Benci Yang Merindu

Benci Yang Merindu
tatapan yang berubah


__ADS_3

Yara menelungkupkan wajahnya di atas meja kerjanya dengan tangan di lipat tertumpu disana, Medina yang sejak tadi mendesah beberapa kali menatap Yara nampak kesal dengan situasi mendung berkabut yang menguasi ruang kerjanya, ia melirik Alfian di depannya, melongok kedalam kubikel laki-laki itu agar Alfian menyadari interaksi isyarat dari matanya.


Benar saja, laki-laki itu menyadari sinyal radar dari Medi, melihat gadis itu menunjuk Yara dengan matanya, Alfian meninggikan bahunya, dengan bibir bawahnya yang di maju-majukan menunjuk ke arah pintu ruangan ketua team yang tertutup rapat, sepertinya orangnya belum datang, fikir mereka, apa Yara dan ketua teamnya bertengkar?


"kak Nay". Suara lembut yang memanggil sambil berlari itu dari mulut Mario, wajah Yara terangkat seketika, senyum melebar di bibirnya, membuat Medi dan Alfian agak merinding melihatnya, karna dua temannya itu merasakan atmosfir yang tidak berubah di ruangan ini meski Yara tersenyum lebar menyambut Mario.


" iniii..!. "


Mario menyodorkan satu buah majalah berukuran agak besar dan tebal, yang cover depannya wajahnya dengan pose sedang bermain gitar sambil mengenakan jaket kulit bermerk milik sponsor perusahaan terkenal, Mario sedang pamer pencapaiannya kali ini, ia jadi BA salah satu jaket kulit modern dengan merk perusahaan terkenal itu.


"waaahhhh ternyata bayiku semakin besar dan keren yaaa... Selamat, kau harus bangga pada dirimu, aku bahagia melihatnya. "


Tangan Yara menyentuh puncak kepala Mario, seperti yang sudah sering mereka lihat, Yara adalah orang yang membangun Mario sejak anak itu masih sangat minim rasa percaya dirinya, makanya kenapa Yara selalu memanggil artis-artisnya adalah bayinya.


"dia di bayar mahal untuk sekali pemotretan, dan kalian tau, pencapainnya terhitung bulan ini naik samapai 7 kali lipat, kau bisa memeriksanya di laporan keuanganku. "


Medina ikut nimbrung, semakin membuat Yara tertawa lebar kesenangan dan Mario bersemu merah saat wajahnya di usap oleh tangan Yara yang lembut dan hangat.


"kau hebat, kerja bagus, pertahankan nama baikmu ya, oh.. Jangan lupa kirimi ibumu dan beri kabar gembira ini pada keluargamu, ok. "


dengan patuhnya Mario mengangguk-angguk, ia juga sudah bertemu presdir tadi dan dapat ucapan selamat, bahkan ia di ijinkan untuk mentlaktir staf Yara dan teman-temannya untuk makan malam ini.


"kita akan makan malam bersama untuk merayakan ini, ayo cari restoran bagus kak Medi. "


Medina bersorak, Alfian ikut bersemangat, sepertinya ini akan menjadi pesta kesekian kali untuk merayakan keberhasilannya lagi.


"apa presdir sudah tau?. " tanya Medi


"tentu, kakak pikir aku berani bilang kalau belum dapat ijin. "


"baiklah, kalau begitu aku dan Medi yang akan mencari restoran yang enak dan nyaman untuk kita semua, ayo Med. "


Alfian keluar dari kubikelnya dan menarik tangan Medi dengan semangat, sepertinya kalau urusan gratisan Medi dan Alfian sangat kompak.


"tapi kan ketua team belum datang, apa tidak apa-apa kita keluar sebentar?. " Medi mengingatkan.


"tidak dengar ya? Mario bilang dia sudah dapat ijin presdir, itu artinya kita bisa reserfasi restoran sebelum jam makan siang, ayo. "


Langkah semangat Alfian membuat Medi ikut mengikuti langkah pria itu, tertinggal Yara dan Mario yang tertawa melihat kelakuan teman mereka itu.


"apa kakak mau minum kopi? Aku akan belikan di cafe bawah, tadi aku lihat ketua team ada disana sedang minum kopi berdua dengan pengacara cantik itu. "


Seketika senyum Yara hilang, ia menatap Mario dengan kernyitan halus di dahinya.

__ADS_1


"kau melihat siapa?. "


Tukasnya, ingin mendengar lebih jelas lagi, informasi mendadak dari Mario yang tidak ia duga.


