
" Ayo kita bertemu, berdua hanya berdua!" Akhirnya setelah begitu banyak keberanian yang terkumpul. Sekali lagi ini bukan karena rasa takut, ini tentang cinta dan kasih yang selama ini telah terbentuk dihatinya untuk Dera, sebab dia tipe yang selalu menyeluruh saat menyukai sesuatu. Dan memikirkan hal apa yang harus dia katakan jika sudah bertemu Dera, apa itu menyakitkan baginya? Sampai akhirnya kini dia sudah duduk di bangku sederhana sebuah kafe, dia sengaja memesan tempat ini. Ini tempat sepesial baginya, entah bagi Dera. Ditempat inilah dia sering menghabiskan waktu bersama semasa remaja dulu...tidak ada yang berubah dari desainnya. bangku-bangku kayu, dilengkapi dengan meja persegi yang juga terbuat dari kayu. Mereka selalu memilih area rooftop dan kali ini Bella juga memilihnya, Bella sengaja mendesain tempat ini jauh lebih indah. Memberikan lampu-lampu warna warni dan aneka manik-manik lainnya, sebuah kue ulang tahun, lilin, lampion yang menyala, semuanya...Bella menyiapkan dengan sangat detail dan satu lagi sebuah kotak hadiah yang teronggok di bangku. Sengaja tersembunyi, untuk sebuah kejutan.
Setelah menunggu hampir lima belas menit, Dera akhirnya datang. Ada keanehan dan keterkejutan di wajahnya "Apa ini?" Bella hanya tersenyum lantas menyilahkan wanita itu untuk duduk.
"Apa yang terjadi? Bukankah ini bukan hari ulang tahunmu atau ulang tahunku? Kenapa ada kue ulang tahun di sini? Dan makanan ini semuanya adalah kesukaanku!"
"Berhentilah berbicara dan makan semuanya!" Dengan wajah yang masih bingung toh akhirnya Dera menyantap makan malamnya. "Ini makan bersama terakhir kita!" Gunam Bella.
Usai menandaskan santap malam, Bella menyalakan lilin di kue tersebut, menyanyikan lagu selamat ulang tahun kemudian mempersilahkan Dera mengucapkan do'a dan meniup lilinnya.
"Untuk apa ini, ulang tahunku masih lama?"
"Ikutilah perintahku!" Kata-kata sihir itu akhirnya membuat Dera melakukan semuanya.
"Selamat ulang tahun! Semoga kamu selalu bahagia! Ini kodo untukmu!" Bella memberikan kado yang sedari tadi disimpannya.
"Ulang tahunku masih satu bulan lagi, untuk apa kamu melakukan ini? Jangan membuatku takut!" Bella terkekeh, bukan karena pertanyaan Dera, karena sampai sejauh ini dia mampu untuk terus bersandiwara menyembunyikan rasa benci dan sakit hatinya.
"Ayo kita minum wine, aku membawa yang terbaik. Berusia puluhan tahun dan berharga fantastis!"
"Benarkah? Aku mau segelas! Berkatmu aku mencicipi anggur-anggur mahal terbaik, terimakasih!" Bella tersenyum kecut, sebentar lagi Dera akan jauh lebih berterimakasih kepadanya.
"Dera!"
__ADS_1
"Hemmm....!" Namun Bella hanya diam, menarik nafas dalam dan menguatkan diri "Apa....? Katakan!"
"Maaf...karena merayakan ulang tahunmu lebih awal! Mungkin aku tidak akan pernah bertemu lagi denganmu!" Dera terkejut, bangkit dari duduknya. Bella tertawa terkekeh "Apa dia takut berpisah denganku?" Gunamnya.
"Kenapa? Kenapa tidak bisa menemuiku lagi?" Kali ini air matanya mulai mengalir, sejenak Bella sadar. Bukan dia yang Dera takutkan tetapi Brian, dia takut tidak bisa menemui lelaki itu lagi. Aaaahhh! Bella pasti gila karena sempat berfikir hal sebodoh itu.
"Der...duduklah!" Dera menurut, dan setelah keadaan kembali tenang Bella melanjutkan ucapannya "Aku memutuskan untuk berpisah dengan Brian!" Kali ini Dera juga tersulut emosi, wanita itu bertanya dengan garang.
"Kenapa? Bukankah hubungan kalian baik-baik saja? Apa aku melewatkan sesuatu?"
Bella menghela nafas "Jangan seperti ini!!!" Detik berikutnya Bella menatap tajam kearah Dera "Kamu membuatku takut!" Kemudian Bella berhenti berbicara dan meraih gelasnya, meneguk lagi minumannya "Apa kamu mencintai Brian?"
"Apa yang kamu bicarakan?" Bella tersenyum kecut, sahabatnya ternyata telah pandai berbohong.
"Bell....sejak kapan kamu tahu?"
"Sudah lama! Dan aku memendamnya seorang diri!"
"Maaf Bell, aku mencintai Brian!"
"Kamu akan segera mendapatkannya!" Kemudian bangkit dari kursinya dan berkata "Aku pergi!"
"Bella....tunggu! Maafkan aku! Dan terimakasih!" Bella menatap ke belakang, wanita itu kini mengelus perutnya, apa dia hamil? Baguslah Brian menginginkan itu.
