
Dua hari, Devano berada di rumah, tepatnya di dalam kamar mendiang adiknya, setelah bertengkar dengan Yara yang sampai saat ini pun tidak menelfonnya atau sekedar bertanya keadaannya, Vano hanya tenggelam dalam kenangan pahit mengingat sang adik, meski ia tidak bermimpi menyakitkan seperti biasa, tapi ia merasakan ada luka yang kembali menganga dalam relung hatinya.
Mengapa perasaan ini begtu rapuh pada orang yang dia ingin miliki? Mengapa harus benci yang mengawali semua cerita yang ia rajut untuk Yara, apakah gadis itu benar-benar melakukan keasalahan sebesar itu? Kenapa harus ada yang pergi? Kalau saja Brian hanya sakit atau celaka sedikit, mungkin Vano bisa mentolerir kebencian ini, tapi... Yara telah membuat Brian pergi untuk selamanya, apakah pantas gadis itu mendapatkan kebahagiannya?
Aku sangat mencintainya Bri, aku mencintainya sampai-sampai aku ingin melupakan kesakitanmu terhadapnya. Maafkan aku Bri.
Hanya itu kata-kata yang dapat ia ucapkan pada adiknya, lewat udara kosong yang selalu ditatapnya.
Ketukan kesekian kalinya dipintu membuat akhirnya ia bangkit dari pembaringannya yang panjang, sejak kemarin ia tidak makan dan hanya makan potongan-potongan buah yang di sediakan bibi karna di paksa mama untuk menaruh makanan apa saja asal mau di makan, ia tahu mamanya khawatir, tapi diamnya ia juga bukan sesuatu yang akan mamanya paksakan untuk mengorek informasi ada apa dengan anaknya satu ini.
Persepsinya hanya satu, kalau Vano sedang bertengkar dengan kekasihnya, tapi di lihat dari cara protesnya Vano dengan mogok makan dan mengurung diri di kamar, bukankah maslahnya cukup berat? mamanya sampai bertanya pada Darren kemarin, apakah Vano sudah putus dengan Yara? Dan Darren yang juga tidak tau apa-apa jadi ikutan khawatir pada tuan mudanya satu itu.
"Van, mama bikinin bubur ya? Kamu pucat sekali. "
Tangan mamanya menyentuh kening anaknya yang lemas tak bertenaga, tapi yang Vano rasakan hanya sedikit pusing lalu tiba-tiba buram menyelimuti pandangannya.
"aku lelah mah, aku...
Brug..
" VANOOO... BIBIIII.... Siapa saja toloongngng...!. "
Tiba-tiba tubuh Vano jatuh terkulai lemas, mamanya yang langsung memeluk saat itu nampak khawatir dan refleks teriak, sambil terus memanggil-manggil nama Vano dengan cara menepuk-nepuk pipinya pelan, Vano belum juga bangun, sudah hampir ingin menangis sang mama melihat bibi tergopoh-gopoh lari dari anak tangga tadi menghampirinya, di susul sang sopir pak Min yang tadi ikut mendengar teriakan Nyonyanya dan langsung ngacir memasuki rumah.
Semua orang panik memanggil nama Vano, sedangkan tubuh lemas itu hanya melihat gelap dengan suara dengungan orang yang semakin menjauh meninggalkan kesadarannya dan terlelap.
#
__ADS_1
"katanya ketua team sakit Nayy, kamu tau? ".
Alfian menghampiri kubikel Yara yang sejak tadi melihat gadis itu seperti biasanya focus dalam bekerja, kaca mata kerjanya sudah bertengger tidak bergerak didepan layar komputernya yang menyala, ada beberapa berkas juga yang menunggu di mesin print, Alfian hanya menoleh saat mesin itu berbunyi, lalu kembali menatap Yara dengan tanya besar di wajahnya.
" sudah, tolong sampaikan salam ku jika kalian berencana ingin menjenguknya sore ini, aku tidak bisa ikut karna ayahku juga sedang kurang sehat akhir-akhir ini. "
hanya melihat Alfian sebentar, Yara kembali berkutat dengan jari-jari yang menari di tuts komputernya, ada yang aneh pada gadis ini, fikir Alfian, apa mereka bertengkar ya? Lanjut pemikirannya lagi, lalu perhatiannya teralihkan pada kursi Medi yang kosong, gadis itu mungkin tahu, tapi sayangnya Medi sedang kerja di luar mengantar Moana.
akhirnya Alfian menanyakan soal pekerjaan lain, setelah sedikit berdiskusi ini itu ia kembali ke meja kerjanya, saat itulah Yara menghela nafas, tangannya berhenti bergerak beberapa menit, ia kembali mengingat Darren yang sejak kemarin menemuinya dengan wajah khawatir.
"tuan Vano sakit Nayy, ikutlah bersamaku kerumah sakit sekarang. "
Tangannya sudah di raih Darren saat itu namun laki-laki itu tersentak kaget karna Yara kembali menarik tangannya dengan wajah tidak bisa ia tebak sedang memikirkan apa?
