
Rombongan Brian tiba di rumah orang tua Bella tepat pukul 20.00 malam.
Di pintu masuk tampak senyum Alnord menyambut mereka.
"Ayah!" Teriak Bella seraya berhambur dalam pelukan lelaki paruh baya tersebut.
Ada rasa rindu yang menyeruak dari dadanya, meski ini bukan pertama kalinya Bella jauh dari Alnord.
"Ayo masuk...masuk Ibu sudah menunggu didalam!"
"Bu....anak dan menantumu sudah datang!"
"Ibu!" Berlari dan memeluk Ibunya.
"Ayo duduklah! Silahkan duduk Gabriel dan Margaret!"
"Iya...iya...!" Kata margaret seraya duduk di kursi.
"Menyenangkan bukan berada dalam lingkungan baru?" Tanya Alnord kepada Bella.
"Biasa saja! Seperti di rumah!"
"Benarkah? Berarti kamu sudah merasa nyaman disana Bell!" Sahut Agatha.
"Apakah Bella merepotkanmu Brian?"
"Tidak Bu, sama sekali tidak! Selain selalu mengotori kamar dengan remahan makanan dan tidur sepanjang hari!" Jawab Brian dengan santai yang sontak membuat Bella merasa malu.
"Brian!!" Kata Margaret sambil menepuk pundak anaknya.
"Ha...ha...ha...Bella memang suka membawa cemilannya ke kamar, tapi Bella kenapa kamu tidur terus? Kamu sekarang sudah menjadi seorang istri, melayani suami adalah sebuah kewajiban bagimu!"
"Bella akan bangun pagi saat hari kerja, saat liburan Bella akan tetap bangun siang! Lagian Mama yang setiap hari menyiapkan makanan untuk Brian, Mama Margaret juga pandai memasak seperti Ibu!" Berbicara sambil melahap makanan.
"Astaga!!" Kata Arnold.
"Bukankah Bella sangat lucu, dia selalu mengatakan apa saja yang ingin dia katakan, tanpa menutup-nutupinya!" Kata Gabriel.
"Ya..ya...ya...benar! Pernah suatu ketika aku dibuat malu olehnya, saat menghadari pesta launcing sebuah resto milik sahabat, mereka bertanya pendapat Bella tentang makanannya, dan kalian tahu apa yang dia katakan? Makanan disini tidak begitu enak! Sontak membuat saya malu dan langsung menyeretnya pulang!" Kata Agatha membenarkan pendapat Gabriel.
Dan diikuti tawa oleh mereka kecuali Bella.
Yang dibicarakan hanya asik menikmati makanan didepannya, sesekali Brian melirik kearah Bella.
"Kapan kamu buatkan cucu untuk kami Brian?" Tanya Alnord kepada Brian dan sontak membuat Bella terkejut.
"Brian tidak bisa membuatnya sendiri Ayah!" Sahut Brian dan kali ini Bella benar-benar terkejut hingga membuatnya tersedak.
Dengan cekatan Brian mengambilkan segelas air untuk Bella "Makanlah dengan perlahan!"
"Tentu saja! Kalian yang harus membuatnya!" Dan diiringi tawa renyah dari keempat orang tersebut.
"Astaga!!! Kalian pikir anak adalah sebuah adonan?" Kata-kata Bella membuat tawa mereka terhenti.
"Jika Tuhan belum mengijinkan hal itu tidak bisa kami kabulkan!" Tambah Bella.
"Maka berusahalah lebih keras, Bella Brian! Semangat!!!" Sahut Margaret.
"Ya! Kami akan bekerja keras! Sayang! Kamu hanya boleh tidur saat kamu telah menuntaskan tugasmu!" Menepuk-nepuk pundak Brian.
Dan disahut tawa menggelegar oleh semua orang.
"Ayah...Ibu...Brian dan Bella memutuskan untuk tinggal berdua, apakah Ayah dan Ibu setuju?" Tanya Brian kepada Alnord dan Agatha.
"Tentu saja! Kapan kalian akan mencari rumah?"
"Papa sudah membelikan rumah untuk kami! Rencananya minggu depan kami mulai tinggal disana!"
__ADS_1
"Baiklah! Itu rencana yang bagus, semakin cepat semakin baik!"
Dalam hati kecil Alnord sebenarnya agak tidak rela anak semata wayangnya harus tinggal terpisah darinya, tapi demi untuk menjalin kedekatan mereka berdua, Alnord berpikir itu adalah hal baik.
***
"Bella akan menginap malam ini, sekalian mengemasi barang-barang yang harus Bella bawa!"
"Iya sayang! Jangan bekerja terlalu keras!" Kata Margaret.
"Iya Mama!"
"Ayo Pa, kita jalan!"
