
"kamu siapa?. "
Gadis berkuncir satu dengan senyum yang manis menatapa Gun yang nampak terpesona pada wajah wanita di depannya, sepucuk surat di tangannya hampir lupa ia berikan, pesan dari Brian yang tidak pede menampakkan diri pada orang yang selalu diceritakannya ini.
"aku Gunazel, kakak yang namanya kak Nayyarakan?".
Sepasang mata berbulu mata lentik itu berkernyit halus, menatap Gun dari atas sampai bawah dan tersadar kalau seragam sekolah yang dikenakan anak itu sama dengan seorang anak yang ia kenal.
" kamu temannya Brian? ".
Gun mengangguk, lalu menyodorkan kertas yang tadi di tangannya, Yara menerima dengan rasa bingung, membukanya perlahan, masih sambil menatapi Yara,Gun tidak berkedip meski gadis itu sedang menghela nafasnya.
" Briannya kemana?. "
"pulang duluan kak, katanya dia tidak enak sama kakak soal tas kakak yang ditariknya sampai putus, mungkin dia fikir kakak akan marah padanya. "
"bilang padanya aku tidak marah, besok suruh dia temui aku ya, tali tas nya sudah di jahit oleh ibuku."
Merekahnya senyum di bibir Yara lah yang membuat Gun terhipnotis kesekian kalinya, ia benar-benar tidak habis fikir kenapa ada gadis secantik dan sebaik ini di hadapannya, namun sayangnya Brianlah yang lebih dulu mengenalnya, kenapa bukan dia? Fikirnya.
Sejak saat itu, Gun selalu menjadi teman yang setia menemani Brian dan Yara bertemu, bermain sepeda bersama dengan Yara yang selalu di bonceng oleh Brian ke tanah lapang dekat komplek perumahannya.
Mereka bertiga sering menghabiskan waktu bersama hingga kejadian tidak menyenangkan itu terjadi.
"tolong bilang pada Brian aku tidak bisa datang. "
Yara menyerahkan surat kecil untuk Brian, sebuah pesan balasan yang mana sebelumnya ajakan Brian untuk bertemu di pasar malam yang ada di tanah lapang dekat komplek rumahnya.
"kenapa kak? ".
" besok ulang tahun ibuku, bilang saja padanya kita bisa pergi bersama di lain waktu ya. "
Gunazel hanya tersenyum dan mengangguk pada Yara, ia pergi dengan hati bahagia karna rencana Brian tidak akan terlaksana sebagaimana yang bocah itu rencanakan sebelumnya.
__ADS_1
"mau menyatakan perasaan apanya, heuh.. Kak Nayy mana mau dengan laki-laki ingusan sepertimu Bri. "
Sambil mengayuh sepedanya, Gun pergi menuju tempat les Brian, dimana sebelumnya mereka telah berjanji akan bertemu di sana untuk menyampaikan hasil pesan surat yang di titipkan sebelumnya.
Brian belum terlihat, Gun menunggu di bangku taman kecil dengan sepedanya yang terparkir di bawah pohon, tiba-tiba ide jahilnya muncul, ia akan menulis surat balasan untuk Brian yang seolah-olah itu dari kak Nayy yang ia harapakan, sambil meniru tulisan Yara, Gun tertawa membayangkan reaksi Brian nanti, pasti bocah itu akan sangat kesenangan, fikirnya.
Benar saja, Brian tertawa senang saat menerima balasan surat yang telah di tukar oleh Gun, ia hanya tersenyum melihat Brian yang sampai melompat kegirangan.
Bagaimana rasanya, kalau kau tau kau tidak bisa memiliki semua yang kau inginkan?.
#
Kini lelaki itu menatap gadis yang sedang termenung sendirian, dimana kecantikannya tidak pudar walau usia mereka telah beranjak dewasa, perasaan kecil Gun dulu, masih tetap ada pada Yara saat ini, walau hanya menatap dengan takjub, baginya, meski ia tidak bisa memilikinya, pria manapun tidak bisa mendapatkannya bukan? Segila itulah dirinya saat ini.
"kak Nayy..!. "
Yara menoleh, kopi dinginnya nampak mengembun di permukaan gelas, seulas senyum di bibir pria yang nampak gagah dengan balutan kemeja coklat dan jas senada yang di biarkan kancingnya terbuka itu menghampirinya dengan tenang, padahal ia tahu kalau Vano baru saja meninggalkan tempat ini.
