Benci Yang Merindu

Benci Yang Merindu
pulang


__ADS_3

Hari merangkak dengan cepat, jam berputar sewajarnya namun kian terasa cepat waktu berganti, setelah insident kecelakaan Vano, semua memutuskan untuk berhenti bermain air, alhasil mereka semua pulang sebelum waktu yang dijadwalkan.


Namun gantinya adalah, Darren mengajak mereka semua untuk jalan-jalan ke pusat kota, dimana tempat surganya para pelancong yang ingin berbelanja oleh-oleh atau sekedar cuci mata icip-icip jajanan yang berjejer di pinggir jalan, biasanya mereka akan antusias saat sudah melihat, karna mata mereka di manjakan dengan aneka makanan unik dan pernak pernik berkilau yang nampak menggoda untuk di bawa pulang kerumah.


Medina dan Alfian sudah berlarian kesana kemari saat melihat barang-barang discount berjejer di etalase pedagang, Mario, Lisa, dan Gun masuk ke beberapa butik bermerk dan mampir ke cafe sore bernuansa senja dengan live musik di dalamnya, Mario ingin bernyanyi menghibur diri sendiri dan teman-teman yang mungkin bisa melihatnya dengan gratis, entahlah, apakah disini namanya cukup terkenal?


Lisa dan Gun hanya memperhatikan, sambil sesekali mengobrol hal remeh temeh tentang pekerjaan atau hobi masing-masing.


Di lain tempat, Moana yang tampak tak bersemangat berjalan sendirian, duduk di taman terbuka yang banyak orang berlalu lalang menikmati senja yang menguning indah di langit.


Tanpa sepengetahuannya, sepasang mata menatap lurus memperhatikannya sejak tadi, dari balik kaca matanya, Darren mengikuti Moana sejak tadi karna ia tahu, ada sesuatu yang menyakiti hati gadis itu sejak saat tadi ia keluar dari ruangan dimana Vano di rawat sementara.


Yah.. Ini memang hanya sekedar kekhawatiran Darren saja, karna ia tidak ingin Moana mabuk seperti kemarin malam, atau melakukan hal-hal yang bisa merugikan agensi atau pekerjaannya, biar bagaimanapun, sejak kasusnya naik waktu itu namanya cukup di kenali oleh orang-orang.


Darren memutuskan untuk menghampiri gadis itu, wajahnya tak terbaca, tapi Darren tahu Moana sedang patah hati karna perasaannya yang bahkan belum ia tampakkan itu sudah kandas karna melihat kenyataan yang ada.


"tidak dingin? Disini anginnya lumayan kencang loh, dengan pakaian lengan pendek begitu kau bisa masuk angin nanti. "


Tukasan Darren membuat Moana yang sedang melamun tadi mengangkat kepalanya, ia langsung melihat wajah Darren yang berdiri di hadapannya saat ini.


"presdir ! ".


Darren tersenyum, ia duduk di sebelah Moana yang matanya mengikuti gerakannya beberapa saat tadi.


" presdir sedang apa disini? ".


" memangnya kamu sedang apa? ".


" aku hanya berjalan-jalan, ingin melihat pemandangan. "


"pemandangan apa? ".


Mata laki-laki itu menatap kesekelilingnya yang hanya ada banyak sekali pejalan kaki dan stand food jajanan di pinggir jalan dekat taman.


Moana ikut mengelilingkan matanya, dan tersadar kalau Darren pasti tidak bisa menangkap pemandangan apa yang ia maksud, ia memang terkesan mencari alasan untuk dirinya sendiri.


Helaan nafas lesu keluar dari mulutnya, sepertinyaia sudah tertangkap basah oleh presdirnya ini.


"aku berharap kau baik-baik saja Mo, jangan biarkan fikiranmu mengacaukan focusmu pada karir yang baru kau bangun, ingatlah, kedua orang tuamu mendukungmu sekarang. "


Darren bersandar pada bahu kursi yang mereka duduki, kini matanya benar-benar menatap pemandangan di hadapannya, pejalan kaki, anak-anak yang berlarian sambil tertawa, dan ada beberapa orang bersepeda mengelilingi taman kota, ah.. Keramaian ini membuat Darren ingin pulang kekampung halaman, sebentar ia teringat ayahnya disana.


"aku baik-baik saja presdir, memangnya apa yang kau cemaskan?. "


"aku bisa melihatnya, kau tau kan kalau aku sepeka itu, jadi jangan berusaha berbohong padaku, kau boleh tidak mengatakannya tapi jangan coba-coba menyangkalnya di depanku. "


Senyum meledek Darren membuat Moana nampak salah tingkah karna ketahuan.