"ketua team kita, ah pak Vano maksudku, dia sedang minum kopi bersama pengacara yang membela Lisa di sidang waktu itu. "


tiba-tiba ada yang berdesir tidak enak masuk kedalam dada Yara, ia menarik nafas perlahan yang nampak berat, tapi ia tidak ingin menunjukan wajah berubahnya pada Mario yang sedang senang hari ini.


"itu mereka. "


Yara yang sedang berdiri sejak tadi di hadapan Mario, kepalanya langsung menoleh saat Mario menunjuk dengan dagunya ke arah dimana ia berjalan tadi, terlihat Devano dengan tubuhnya yang tegap tinggi, memakai kemeja hitam bergaris halus putih, dengan dua kancing teratasnya di biarkan terbuka, rambutnya disisir rapih dengan menyisakan juntaian jambul atau poni yang namapak mengembang sedikit di dahinya, celana panjang abu-abu dan sepatu pantovel hitam mengkilat bersih namapak berjalan melangkah bersama kakinya, satu tangannya memegang gelas kertas kopi yang sepertinya masih hangat, ia nampak sempurna di mata siapapun yang memandangnya, termasuk Yara, saat ini saja ia terhipnotis pada tubuh yang dipahat hampir sempurana itu oleh Tuhan.


lalu pandangannya beralih pada Anita, wanita cantik nan elegant, terlihat dari sudut manapun dia nampak pintar dan cerdas, senyum yang selalu merekah dari bibir berlipstick mahal itu sangatlah manis dan menggairahkan, ditambah cara berjalan, berpakaian ataupun berdandannya, Anita seperti di ciptakan memang untuk bersanding dengan pria seperti Vano, dua anak manusia yang terlahir dengan sendok emas yang tidak bisa di ganti jalan ceritanya oleh siapapun termasuk dirinya.


Yara tersadar, setelah melihat mereka beriringan seperti itu, dirinya hanyalah sampah yang tidak bisa masuk kedalam golongan keluarga ningrat seperti mereka, malu rasanya, betapa bodohnya kau Yara, selama ini tidak sadar berjalan di sisi kak Vano hanya mempermalukan Vano dan dirimu sendiri.


Disaat Yara terpaku dengan pemikiran itu, matanya yang sejak tadi menatap Vano di sana tidak sadar kalau Vano juga menangkap tatapan penuh pertanyaan itu dari arahnya, tanpa ia sadari, Anita dan Vano sudah berdiri di dekatnya, tatapan Vano yang penuh tanya itu menyadarkan Yara dalam ketidak sadarannya yang sebentar tadi.


"sedang apa kau disini? Sedang menggangunya?."


Itu di tujukan pada Mario yang sejak tadi berdiri di sebelah Yara, belum apa-apa ia sudah di semprot dengan sinis oleh Vano.


"cih.. Justru aku menemani kak Nayy yang sedang kesepian tidak ada yang menemani disini, iyakan kak?. " Mario berpura-pura manja dengan kata-katanya.


Itu membuat Vano mengeraskan rahangnya saat melihat Mario nampak menempel pada lengan Yara.


Anita menyela karna melihat Yara sejak tadi diam tidak menyapanya.


"sedang reserfasi restoran, makan malam ini Mario akan merayakan pencapaiannya karna sudah ada gambarnya di cetak majalah remaja terpopuler bulan ini, dia menjadi sampul depannya dengan kerenkan?. "


Walau dengan senyum kaku dan nampak canggung,itu karna Yara memang tidak pernah bicara ataupun akrab dengan Anita, ia menjelaskan sambil menunjukan majalah yang tadi tergeletak di meja kerjanya.


Anita melihatnya, ia tersenyum bangga juga, dan memberi Mario acungan jempol satu tangannya.


"kau keren ". Tukas Anita


Sedangkan Vano sejak tadi menatap Yara di depannya, ia sadar, sejak tadi gadis itu seperti menghindari tatapannya.


" kenapa? ".


Sambil mencengkram lengan Yara, Vano bertanya pada gadis itu dengan tiba-tiba, membuat Anita dan Mario keheranan melihatnya, mereka sampai berbarengan berkernyit menatap Vano dan Yara bergantian.


" em, kak..!. "

__ADS_1


Dengan hati-hati, Yara menyentuh cengkraman yang menguat pada tangannya, ingin menyingkirkannya, sambil melirik tidak enak pada Mario dan Anita yang pastinya kebingungan melihat sikap Vano yang tiba-tiba padanya.


Tapi Vano tidak peduli, bukan Vano namanya jika tidak bertindak sesuai apa yang ada dalam fikirannya, kali ini ia berasumsi kalau ada yang tidak beres dari tatapan Yara barusan, dan ia ingin tahu kenapa.


