
Hari sudah berganti seperti matahari yang selalu meninggi disaat musim terik, rasanya hanya ingin berdiam diri di dalam rumah menikmati potongan buah semangka yang sepertinya sangat segar saat di makan di tengah hari.
Tpi itu hanya akan jadi khayalan untuk Yara, dari pagi ia sudah merapikan dirinya bersiap untuk tugas yang katanya anggap saja sebagai liburan gratis, padahal kalau boleh memilih ia ingin melihat Mario konser langsung dan memberi buket bunga seperti yang pernah ia lakukan saat pria imut itu pradebut dulu.
Mobil mewah milik Devano sudah datang, Yara juga sudah bersiap sejak tadi di teras rumahnya, kaca mobil diturunkan saat Yara mendekat untuk menyapa.
"kakak sudah datang".
Senyum Yara nampak sumringah, meski Vano tau gadis itu sedang berpura-pura senang di hadapannya, tapi tidak apa-apa, Vano malah lebih senang karna ia anggap itu hiburan untuknya.
semacam senang di saat-saat Yara merasa menderita atas dirinya.
" sudah ijin dengan ayah? ".
Degh...
Perasaan apa ya ini? Yara tiba-tiba sedikit bengong karna ada debar aneh menelusup di dadanya saat Vano menyebut ayahnya dengan kata AYAH saja.
entah kenapa hal itu membuat Yara sedikit kikuk dan malu.
" eum, sudah, katanya hanya bilang hati-hati dijalan. "
Tanpa menunggu perintah dari Vano, ia langsung membuka pintu dan duduk dengan nyaman, Vano menatapnya, memperhatikan penampilannya dari atas sampai bawah, bikin tambah canggung saja.
"kau tidak bawa tas pakaian? ".
" loh, kak Darren tidak bilang kita akan menginap, bukannya aku hanya perlu menemani kakak saja sampai kakak selesai?. "
Devano ingin menggerutu karna lupa memberi pesan pada Darren untuk mempersiapkan hal yang mungkin bisa saja terjadi, seperti tiba-tiba mereka menginapkan tidak ada yang tahu.
Tapi, memikirkan mereka hanya akan pergi berdua saja sudah membuat Vano kesenangan sejak kemarin-kemarin, jadi melupakan hal yang penting seperti itu padahal siapa tahu itu di butuhkan.
"aku juga tidak tahu apa akan selesai cepat atau tidak, tapi biarkanlah, kalau butuh apa-apa kita akan beli saja disana. "
Mobil berjalan meninggalkan pelataran yang sepi, Yara masih agak canggung duduk bersisian dengan Vano, dadanya terus berdebar sejak tadi, tapi ia hanya mengartikannya kalau itu efek dari untuk pertama kalinya mereka pergi berdua saja ketempat yang lumayan jauh.
untuk menghindari kecanggungan yang ada, Vano menyalakan musik yang bisa didengar bersama, saat tangannya sedang memencet tombol di hadapannya, Yara agak antusias ketika tiba-tiba mendengar suara yang keluar dari sana.
"ini saja kak, aku ingin dengar yang ini. "
tukasnya, matanya berbinar memohon agar Vano mendengarkan keinginannya juga.
karna merasa Yara senang, Vano hanya melepaskan tangannya dari tombol lalu focus menyetir lagi.
"kau tau lagu ini? Cih.. Lumayan juga ya seleramu".
Vano mendengarkan suara dari si penyanyi, ia memang punya suara yang bagus dan sepertinya memang enak untuk di dengar, jemarinya sedikit ia ketuk-ketukkan di atas stir, menikmati apa yang sedang ia dengar bersama Yara.
" bagus ya kak? Dari awal aku memang sangat suka dengan karakter suara Mario, dia bisa mengcover lagu dengan baik. "
"APA? ".
Jadi ini suara si bocah ingusan itu, hah... Harusnya aku sudah curiga saat Yara sumringah mendengarkannya.
__ADS_1
Bip..
Dengan wajahnya yang kesal, Vano mematikan music yang belum seluruhnya Yara dengar, gadis itu langsung cemberut, harusnya ia tau kalau Vano tidak akan membiarkannya senang barang sebentar.
" tiba-tiba kepalaku sakit, tidak usah mendengarkan music, tidur saja sana, perjalanan kita cukup jauh. " kilah Vano sambil tetap focus dengan stirnya, ia lirik Yara, gadis itu masih sedikit cemberut.