"ah, presdir, seharusnya diam saja, dengan begini kau membuatku malu tahu. " Moana mengerucutkan bibirnya.


"Aku, Nayyara dan Devano, sudah sejak SMA bersama, banyak cerita yang tidak kau ketahui tentang bagaimana Nayy dan Vano melewati kebersamaannya dengan sangat susah payah, kini melihat mereka akhirnya jujur dengan perasaanya masing-masing membuat aku lega, karna aku saksi hidup perjuangan mereka. "

__ADS_1


Moana hanya terdiam mendengarkan Darren bercerita singkat tentang masa lalunya, fikirannya kini penuh tanya, apakah presdirnya ini pernah juga tertarik dengan Nayyara? Karna yang awalnya terlihat sangat dekat dengan Nayy ya presdirnya ini kan?


"presdir, apa presdir pernah menyukai kak Nayy juga? ".


Sentakan terkejut terlihat dari netra mata berkaca mata itu, namun sedetik berikutnya Darren hanya tersenyum manis, ia menatap Moana gemas.


" kalau kau jadi aku apa seharusnya kau menyukai Nayy? ".


" hm? Aku merasa kak Nayy memang cukup baik dan manis, waktu pertama kali mengenalnya aku saja yang wanita langsung menyukai kepribadiannya, dia selalu nampak hangat dan menolongku di masa-masa sulitku, siapa yang tidak bisa jatuh hati padanya. "


"benar, dia sehangat itu sekarang. "


Darren seperti berfikir, ia mengingat kembali wajah Yara yang sendu dan selalu redup dulu.


"berarti presdir pernah menyukai kak Nayy ya? "


"aku menyukainya seperti adikku, sama seperti aku menyukaimu. "


"jangan bohong. "


"cih, semua orang yang mengenalku tau kalau aku peka terhadap perasaan, aku tau Vano dan Nayy saling jatuh hati jadi aku sudah membatasi diriku untuk tidak baper atau menaruh perasaan padanya, kau boleh tidak percaya tapi aku lebih faham perasaanku sendiri. "


Hihihi, Moana tertawa, melihat Darren yang begitu tenang saat menjelaskannya terlihat lucu di mata gadis itu, ia sampai berfikir, kok ada ya pria se-slow ini menjalani hidupnya, apa dia tidak pernah merasakan jatuh hati pada seseorang.


"presdir pernah menyukai seorang gadis tidak? ".


Darren mnatap Moana lekat, gadis itu mengingatkan kembali pada masa lalunya, ah...benar saja, ia lupa apakah ia pernah menyukai seorang wanita dalam hidupnya?, kekecewaannya pada wanita yang harusnya ia panggil dengan sebutan ibu , melukai hatinya hingga ia belum bisa menerima wanita siapapun masuk ke dalam hatinya yang terdalam.


di Villa, hanya Yara dan Vano yang tidak ikut pergi keluar dengan yang lain, itu karna Vano terus merengek meminta Yara merawatnya dengan alasan lukanya masih terasa sakit membuat kepalanya pusing dan badannya terasa nyeri.


Dan Yara di paksa Darren untuk menuruti saja permintaan tuan besarnya itu, daripada moodnya berubah jelek membuat ia dan team yang lain kena imbasnya nanti, alhasil ia lebih baik mengorbankan Yara untuk melayani Vano dalam mode posesif seperti itu.


"kakak harus memakan buburnya, kakakkan harus minum obat dalamnya. "


Yara meletakkan nampan berisi mangkuk bubur dan segelas air di atas meja, di piring kecil ada obat-obatan yang harus di minum Vano, sedangkan pria itu masih berbaring dengan selembar selimut di sofa, matanya terpejam tapi tidak tertidur, karna ia masih tersenyum melihat Yara masuk tadi.


"kemarilah".


Perintahnya dengan tangan terulur menyuruh Yara mendekat padanya.


meski Yara ragu melangkah, tapi ia tidak ada keberanian untuk menolak, karna ia tidak mau Vano jadi marah atau kesal padanya, rasanya lelah sekali mengikuti kemarahan laki-laki yang sedang mode manja seperti Vano.


tangan yang terulur tadi langsung menangkap tubuh Yara, memaksa Yara berbaring bersamanya, wajah gadis itu tiba-tiba bersemu karna kaget dengan perlakuan Vano sekarang, untung saja yang di hadapan wajahnya saat ini adalah dada bidang Vano, kalau wajahnya Vano mungkin Yara sudah ketahuan sedang malu-malu dan berdebar.


