Berbagi Cinta : Penyesalan

Berbagi Cinta : Penyesalan
Part 29 : Pergulatan Panjang


__ADS_3


Lagi-lagi Bella menelan ludahnya, pemandangan di depannya sangat extream...lelaki tampan dengan kumis dan jenggot yang tumbuh tipis dengan rambut berantakan tengah menatapnya tanpa jeda.


"Singkirkan wajah itu dariku!"


"Aku bilang aku akan menghukummu!"


"Menghukum seperti apa? Apa aku harus melakukan push up 10 kali?"


"Itu terdengar bagus untuk pemanasan!"


Gleg....


Wajah itu semakin dekat dengannya "Haruskah kita melakukan push up bersama?"


Kruuuk....kruuuukkk....


"Apa itu? Suara perutku? Astaga!!" Bella bergunam dalam hati.


"Kamu beruntung!" Sambil beranjak dari tempat tidur dan keluar ruangan.


"Apa itu tadi? Aku beruntung?" Berkata lirih.


30 menit kemudian Brian datang kembali, dengan senampan penuh makanan "Makanlah!"


Bella tersenyum, keberuntungan....memihak kepadanya. Dielusnya perut itu "Karena kamu pintar aku akan memberikan makanan yang lezat untukmu!"


Senyum Bella kembali merekah, makan siang telah tuntas dia laksanakan dan perutnya penuh serasa hampir meledak.


"Apa itu enak?"


"Iya, kenapa kamu tidak makan?"


"Aku akan makan setelah kamu selesai!"


"Hey kenapa tidak bilang? Aku sudah menghabiskan semuanya!"


Brian mendekat dan berbisik di telinga Bella "Aku akan memakanmu!"


"Hah....hah...ha....! Itu tidak lucu!"


Brian membopong Bella menuju tempat tidur, Bella mulai cemas "Turunkan aku!" Dan kemudian Brian menidurkan Bella dengan pelan.


Brian membuka kaos tipis yang dikenakannya, mata Bella terbelalak....ini bukan pertama kalinya. Tapi ini pertama kalinya dia melihat roti sobek milik Brian dengan jelas.


Lelaki itu lantas mendekati Bella, berusaha mencium bibir itu, bibir yang merona semakin merah karena kepedasan.


Bella menghindar "Aku baru selesai makan, mulutku pasti bau!"

__ADS_1


"Tidak apa-apa aku menyukainya!" Mencoba mencium sekali lagi.


Dan sekali lagi Bella juga menghindar "Aku harus menggosok gigi dulu!" Mendorong tubuh lelaki itu hingga terjengkang.


Brian tertawa "Apa kamu berusaha untuk menghindar?"


Tapi wanitanya sudah berlalu, menjauh meninggalkannya dengan sesuatu yang berdenyut-denyut tidak karuan.


***


"Kenapa lama sekali?" Tanya Brian setengah berteriak.


Bella keluar dengan muka basah "Apa kamu kepanasan?"


"Tidak!" Berjalan mendekati Brian.


"Apa kita bisa melakukannya lain kali saja!" Berbicara dengan wajah tertunduk malu.


"Memangnya apa yang harus dilakukan lain kali?"


Bella mengangkat wajahnya "Hukumanku! Aku tiba-tiba sangat mengantuk!" Berjalan ke arah ranjang dan membaringkan tubuh di sebelah Brian.


"Baiklah! Kita lakukan lain kali saja! Tidurlah!" Sambil mengelus lengan Bella lantas Brian menutupi bagian bawah tubuh Bella dengan selimut.


"Apa yang akan kamu lakukan sekarang?"


"Kembali fokus pada masalah pertama!" Berbicara dengan sinis.


"Tidak!"


"Kenapa berbicara seperti itu?"


"Apa yang salah dengan gaya bicaraku?"


"Entahlah, itu terdengar berbeda!"


"Apa kamu ingin aku fokus pada masalah yang kedua saja?"


"Aku tidak berkata seperti itu!"


"Aku mencintaimu Bella!"


Gleg....


"Jangan katakan itu!"


"Aku sangat-sangat mencintaimu!"


"Brian! Aku bilang jangan katakan hal seperti itu!"

__ADS_1


"Aku mencintaimu!" Berbisik pelan tepat di telinga Bella.


"Aku juga mencintaimu!" Jawab Bella.


Kini gantian Brian yang menelan liurnya sendiri, serangan yang tiba-tiba.


"Aku menginginkanmu!" Berbisik dengan deep voicenya.


Kini Bella menutup matanya, dia benar-benar pasrah kali ini dihadapan Brian.


Brian semakin tidak mampu menahan diri, lampu hijau menyala tepat di depannya dan dia dengan kecepatan penuh berusaha melewati jalan itu....


***


Bella dan Brian duduk gagu di atas ranjang dengan badan yang ditutupi dengan selimut, pakaian mereka entah dimana? Brian melemparnya tanpa arah.


Pertarungan yang panas baru saja berakhir, dan kini yang tersisa rasa malu yang menyeruak di dada mereka masing-masing.


"Aku akan keluar sore nanti! Kamu mau ikut?" Brian memulai sebuah percakapan.


"Ya!"


"Apa itu menyakitakan?"


Kini Bella menatap wajah disampingnya "Apanya?"


"Apa aku terlalu kasar padamu?"


"Tidak! Ini lebih baik dari yang pertama!"


"Maaf!"


"Tenanglah! Aku sudah mulai melupakan sakitnya!"


"Waktu itu aku sungguh tidak bisa menahan diri!"


Diraihnya tangan wanita disampingnya, diciumnya punggung tangan wanita itu dengan lembut "Aku benar-benar menyukaimu Bella! Aku sangat serius dengan ucapanku! Ayo kita lakukan ini sebaik mungkin! Sebuah pernikahan yang sesungguhnya, aku sungguh menginginkan banyak anak dari rahimmu! Mari kita besarkan mereka bersama!"


Ucapan tulus itu malah membuat Bella semakin malu "Astaga! Bukankah masih terlalu dini jika harus berbicara tentang anak!"


"Kenapa?? Kamu tidak mau mempunyai anak dariku?"


"Ya! Kamu sangat jelek! Ha...ha...ha...!"


Ditatapnya tajam wanita itu "Apa kamu menginginkan ronde ke dua?"


Bella menelan ludah, dia salah bicara. Tapi lelaki disampingnya itu benar-benar ingin memangsanya kembali.


Pergulatan panjang yang tidak bisa dihindari...

__ADS_1


Berlangsung hingga larut malam, hingga badan mereka melemas seolah tidak ada tulang yang menopangnya.


__ADS_2