"apa kakak mau makan sesuatu? Tadi aku memotong buah karna aku fikir cuaca ini akan sangat panas karna sangat terik. "
Yara merogoh tas yang tadi di bawanya, yah... Tasnya memang tidak begitu besar, karna ia hanya membawa apa yang menurutnya penting untuknya, termasuk sekotak tempat bekal yang ia isi dengan beberapa potongan buah.
Ia membuka tutup bekalnya, potongan buah warna warni nampak cantik menyambul disana, Vano meliriknya sebentar dan memiringkan senyumnya di bibir seperti mengatakan kalau kotak bekal itu sedikit konyol untuknya.
Dari wajahnya seperti tidak mau, tapi saat melihat Yara menusuk buahnya dengan tusukan gigi lalu melahapnya dengan suara renyah buah yang di gigit, Vano menelan liurnya, membayangkan buah segar yang manis asam dan renyah itu pasti sangat enak di makan pada cuaca begini.
" Aaaaa. " Yara menyodorkan sepotong buah kedepan mulut Vano, laki-laki itu tersentak sedikit terkejut karna tidak mengira Yara akan melakukan hal yang tidak terduga seperti itu, tapi dengan refleks mulutnya terbuka menganga dan melahap buah itu dengan nikmat.
Senyum merekah di bibir Yara, sambil kunyah-kunyah dan suap-suap buah lagi, ia melihat Vano yang terlihat imut saat mengunyah, wajahnya memerah, sepertinya dia malu, tapi kenapa dia lucu sekali sih dengan wajah begitu.
Kata-kata itu hanya ada di kepala Yara.
"nanti kita akan ke hotel, mereka menyediakan 2 kamar untuk kita, selama aku meeting di lobi hotel, kau istirahat saja di kamarmu. "
"kita tidak akan menginapkan kak?. "
"mana aku tahu, kalau pertemuan bisnis ini agak lama, kemungkinan kita bisa menginap atau pulang larut malam. "
"kenapa kakak mengajakku? Memangnya kakak tidak punya sekertaris sendiri? ".
" itu karna aku tidak ingin melihat kau bahagia dengan pekerjaanmu mengurus bocah itu. "
"cih, kau fikir aku tidak bisa menghasilkan uang lebih banyak dari dia?. "
Iya... Iya.. Aku tahu kok kakak paling kaya dan paling mudah menghasilkan uang dari pada kami-kami ini yang hanya sebagian persen saja dari beberapa perusahaanmu, tapikan tetap saja rasanya tidak adil menyingkirkanku dalam projek konser Mario hanya karna kau tidak suka dengan orangnya atau melihatku nampak bahagia saat bekerja.
Protes, maunya sih bicara begitu, lancar sekali kalau sudah menyusun di kepala, tapi entah kenapa susah sekali jika mau di ucapkan kekenyataan yang ada, alahasil Yara hanya merengut dan menghela nafas pasrah.
"aku jadi bingung, bagaimana seharusnya aku bersikap terhadap kakak, kak Vano tidak suka melihatku bahagia tapi kakak selalu mengutus kak Darren jika aku bersedih karna kakak, tidak mau melepasku tapi kakak menyiksaku dengan kebencian kakak. "
Devano terdiam, tidak ingin melihat wajah Yara yang pastinya terlihat menyedihkan dengan mata yang sendu menatapnya.
" Yara.. Aku akan terus bersikap tidak menyukaimu, jadi teruskan saja merenungi kesedihanmu, sampai aku tau kau sudah cukup merasakan apa yang pernah aku rasakan. "
"kehilangan? Memangnya kakak pernah kehilangan siapa? Dan apa hubungannya denganku? Apa kehilangan yang kakak alami itu karna aku? Katakan kak, agar aku bisa memohon dengan tulus meminta maaf padamu. "
"berhenti bertanya, atau kau merusak mood ku Yara,perjalanan kita sudah cukup jauh, aku bisa saja menurunkanmu dipinggir jalan tanpa berfikir kau ini perempuan. "
Tegas, dengan wajah memerah kali ini menahan amarah yang baru saja tersulut oleh kata-kata Yara, gadis itu menatapnya sedih, ada genangan air mata di sudut-sudutnya, ia lalu mengalihkan pandangannya ke jendela kaca mobil, menyandarkan kepalanya disana, menahan sakit hatinya yang terasa sangat menyayat, ia sampai memegang dadanya, lalu sunyi menyekik udara di antara mereka, ah.. Sesak sekali.
#
Sampai pada tujuan, mereka benar-benar tidak bicara satu sama lain, hanya sesekali saja saat Yara minta berhenti di rest area untuk ke toilet umum.
