalau sedang jatuh hati pada seseorang, mungkin Lisa tidak melihat besaran cinta di matamu, coba kau bicarakan lagi dengannya dan ungkapkan apa yang ada di hatimu tentang dia, mungkin jika melihat keseriusanmu, dia akan sadar kalau kau mencintainya dengan tulus. "


Haaahh


Sebenarnya Mario merasa nampak menyedihkan, di nasihati oleh orang yang bahkan tidak punya pengalaman sekali saja dengan wanita, tapi kalau dipikir-pikir yang dikatakan Darren ada benarnya, mungkin ia kurang berusaha dan kurang menunjukan ketulusan di hatinya pada Lisa, kini Mario hanya bisa pasrah,mendengarkan apa yang disarankan padanya oleh Darren.


"satu lagi maslahmu Mar, saat ini, gosip yang belum kau konfirmasi saja sudah membuat para fensmu berkomentar negatif terhadap Lisa, jadi aku harap kau bisa melindungi nama baik Lisa jika memang kau ingin memilikinya nanti. "


Mario menyandarkan bahunya di sofa dengan lemas, kepalanya seketika ingat Lisa semalam yang pergi dengan wajah sendu dan nampak kesal padanya.


Bersambung😊

__ADS_1


__ADS_2