Pelukan hangat dengan lingkaran tangan Vano yang mengerat terasa sangat nyaman, bau maskulin dari tubuh Vano membuat Yara mengendus halus pada tubuh itu, ah.. Wangi kak Vano yang tidak pernah berubah ini membuat isi kepalanya mengenang masa lalunya dulu, saat-saat masih di sekolah dan Kak Vano yang selalu menyuruhnya ini itu dengan wajah jahat tapi mengemaskan.


Senyum senang terukir di bibir Yara, ia tidak tau kalau sejak tadi Vano membuka matanya sedikit dan melihat tingkah Yara dengan gemas.


"apa yang kau fikirkan?. "


"hah? Apa? ". Refleks Yara mendongak, ada wajah Vano yang menatap dengan sumringah di bibirnya, seperti sedang menertwakan tingkahnya.

__ADS_1


" eh, kak Vano, aku hanya sedang mengingat masa lalu kita, rasanya seperti musthil untuk aku bisa sedekat ini dengan kakak jika melihat sikap kaka dulu. " Yara nyengir, tangannya mengusap-usap dada Vano dengan lembut.


"kau sedang merencanakan balas dendam denganku ya? ".


Kening Yara di dorongnya pelan dengan telunjuk, gadis itu menggeleng dengan cepat.


" mana berani aku melakukan itu, kakak sudah sangat baik padaku sekarang saja aku sangat bersyukur. "


Refleks kedua tangannya melingkar ke pinggang Vano, mereka sudah tenggelam dalam selimut yang sejak tadi hanya menutupi sebagian tubuhnya.


"anggap saja aku sedang menagih hutangmu, kau harus membayarku dengan benarkan?. "


Memeluk punggung Yara dengan erat.


"apa kalau hutangku sudah lunas kakak akan membuangku?. "


Entah kenapa kata-kata pertanyaan seperti itu meluncur saja lewat mulutnya, ia hanya memikirkannya tadi dan langsung saja bibirnya bergerak menyampaikannya, ia tidak tahu hal itu bisa membuat Vano kaget dan mengendurkan pelukannya.


"apa kau fikir hutang-hutangmu bisa membuat aku berfikiran akan mengaggapnya lunas semudah itu? Dengar Yara, aku merasa kau harus membayarnya seumur hidupmu, mengerti?. "


Yara terduduk setengah berbaring, ia menatap Vano dengan tatapan intens.


"lalu apa yang akan kakak lakukan padaku? Apa aku boleh berharap kakak melakukan hal yang lebih padaku?. "


"hal lebih apa?. " Vano menantang dengan tatapan mata yang sama-sama menyalak.


"aku tidak mau menjadi perawan tua. "


Suara Yara langsung merengek dan wajahnya di buat cemberut.


"ck, kau ini, kita baru saja menjalin kedekatan seperti ini, kepalamu langsung memikirkan yang aneh-aneh. " dua jarinya ditautkan untuk menyentil kening gadis itu, Yara meringis kesakitan.


"setidaknya aku punya bayangan jika kakak hanya ingin melakukan kedekatan seperti ini saja denganku, kakak bahkan tidak menyatakan cinta padaku, mana berani aku berfikiran jauh atas hubungan seperti itu. "


Vano ikut duduk, mereka benar-benar saling menatap sekarang, ada helaan nafas sedikit pada mulut Vano, sepertinya ia kesal karna Yara begitu bodoh.


"dengar, kau tidak akan jadi perawan tua, kau akan bersamaku seumur hidupmu, kau kan harus membayar hutang-hutang kebaikanku, sepulang dari sini, kau harus bersiap, karna mungkin orang tuaku akan.....


hhaappss..


Seketika Yara menutup mulut Vano dengan tangannya, gadis itu juga kaget dengan perbuatannya yang refleks karna mendengar kata oranga tua dari mulut Vano, sungguh Yara tidak bermaksud sampai melibatkan orang tua Vano atas hubungannya saat ini, yang tadi itu ia hanya mengetes seberapa besar Vano menginginkannya.


"ka.. Kakak, kenapa harus bawa-bawa orang tua, akukan hanya mengetes kakak saja sejauh mana kakak menginginkanku. "


Panik sendiri, dan itu terlihat lucu di mata Vano, pria itu langsung menangkap tubuh Yara, membuat Yara berada di atasnya kini, sedangkan Vano berbaring seperti tadi masih di atas sofa.


"ayo pulang, agar kau tahu jawabanku sejauh mana aku menginginkanmu. "


Satu tangannya menekan belakang kepala gadis itu, membuat bibir Yara menyentuh bibir Vano yang sudah siap melahapnya, satu ciuman panjang kembali terulang di hari itu.


Bersambung😊

__ADS_1


__ADS_2