"Gun?. "
"kenapa disini sendirian? Sedang membaca buku? . "
"hm, kau? Sedang apa disini?. "
"kedai ini milik temanku, kami kuliah di jurusan yang sama, saat kuliah aku sering mampir kesini sekedar minum kopi dan mencari buku referensi untuk skripsiku, kak Nayy bagaimana? Apa karna kakak suka baca buku makanya suka ketempat-tempat seperti ini? ".
Ia melihat mata yang masih agak merah di sudut-sudutnya, pasti kalian bertengkar ya? Fikirnya, tapi ia hanya ingin menunjukan senyumnya yang membuat Nayy selalu berfikir kalau dia adalah pria polos yang sejak dulu ia kenal.
" begitulah. " Yara membalas senyum itu
"mau makan siang bersama? Aku yang akan tlaktir. "
Ajakan mendadak dari Gun menyentak Yara, ia tidak bisa berfikir dengan jernih untuk saat ini karna ia dan Vano baru saja bertengkar hebat, kepalanya masih berputar soal kata-kata yang ia lontarkan tadi di hadapan Vano, jadi mungkin ia tidak akan bisa focus pada orang lain untuk saat ini.
__ADS_1
"maaf Gun, setelah ini aku akan pulang karna sudah janji dengan ayah untuk makan dirumah bersama. "
Gun tau Yara sedang berbohong, soal kehidupan Yara mana bisa Gun melewatkannya, termasuk hubungannya dengan sang ayah yang semenjak kematian ibunya selalu mengabaikan gadis itu.
"kak Nayy selalu begitu, padahal dulu saat ada Brian kakak sangat akrab denganku juga. "
Kernyitan halus di dahi Yara membuat ia ingat dengan sosok bocah laki-laki berkulit putih yang dulu selalu menemaninya bermain ke tanah lapang, berkat anak itu juga Yara punya tempat untuk bercerita karna Yara tidak banyak punya teman di sekolah dulu.
"Brian, hm.. Kau mengingatkanku padanya. "
Sendu di mata nampak berat menggelayut, ada kesedihan yang sejak dulu ia simpan sendirian, tapi Gun tau itu rasa bersalah sekaligus sedih yang amat panjang untuk di kenang.
"kenapa kakak tidak bisa melupakannya? Bukankah karna dia juga kakak mendapatkan kesedihan yang berkepanjangn? . "
"bisakah kita tidak membahas itu sekarang, aku sangat ingin pulang sekarang. "
Yara berdiri dari duduknya, membetulkan tas selempangnya yang sejak tadi di tangannya, Gun menghela nafas kesal, gadis ini selalu saja bersikap seperti itu padanya.
"aku melihat kak Vano bersama pengacara itu tadi, mereka sepertinya makan siang bersama. "
Sekalian saja jika kesal, biar semua terasa adil bagimu kan? Dalam hati Gun bicara, sambil menatap reaksi wajah Yara yang ia harapkan, sudut matanya berkaca lagi, seperti yang Gun harapkan.
Bagaimana rasanya tersiksa oleh perasaan sendiri
Samar senyum di bibirnya tanpa dilihat Yara, gadis itu mengepalkan tangannya, menahan semua debar kecewa dan amarah di dadanya.
"aku tau, tidak usah memprofokasiku, aku akan pergi, sampai bertemu lagi Gun. "
Langkah yang cepat dengan emosi yang masih menyala, Gun tertawa saat sosok itu menghilang di lorong tangga berulir, sepertinya kebohongan tentang Vano tadi benar-benar membuat Yara kesal.
Helaan nafas terlihat lagi di wajah Gun yang kini sendirian, fikiran bodohnya terus saja mengecewakan gadis itu, sebenarnya ia sadar dengan apa yang di lakukannya tidak akan pernah bisa menarik perhatian Yara kepadanya, namun rasa egoisnya yang tinggi seolah tidak bisa menerima sikap Yara kepadanya.
Aku akan tetap seperti ini kak, melihatmu tersiksa dengan rasa bersalah yang bahkan kau tidak ketahui salahmu dimana.
__ADS_1
Bersambung😊