
Banyak hal yang Bella bicarakan dengan Gabriel, termasuk untuk merahasiakan masalah ini dari Ayah dan Ibunya.
Usai bertemu dengan Gabriel, Bella berencana pergi untuk menemui sahabatnya.
Kini dia sudah berdiri di depan sebuah hotel mewah, sejenak hatinya ragu. Memilih untuk masuk atau tidak.
Hati kecilnya merasa ini adalah hal yang tidak benar, menemui seorang lelaki di tengah malam. Apalagi kini dirinya sudah bersuami.
Namun keraguan itu segera menghilang kala dia melihat sosok yang sangat dikenalnya.
Lelaki dengan setelan kemeja putih dan celana bahan hitam itu tengah berbincang dengan seseorang, dan saat matanya menangkap sosok Bella lelaki itu lantas menyudahi obrolannya dan berjalan mendekati Bella.
"Bukankah kamu akan mengunjungiku? Kenapa malah berdiri di sini?" Seutas senyum tersembul di bibir seksinya.
Bella hanya tersenyum menanggapi kata-kata sahabatnya, lantas lelaki itu meraih tangannya dan membimbingnya menuju ke dalam lobi hotel.
"Kamu sudah makan?" Lelaki itu bertanya tanpa menengok wajah sahabatnya.
"Belum!"
Sekarang lelaki itu menoleh kearah Bella "Selarut ini kamu belum makan?"
"Aku lumayan sibuk hari ini Dion!"
"Mau makan sesuatu? Bagaimana kalau kita makan di restoran depan?"
"Bagaimana dengan semangkuk ramyeon?"
Dion tersenyum, lantas berbisik di telinga Bella "Bagaimana bisa kamu meminta semangkuk ramyeon di malam selarut ini kepada seorang lelaki dewasa?"
Bella hanya tertawa terbahak menanggapi candaan dari sahabatnya.
Pintu lift terbuka terlihat dua orang yang saling berpagut mesra dan dengan cepat menyudahi aktivitasnya...mungkin dia tidak sadar bahwa lift telah mencapai lantai dasar dan secara otomatis terbuka. Dengan terburu-buru dua pasangan itu keluar dari lift. Sorang lelaki paruh baya dengan setelan jas yang sangat rapi dan seorang wanita muda dengan setelan baju kerja yang terbilang cukup seksi.
Dalam hati Bella bergunam "Untung hanya ada kita berdua!" Lantas memasuki lift.
Dion menekan angka 17, seketika pintu tertutup.
__ADS_1
"Sepertinya bermain di lift lumayan menegangkan!"
"Kamu bisa mencobanya jika ingin!"
"Benarkah? Bolehkah aku mencobanya?"
"Hemmm!"
"Tapi hanya ada kamu di sini!" Sambil menatap Bella dengan tatapan yang menggoda.
Bella membelalakkan matanya "Kenapa menatapku seperti itu? Kamu bisa mencobanya jika ingin dan tentu saja dengan kekasihmu!"
Dion tertawa terbahak melihat wajah sahabatnya yang terlihat memerah.
Setelah beberapa saat tawa itu mereda, kesunyian kembali merebak...sampai akhirnya Dion kembali berkata.
"Bukankah kamu kejam?" Bella hanya menoleh sesaat ke arah Dion, kemudian lelaki itu melanjutkan kembali kata-katanya "Kamu tahu apa alasanku mau belajar setekun itu?"
Kini Bella menatap lelaki itu dalam-dalam, terlihat kesedihan dalam wajah itu "Kenapa?"
Dion menghela nafas "Lupakan!" Lantas pintu lift terbuka "Ayo!" Kemudian lelaki itu berlalu meninggalkan Bella.
Bella masih berdiri terpaku.
Bella mempercepat langkah kakinya, mencoba mengejar lelaki di depannya.
Kini Bella dan Dion sudah berdiri di sebuah kamar hotel, kemudian Dion membuka pintu itu dan mempersilahkan Bella masuk.
"Sampai kapan kamu akan bersembunyi di sini? Jika kamu mau kamu bisa tinggal di Apartemenku." Kata Bella seraya menghempaskan tubuh mungilnya di atas sofa.
"Mau minum sesuatu?"
"Buatkan aku makanan!" kata Bella seraya beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Dion.
"Baik nyonya!" Kata Dion seraya berjalan kearah pantry, mengambil dua bungkus mie instan dari tempat penyimpanan.
"Apakah makanan hotel tidak enak? Kenapa kamu menyimpan begitu banyak mie instan di sana?"
"Aku sering bangun siang dan melewatkan jam makan pagi!"
__ADS_1
"Ha...ha...ha...ha...dasar pemalas!"
"Jadi apa yang membawamu ke sini?" Kata Dion.
Lelaki itu lantas menaruh panci di atas kompor, menuangkan air mineral ke dalamnya kemudian menyalakan kompor.
"Mmmm....kamu tidak bisa bekerja di tempatku!"
Dion sudah menduga hal itu, bagaimana mungkin Bella akan membiarkannya bekerja dengannya.
Dion menghela nafas, dimasukkannya bumbu mie instan ke dalam air yang mendidih itu.
"Kenapa? Kamu takut suamimu cemburu?"
"Bukankah kamu sudah tahu jawabannya? Bagaimana mungkin aku mempekerjakanmu!"
"Aaaaarrrgh! Ayolah Bella! Aku akan bosan jika harus di sini terus, bukankah aku bisa membantumu di sana?"
"Jangan bilang Papa kamu belum tahu tentang kepulanganmu!"
Dion tersenyum meringis.
"Apa kamu tidak merindukannya?"
"Siapa yang akan merindukan orang seperti itu!"
"Wah...kamu!"
"Sudah matang! Bisakah kamu mengambilkan acar lobak dan kimchi didalam lemari pendingin? Sementara aku menyiapkan ini!" Kata Dion kemudian menaruh sepanci penuh ramyeon di atas meja, menyiapkan mangkuk dan sumpit.
Tidak berselang lama Bella datang membawa dua kotak berisi kimchi dan acar lobak beserta dua buah bir kaleng.
"Bukankah kamu menyetir?"
"Aku akan minum sedikit!"
"Aku punya soda di sana, kamu bisa minum itu!" Sambil merebut dua kaleng bir dari tangan Bella.
"Ah....!"
__ADS_1
Dua orang sahabat itu akhirnya berpesta malam ini, dengan sepanci penuh ramyeon dan sebuah kehangatan. Pembicaraan semakin seru hingga akhirnya Dion melunak dan membiarkan Bella menenggak bir miliknya hingga tandas tidak tersisa.
Malam semakin larut ketika mereka mulai lelah dengan pembicaraan yang tidak tentu arah dan tanpa sadar mereka telah terlelap dalam mimpi indah....