Berbagi Cinta : Penyesalan

Berbagi Cinta : Penyesalan
Part 43 : Lelakiku Yang Terlihat Polos


__ADS_3


Saat dia terbangun pagi ini dia melihat suaminya masih tidur meringkuk di sofa.


Bella buru-buru memalingkan pandangannya, dia tidak ingin hatinya goyah dan melumer.


Seperti biasa dia bersiap untuk menyiapkan menu sarapan pagi untuk dirinya dan suaminya, ini sebuah keharusan. Meskipun keadaanya sangat buruk tapi mengurus Brian adalah kewajibannya, kecuali untuk urusan ranjang, tentunya...


Brian masih terlelap saat Bella menyelesaikan semuanya. Wanita itu kini menghampiri Brian dengan lembut dielusnya tubuh itu "Brian!"


Brian terkejut, bergerak dengan cepat lantas duduk dengan wajah sedikit linglung.


"Ah....aku bahkan sangat perlahan saat menyentuhnya!" Gunam Bella.


Brian menatap wajah istrinya, semalam dia bermimpi sangat buruk. Apakah ini bagian dari mimpinya? Diraihnya wajah bella dengan tangan kekarnya.


"Ini nyata!" Gunam Brian.


"Maaf!" Kemudian beranjak dari sofa dan bergegas mandi.


Canggung....


Itulah yang Bella rasakan.


Selalu seperti itu.


Hatinya menginginkan Brian.


Tetapi logikanya menolak hal itu.


***


"Aku akan berangkat sendiri!" Jawab Brian dengan suara yang hampir tidak terdengar.


Bella hanya diam, dia kemudian beranjak dari duduknya. Mendekati Brian lantas memberikan kartu ATM kepada lelaki itu.


"Aku tidak membutuhkannya!" Ucap Brian, menepis tangan Bella, kemudian beranjak dari kursi.


"Aku berangkat!"


Apa ini?


Kenapa Bella sangat marah saat Brian tidak memperdulikannya?


Tanpa membereskan meja, Bella berlari ke kamarnya, mengambil tas kerja dan menyusul Brian.


"Untunglah!" Kata Bella, saat dilihatnya mobil Brian masih terparkir di halaman depan.


Buru-buru Bella naik kedalam mobil tersebut.


Brian sedikit terkejut.


"Aku ikut denganmu!"


Tanpa melihat ke arah Bella "Kenakan sabuk pengamannya!"


Bella menurut.


Tiba-tiba mobil terhenti mendadak, untung Brian sempat menepikan mobilnya.


"Apa yang terjadi?"


Brian melihat kondisi dan dia akhirnya menyadari sesuatu "Bensinnya habis! Bolehkah aku meminjam uangmu? Aku akan mengembalikannya saat gajian nanti!"

__ADS_1


Bella hampir tertawa terbahak, apa? Meminjam uang? Akan aku kembalikan saat gajian? Ah...dan wajahnya itu...sangat polos dan lucu.


Bella memberikan ATM yang tadi sempat ditolak oleh Brian, dia sengaja menyiapkan itu. Uang didalamnya cukup untuk memenuhi kehidupan Brian selama sebulan tapi dengan uang itu jelas Brian tidak bisa memboking kamar hotel atau mentraktir wanita lain di restoran mewah.


"Tidak! Berikan aku uang tunai, aku hanya perlu untuk mengisi bahan bakar!" Paparnya.


"Aku yang memegang keuangan, dan ini untuk jatah bulanan suamiku! Jadi ambillah! Tenang saja...tidak banyak uang didalamnya, itu hanya cukup untuk membeli kopi dan roti lapis selama sebulan!" Jawab Bella.


Dengan ragu Brian mengambil kartu itu "Jadi aku tidak perlu mengembalikan ini?" Tuturnya.


"Ya! Sebagai gantinya semua gaji kamu aku yang memegangnya!"


"Ya!" Sambil tersenyum Brian akhirnya pergi, ah...untung sekali jarak pengisian bahan bakar lumayan dekat.


Setelah 20 menit Brian kembali, dengan keringat yang mengucur deras di pelipis, kemeja putihnya juga terlihat sedikit basah.


Brian siap mengemudi, tanpa aba-aba Bella mendekat, disekanya wajah itu dengan tisu.


"Terimakasih!" Kata Brian lirih.


***


Sampai di kantor Bella dan Brian berjalan beriringan. Aku akan ke rumah Papa nanti selepas kerja.