"maaf kak, aku tidak bisa, aku rasa lebih baik seperti ini, aku hanya tinggal menunggu kak Vano membuangkukan?. "
Yara menunduk, mengatakan semua itu rasanya sangat sakit, tapi ia tidak ingin merasakan yang lebih sakit lagi jika harus mendengar kata-kata membuangnya langsung dari mulut Vano nanti, lebih baik ia sadar diri dan berfikir seperti itukan.
"kak...
" soal orang tua Vano, aku rasa kalian harus membicarakannya lebih terbuka agar tidak terjadi salah faham antara kau dan dia, percayalah Nayy, kau dan Vano sangat di harapkan bisa bersatu oleh paman dan Nyonya. "
Darren semakin menekankan penjelasannya, tapi Yara sama sekali tidak membantahnya dan tetap pada wajah sedih menahan gejolak pemikirannya sendiri.
"aku tidak bisa menemuinya. "
"kenapa?. " tatapan Darren menajam
__ADS_1
"kami bertengkar di akhir pekan kemarin, dan aku memintanya membuangku. "
Lalu tak ada sanggahan apapun yang Yara terima dari kata-katanya itu, Darren sangat menyayangkan hal seperti itu bisa tetjadi di antara Vano dan Yara, karna butuh waktu lama untuk Vano menyadari perasaannya yang sejak dulu ada untuk Yara, tapi kenapa hanya karna ego masing-masing mereka saling menyakiti seperti ini? sungguh Darren tidak habis fikir.
Kini perasaanya semakin kalut dikala kabar Vano yang jatuh pingsan sampai dibawa kerumah sakit itu, membuat Yara yang tadinya terserang panik tiba-tiba harus menampar wajahnya sendiri untuk tidak terlalu khawatir mendengar apapun yang berhubungan dengan Vano sekarang, karna itu hanya akan mempermalukannya sendiri.
Dia saja tidak menelfon atau memberi pesan padamu Yara sejak pertengkaran kalian, jadi jangan berfikir dia menginginkanmu datang untuk melihatnya, kebenciannyamasih terlalu besar untukmu.
Menghilang, sepertinya itu yang ingin Yara lakukan, tapi ia juga tersadar akan kebutuhan hidup yang tidak akan mudah ia jalani sendirian tanpa pekerjaannya saat ini.
Kini dilema menyerang, di satu sisi ingin pergi agar bebas dari kebencian Vano, di sisi lain ia belum ingin meninggalkan pekerjaan yang dicintainya selama ini, ah.. Mungkinkah itu hanya salah satu dari bagian alasannya yang ingin tetap menatap Vano meski dari jauh?.
dan jadilah seharian ini Yara kehilangan focusnya bekerja, ia sampai salah memberikan Alfian laporan grafik jadwal acara yang akan di lakukan salah satu artisnya di bulan ini, dan beberapa kali salah mengetik laporan yang harus ia serahkan kepresdir terkait keuangan artisnya yang sedang naik daun tahun ini.
Semuanya jadi kacau karna yang ada di kepala Yara saat ini hanyalah wajah Vano, pertanyaan apakah pria itu baik-baik saja atau tidak? Dan bagaimana kondisinya sekarang adalah hal yang sebenarnya ia ingin dengar atau ketahui saat ini.
Sampai di jam sore menjelang pulang kantor, disaat semua orang berencana datang menjenguk ketua team mereka, disaat satu persatu semua orang meninggalkan pekerjaannya hari ini, Yara menghilang dari pandangan Alfian dan Medi yang mencari-carinya sampai menelfonnya sejak tadi.
Yara masih di gedung kantornya, berada di ruangan tangga darurat yang akan di gunakan siapa saja jika lif kantor mati.
Ia duduk dengan kedua kakinya menekuk, melipat sejajar dengan wajahnya, hingga tangannya bisa tertumpu pada kedua kakinya itu, memeluk lututnya sendiri, airmata yang sejak tadi menyiksanya kini tumpah ruah tanpa ia tahan lagi, isakan yang mengeras dengan sebelah tangannya kini terkepal memukul-mukul dadanya sendiri, mencoba mengusir rasa sakit dan rindu yang berbaur jadi satu.
Aku ingin menatapnya, memeluknya jika boleh, tapi kenapa sepertinya sulit untuk meraihnya dengan kesadaran sendiri, aku harus bagaimana? Aku ingin melihatnya dari dekat, kenapa aku sangat merindukannya?.
Aaaahh... Bodoh, huuuhuuu hiks..
Jerit Yara, meski kata-katanya hanya ia ucapkan dalam hatinya, tapi jerit tangisnya menggema disana, membuat siapapun yang mendengarnya akan ikut merasakan pilu yang teramat menyayat dalam dadanya.
__ADS_1
Pedih, isakan itu masih ada, masih merenungi luka dalam hatinya yang tersiksa oleh rindu, jauh disana Vano mungkin mersakan sakit sampai ketubuhnya, disini Yara merasakan sakit lewat hatinya.
Bersambungâș