"Kamu tidak ikut?" Tanya Bella kepada Brian.
"Tidak! Siapa yang akan menemanimu tidur jika aku pulang?" Tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
Menginjak kaki Brian "Auch sakit Bella!"
"Berhentilah berkelahi seperti bocah!" Ucap Margaret kepada Brian.
"Dia yang memulai Ma!" Menunjuk ke wajah istrinya.
"Baiklah...Mama dan Papa pulang dulu sayang!"
"Hati- hati Ma...Pa!"
"Iya sayang! Masuklah...!" Kata Margaret seraya memasuki mobil.
"Daaa....!" Ucap Bella seraya melambaikan tangan.
Bella memasuki rumah saat mobil menghilang dari pandangan dan disusul Brian mengekor dibelakangnya.
"Ayah dan Ibu sangat mengantuk Bella kami tidur dulu ya!"
"Iya, ini juga sudah malam, Bella juga akan tidur!" Berjalan kelantai dua dan memasuki kamarnya.
Bella melangkah ke kamar mandi, membersihkan diri kemudian berjalan ke ruang ganti dan mengganti pakaiannya dengan sebuah piama.
"Kamu tidak menggosok gigimu?"
"Iya nanti!"
"Bisa tolong nyalakan lampu disebelahmu!"
Tanpa menjawab Brian menyalakan lampu disampingnya.
Usai mematikan lampu utama, Bella berjalan ke ranjang dan membaringkan tubuhnya.
"Kamu sudah mau tidur?" Tanya Brian.
"Hemmm....!"
"Bagaimana dengan tugas kita?"
"Tugas apa?"
"Membuat anak!" Berbisik pelan tepat ditelinga Bella.
Ah...untunglah hanya ada cahaya remang-remang, jika tidak Brian pasti bisa melihat wajah Bella yang semerah kepiting rebus.
"Kamu!!!"
"Jadi kita mulai dari mana? Ciuman...???"
Mengambil bantal dan memukulkannya pada Brian "Dasar lelaki m*sum!"
"Stop...stop...aku hanya bercanda!"
__ADS_1
"Kamu tidak pandai bercanda Brian! Ayo tidur!"
"Apa kamu sekarang mengajakku untuk segera tidur?"
"Iya! Ayo kita tidur dan tutuplah mulutmu!"
"Iya!"
Sunyi....
Hanya suara detak jarum jam yang terdengar dan hembusan angin yang sesekali membelai jendela kamar Bella.
"Bella...kamu sudah tidur"
"Mmmm....!"
"Aku akan berhenti menemui Claire!"
"Mmmm....!"
"Aku sungguh-sungguh akan berhenti menemuinya demi kamu!"
Membalikkan badannya kearah Brian "Tapi aku merasa dia tidak akan melepaskanmu begitu saja!" Berbicara dengan mata terpejam.
"Tentu saja, pria setampan aku siapa yang rela melepaskannya!"
Menjitak kepala Brian "Tutup mulutmu!"
"Tidak!"
"Enyah dari sini!"
"Tidak!"
"Astaga!!! Tidak bisakah aku tidur dengan tenang?"
"Tidak!"
"Apa maumu?"
"Satu ciuman!"
Membuka mata, beranjak dari ranjang. Membawa bantal dan selimutnya lalu pindah ke sofa.
"Bella!!!"
"Bella kembali!"
"Kubilang kembali! Atau aku akan tidur dilantai!"
"Disini dingin!!"
Yang diajak bicara hanya diam, melanjutkan tidurnya di sofa, sedikit tidak nyaman. Tapi dia benar-benar mengantuk.
Hingga akhirnya dia benar-benar tertidur lelap.
Bella terbangun tengah malam, tenggorokannya terasa kering, beranjak dari tidurnya dan tanpa sengaja kakinya menginjak sesuatu.
"Brian!! Kenapa kamu tidur disitu?" Menggoyang-goyangkan tubuh suaminya.
"Badannya sangat panas!! Brian!!! Bangun!!"
"Mmmm...Bella dingin!" Kata Brian.
"Ayo bangun! Pindah ke ranjang!" Membantu suaminya berdiri.
"Aku akan ambilkan obat demam!"
Menggeleng "Disini saja temani aku!" Seraya memegang tangan Bella "Tidurlah disampingku!"
__ADS_1
Kini Bella merebahkan diri disebelah Brian, lelaki itu merengkuh erat pinggangnya, wajahnya berada sangat dekat dengan lelaki itu, bahkan Bella bisa merasakan hembusan nafasnya.
Dielusnya rambut pria didepannya dengan lembut, hingga lelaki itu terlelap dan menyadari tidak ada lagi Bella disampingnya saat dia terbangun pagi harinya.