"Tidak perlu meminta maaf, karena aku tidak akan memaafkanmu, dan untuk rasa terimakasihmu! Simpan saja, aku tidak melakukan itu untuk kamu, dan asal kamu tahu, aku bisa menyingkirkanmu jika aku mau, tapi aku tidak akan melakukannya. Brian tidak pantas untuk aku perjuangkan! Dan selamat untuk kehamilanmu! Semoga kamu baik-baik saja!" Kemudian Bella berlalu...meninggalkan Dera yang sedari tadi hanya diam terpaku dengan deraian air mata.
__ADS_1
***
Kira-kira pukul sepuluh pagi, Bella mengirim pesan singkat "Ayo kita bertemu, berdua hanya berdua!" Setelah Dera menyanggupinya, sahabatnya kemudian mengirim sebuah alamat, ah...tempat itu adalah tempat yang sering mereka kunjungi berdua semasa sekolah, di bangku-bangku tua itu mereka bercerita tentang apa saja. Dan itu membuat keinginan Dera semakin kuat. Dia bisa berkata jujur kepada Bella, mengatakan bahwa kini dia dan Brian telah menjalin sebuah hubungan. Memohon dengan sangat kepada sahabatnya, karena saat ini telah hidup janin yang bersarang dirahimnya. Dan nantinya dengan berat hati Bella akan membiarkannya menikah dengan Brian, sebab Dera tahu Bella adalah penjelmaan sesosok peri. Wanita itu tidak akan tega membiarkan Brian menyingkirkan janin itu dan akan menyuruh Brian untuk menikahinya. Ah...itu terdengar sempurna.
Dera berlari menaiki anak tangga, janin di perutnya membuatnya kewalahan. Padahal dia sudah telat hampir lima belas menit lamanya.
Sampai di rooftop, Dera mendapati pemandangan yang tidak biasa. Tempat itu telah didekorasi menjadi serupa tempat pesta dan Bella di sana tengah duduk dan kini memandangi dirinya.
"Apa ini?" Bella hanya ternsenyum menanggapi pertanyaannya "Apa yang terjadi? Bukankah ini bukan hari ulang tahunmu atau ulang tahunku? Kenapa ada kue ulang tahun di sini? Dan makanan ini semuanya adalah kesukaanku!" Dera masih bingung namun Bella menyuruhnya untuk menghabiskan semuanya.
Usai makan sahabatnya menyalakan lilin, menyayikan lagu ulang tahun dan menyuruhnya mengucapkan do'a permohonan dan meniup lilinnya "Untuk apa ini, ulang tahunku masih lama?" Namun toh akhirnya Dera melakukan itu, karena Bella...Bella yang menyuruhnya.
Detik berikutnya Dera menutup mata "Semoga Bella tidak membenciku!" Hanya itu yang mampu terlintas di pikirannya, sebuah pengampunan karena dia telah benar-benar salah melangkah. Kemudian Dera meniup lilin.
Dan acara kembali berlanjut dengan minum wine, jujur ini wine terbaik yang pernah dia cecap. Bella memang yang terbaik. Namun tiba-tiba pembicaraan menjadi serius, kala Bella mengatakan bahwa mungkin ini pertemuan terakhir kami. Dera terkejut, dia bangkit dari duduknya dan serta-merta lahar panas mulai meleleh dari sudut matanya "Kenapa? Kenapa tidak bisa menemuiku lagi?" Banyak pertanyaan yang terbesit di benaknya, apa Bella sudah mengetahui hubungan rahasia antara dia dan Brian dan kini wanita itu membawa Brian pergi jauh dari dirinya. Lantas bagaimana dengan dirinya bagaimana dengan janinnya? Janinnya butuh seorang Ayah dan dia butuh seorang suami!"
Tapi tangis itu mereda, kala Bella berkata bahwa dia dan Brian akan berpisah. Apa Brian ketahuan selingkuh lagi? Dengan siapa? Tidak mungkin dengan dirinya karena saat ini Bella masih bersikap baik padanya.
Namun keraguan itu surut kala Bella bertanya "Apa kamu mencintai Brian?" Dera terkejut setengah mati, rencananya gagal namun tidak benar-benar gagal. Tetapi jelas dia gagal untuk lebih dulu mengakui dosa besarnya kepada Bella. Dera berkata bahwa dia mencintai Brian, lantas wanita itu pergi, sebelum terlambat akhirnya Dera memberanikan diri. Memohon permintaan maaf dan ucapan terimakasih.
"Tidak perlu meminta maaf, karena aku tidak akan memaafkanmu, dan untuk rasa terimakasihmu! Simpan saja, aku tidak melakukan itu untuk kamu, dan asal kamu tahu, aku bisa menyingkirkanmu jika aku mau, tapi aku tidak akan melakukannya. Brian tidak pantas untuk aku perjuangkan! Dan selamat untuk kehamilanmu! Semoga kamu baik-baik saja!" Bella berkata dengan wajah penuh ketenangan, tidak ada kebencian di wajah itu tetapi dera merasakan kesungguhan dari kata-katanya, tidak hanya tentang membenci tetapi tentang harapannya agar dirinya baik-baik saja.
Dan Dera hanya berdiri terpaku melepas kepergian sahabatnya tanpa bisa mengatakan apapun lagi.
Dera merasa telah menjadi pendosa karena keegoisannya, dia ingin jabang bayi ini terlahir sebagai bocah normal yang memiliki orang tua yang lengkap dengan cara merebut kebahagiaan sahabatnya.
__ADS_1