Brian menoleh "Mau aku antar?"


"Tidak! Selamat bekerja!" Sesungging senyum merekah di bibirnya, kemudian dia masuk ke ruangannya. Meninggalkan Brian dengan dentuman keras di dadanya.


***


Di ruangan Bella.


"Jadi anda tidak jadi merekrut Kak Dion?"


"Ya!"


"Tidak ada alasan!"


"Jadi aku harus berbicara apa?"


"Itu...biar aku saja yang mengurusnya!"


"Iya Bu!" Kemudian dia berbalik dan meninggalkan ruangan Bella.


***


Seperti yang sudah di rencanakan Bella pergi ke rumah mertuanya.


Dengan sebuah taxi tentunya, karena tadi dia tidak membawa mobil dan menolak untuk diantar oleh Brian.


Sampai di rumah megah itu, suasana terlihat seperti biasa.


Sepi....


Bella menekan bel dan tidak berselang lama pintu terbuka, asisten rumah tangga keluarga Gabriel.


"Papa ada Bik?" Tanya Bella.


"Ada Non, Tuan besar sudah menunggu anda di ruang kerjanya!"


"Iya, terimakasih Bik!" Lantas Bella masuk ke dalam rumah dan menuju ruang kerja Papanya.


Bella mengetuk pintu, terdengar sahutan dari dalam dengan suara berat khas Papa Gabriel.

__ADS_1


Bella membuka pintu, Papanya sedang duduk khusuk dengan laptop di depannya.


Melihat menantunya datang Gabriel menutup laptop dan menyuruh putrinya masuk.


"Duduk sini Bell!"


"Bella menghampiri Papanya, mencium pipi keriput itu!"


"Kamu bekerja sangat keras!" Kata Gabriel yang mirip sebuah pujian.


"Papa....!"


"Apa sayang!"


"Bella lelah! Papa tahu hampir seluruh karyawan wanita memandang Bella dengan tatapan benci, bahkan kemarin saat Bella tidak sengaja masuk ke toilet karyawan Bella mendengar mereka menjelek-jelekkan Bella. Tidak bisakah kita mengakhiri ini semua?"


Gabriel hanya tersenyum terkekeh "Apa yang mereka bicarakan!"


"Lihatlah...sekarang wanita itu menunjukkan sifat aslinya, dia pasti ingin menguasai seluruh harta keluarga Gabriel!"


"Ha...ha...ha...!"


Tiba-tiba suasana menjadi lebih serius, Gabriel memegang tangan Bella "Bella...!"


"Iya Pa!"


"Papa minta maaf Bell!"


"Untuk apa?"


"Untuk semua kesalahan yang terjadi, karena tidak bisa mengurus dan membesarkan Brian dengan baik, karena telah memaksa Alnord untuk menikahkan Brian denganmu! Maafkan Papa Bella! Jika hal itu tidak terjadi, mungkin kini sekarang kamu tidak mengalami kesulitan semacam ini!"


"Papa jangan berbicara seperti itu!"


"Aku bahkan sangat jahat kepada Brian sekarang! Apakah Brian mencintaiku Pa? Bella kesulitan! Bella sangat menyukai Brian dan Bella tidak ingin berpisah dengannya! Tapi hati Bella sangat sakit..bagaimana ini?"


Gabriel mengelus punggung tangan Bella "Sabar ya sayang! Papa yakin Brian bisa berubah, kamu bisa menunggunya bukan?"


Bella mengangguk.


"Mmmmm...bagamana dengan asisten pribadimu, bukankah kamu sudah bertemu dengannya kemarin siang?"


Bella mengangguk "Bella akan mencari orang lain!"


"Kenapa? Dia yang terbaik!"


"Papa ingat Dion?"


Gabriel mencoba mengingat sesuatu "A...ya teman dekatmu! Ternyata orang itu Dion! Itu bagus Bella kamu bisa bekerja dengannya!"


"Tapi...!"


"Tapi apa?"


"Sepertinya Brian cemburu dengan Dion!"


"Ha...ha...ha...ha...dasar bedebah licik!"


"Lantas?" Lanjut Gabriel.


"Aku tidak akan bekerja dengannya tetapi tentu saja aku tidak bisa jika tidak bertemu dengannya!"


"Ya! Papa percaya kepada Bella!" Jawab Gabriel dengan senyum yang merekah di bibirnya.

__ADS_1


__ADS_2