"jangan membuat aku bertanya dua kali, cepat katakan ada apa?. "


Yara meringis kesakitan, Anita sudah ingin meraih cengkraman Vano untuk memisahkan tapi ia kalah cepat oleh Mario yang ternyata lebih dulu menepis tangan itu sekuat tenaga hingga terlepas. Mario kini menyembunyikan Yara di balik punggungnya.


"kau menyakitinya pak. "


Greb..


Seketika tangan yang tadi untuk mencengkram Yara berpindah pada kerah baju Mario, gelas kopi di tangan yang satu lagi sudah terhempas jatuh di bawah kaki Anita, Vano menatap Mario dengan sangat galak dan rahang mengeras, Anita dan Yara di buat panik melihat Mario tergagap di perlakukan tiba-tiba oleh Vano.


Yara maju meraih tangan Vano dan menyuruhnya melepaskan Mario.


"berhenti kak, apa yang kakak lakukan? Lepaskan Mario. "


Sambil berusaha melepaskan tangan Vano dari kerah baju Mario, Tatapan mereka akhirnya bertemu.


"kau membuatku semakin ingin memecahkan kepala anak ini tau. " tukasan Vano sepertinya tidak main-main, tapi melihat wajah Yara yang meringis sekuat tenaga untuk membela Mario dari cengkramannya, akhirnya Vano menghempaskan Mario hingga bagian belakang Mario terbentur sekat kubikel milik Yara, Mario terbatuk-batuk.


Kali ini Yara yang menatap Vano dengan berani dan marah, setelah melihat Mario di perlakukan seperti itu oleh ketua teamnya sendiri tanpa alasan yang jelas.


"apa maksud kakak? Memangnya aku kenapa? Mario juga tidak tau apa-apa, sebenarnya apa yang membuat kakak marah?. "


"kau..!. ". Ucapnya, sambil terus mendekat menatap Yara dan berhenti tepat diwajah Yara, sampai nafasnya pun terasa sangat mengiris-iris kulit wajah Yara. " kau menatapku berbeda tadi, seolah acuh dan tidak ingin melihatku lagi, itu sebabnya aku bertanya kenapa?. "


"jadi hanya kakak berfikiran seperti itu makanya kakak bersikap aneh seperti ini? Semua itu bisa jadi hanya pemikiran sepihak kakakkan?. "


"kalau begitu katakan dengan benar kalau apa yang aku fikirkan salah. "


Yara diam, ia menelan ludahnya yang nampak serat turun ketenggorokannya, nyalinya sedikit bergetar saat menatap tatapan Vano yang tajam padanya.


"lihat, aku benarkan? Ada sesuatu yang kau fikirkan di kepalamu tentang aku, aku sangat mengenalmu Yara, sampai aku hafal raut di wajahmu. "


Senyum sinis yang tinggi menghiasi sudut bibir Vano, jeda membuat jarak antara mereka, Yara sendiri sedang mempersiapkan dirinya untuk tidak menunjukan perasaan apa yang sebenarnya sedang ia alami saat ini.


"kakak tanyakan pada diri kakak sendiri, bagaimana mungkin aku bisa berfikir seperti ini setelah semua yang kakak beri padaku, bukankah harusnya aku hanya menurut saja?. " Yara menghela nafas, menghembuskannya keras " tolong jangan begitu lagi pada Mario, meski kakak tidak ingin meminta maaf padanya aku akan melewatkannya untuk kali ini, aku harap kakak menjaga sikap sebagai ketua team kami, kita akan bicara lagi nanti, setelah kakak selesai dengan tamu kakak. "


Sambil melirik Anita, Yara lalu meraih tangan Mario, menyeretnya untuk memaksanya mengikuti langkahnya meninggalkan tempat kerjanya, Mario hanya manut tidak berkata-kata, hanya tatapan bingung mengiringi kepergian mereka, Vano yang tadinya sudah ingin meraih lagi lengan Yara di hentikan cepat oleh Anita, wajahnya semakin mengeras sudah ingin melampiaskan kemarahan lagi pada wanita itu.


"kalian akan bicara berdua nanti, tapi tidak dengan emosimu yang masih menyala Van, percayalah, Nayy hanya tidak ingin kalian bertengkar. "

__ADS_1


Kata-kata Anita membuatnya membiarkan Yara pergi dengan menuntun Mario, semakin di lihat dan diingat, ia semakin kesal, pada akhirnya ia menendang meja kerja Yara sampai bergeser, mebiarkan beberapa barang jatuh berserakan, lalu ia melangkah pergi menuju ruangan Darren, Anita menghela nafas lesu, sepertinya pengejarannya pada Vano selama ini tidak akan berbuah manis.


Bersambungâ˜ș


__ADS_2