Kini mereka di hotel, kamar Yara tepat di depan kamar Vano, mereka masuk kedalam kamar masing-masing, Vano hanya berpesan kalau akan ada layanan kamar yang akan membawakan beberapa keperluannya.
__ADS_1
di dalam kamar, Vano membanting tubuhnya di tempat tidur, ia menutup wajahnya dengan lengannya, memikirkan raut wajah Yara sejak pembicaraan sensitif tadi, rasanya sangat kesal, ia ingin memeluk gadis itu tanpa sadar, keinginan itu muncul begitu saja, jemari tangannya sampai mengepal kuat tadi.
apa lagi-lagi aku keterlaluan? Ah.. Kenapa tiba-tiba dia membahas itu, seharusnya dia diam saja agar aku tidak berkata-kata kejam tadi.
Vano melempar sepatu di kakinya dengan cara menendang keras ke udara, sepatunya terlempar benar-benar terbang ke udara dan tergeletak sembarang di bawah tempat tidurnya.
Bagaimana ini, tidak ada Darren yang bisa ia suruh-suruh disini, apakah mereka benar-benar harus tidak bicara sampai pulang nanti.
Dan Yara masih termenung merenungi situasi canggung ini, apa yang harus ia lakukan disini? Kak Vano masih enak, bisa keluar meeting dengan rekan bisnisnya, sedangkan dia hanya tidur-tiduran saja sejak tadi, akhirnya ia menyalakan tv dan menonton layar itu dengan malas.
Tidak sampai 10 menit, ia sudah bosan, ingin tidur pun matanya belum mengantuk, lalu ia berjalan ke arah jendela kaca yang bertirai putih nan lembut, sepertinya itu pintu yang mengarahkannya pada balkon kecil disana, benar saja, mata Yara langsung berbinar melihat pemandangan dari tempatnya sekarang, entah ia berada di lantai berapa, tapi disini ia bisa melihat kolam renang nan luas di bawah sana.
Ah.. apa boleh ya kalau ia turun sebentar kesana? untuk berjalan-jalan dan melihat-lihat suasana hotel yang pastinya megah dan mewah ini, yah... Kapan lagi bisa menikmati fasilitas sultan seperti ini, fikirnya.
Seketika ia berlari menuju pintu, dengan semangat membuka hendel pintu dan...
Bruk..
Ternyata Vano juga baru keluar dari kamarnya, ia sudah memakai stelan jas kerja yang nampak rapih dan mewah, mereka saling menatap dalam kecanggungan.
"mau kemana?".
Akhirnya Vano duluan yang bersuara, melihat Yara yang hanya tertunduk diam tadi.
" eumm apa aku boleh turun kebawah sebentar? aku mau ke area kolam renang kak untuk berjalan-jalan. "
"berenang saja sekalian supaya tidak bosan, tapi sebentar lagi makan siang, aku akan suruh pelayan mengantar makan siangmu kesana, aku harus meeting sekarang. "
"tidak apa-apa kak, aku juga tidak mau berenang karna tidak bawa baju ganti. "
"kalau begitu tunggu aku. "
Tukasan Vano membuat Yara melongo, ia tidak mengerti arti dari kata TUNGGU yang Vano maksud.
"ah, aku pasti menunggu kakak sampai selesai jadi sambil menunggu kakak, aku akan di area kolam renang untuk melihat-lihat. "
"apa kau tidak akan bosan?. "
Ragu Vano bertanya, ia tatap Yara yang nampak canggung, tangannya sampai mengusap tengkuknya sendiri.
"eumm sepertinya tidak, aku akan kembali ke kamar lagi jika sudah bosan. "
Vano mengangguk halus, sekejap ia menggigit bibir bawahnya sambil mempertimbangkan sesuatu.
"ikut saja denganku".
Tangan itu meraih jemari Yara, menggandengnya tanpa fikir panjang dan menariknya untuk mengikuti langkahnya.
" eh tapi kak... ".
Yara tidak bisa mengelak karna langkah Vano yang cepat dan lebar, belum lagi ia yang kebingungan di tarik tiba-tiba begini.
beberapa detik tadi Yara terpaku pada genggaman di tangannya, rasanya hangat, ia sampai berkali-kali menatapnya untuk memastikan kalau yang ada di tangannya adalah benar jemari milik kak Vano, sambil berjalan, Yara terus menatap punggung itu, wajah yang nampak diam dengan telinga memerah itu sangat tampan dan lucu jika terlihat sekalem ini.
__ADS_1
Bersambung😊