Berbagi Cinta : Penyesalan

Berbagi Cinta : Penyesalan
Part 52 : Larangan-larangan Brian.


__ADS_3


Jam sudah menunjukkan pukul 20.00 malam, dan masih belum ada kabar dari Brian, sepertinya lelaki itu benar-benar marah kepada Bella.


Bella masih duduk di kursi kerjanya,


matanya sesekali melirik kearah luar jendela, salju turun dengan indahnya.


"Heeemmph!" Bella menghela nafas, beranjak dari duduknya dan merapikan meja kerja yang berantakan. Banyak yang harus dia kerjakan, tapi dia tidak bisa bekerja dengan pikiran kacau seperti ini. Pulang adalah pilihan terbaik, yang terakhir dia mematikan komputernya, meraih tas serta ponselnya, mematikan lampu ruangan dan berlalu pergi meninggalkan ruang kerjanya.


Butik sangat sepi...deretan baju-baju yang tertata rapi membuat senyumnya merekah dan dia berfikir sudah cukup bekerja dengan baik, tapi bagaimana dengan gaun pengantin pasangan muda itu, dua minggu lagi dia akan datang untuk mengambilnya. Kembali senyumnya menghilang dan berganti kekhawatiran, bagaimana tidak dua pekerjanya tiba-tiba mengundurkan diri. Dan itu berarti dia harus bekerja ekstra sampai dia menemukan pengganti.


Jalanan sepi dan sedikit menyeramkan, haruskah menelepon Brian? Tapi sepertinya lelaki itu sedang marah...haruskah dia menelepon dan meminta untuk dijemput? Ah...harga dirinya jelas menolaknya, hingga akhirnya tanpa terasa dia sudah berjalan cukup jauh dan aroma kopi seolah memanggilnya, segelas kopi manis untuk malam yang dingin.


Kini dia sudah duduk dengan manisnya di sebuah kedai kopi, diraihnya buku di dalam tasnya, buku yang belum rampung dibacanya. Membaca buku di hari yang melelahkan ditemani secangkir kopi dan pemandangan yang mengagumkan.


Senyumnya meleleh begitu saja, sambil memandangi pemandangan di luar jendela.


Sudah pukul 21.00, ponselnya masih sepi dan dengan berat hati dia menyudahi petualangan malamnya, menutup buku dan menaruhnya kembali di dalam tas.


"Waktunya untuk pulang!" Dan taxi yang tadi dipesan sudah datang menjemputnya.


***


Bella buru-buru masuk ke dalam rumah, mencopot sepatu dan mantelnya yang sedikit basah.


Bergegas dia masuk ke dalam kamarnya, membersihkan diri dan mengenakan pakaian tidur.


Saat dia keluar ruang ganti, sosok Brian sudah ada di sana, bersender seolah sedang menunggu untuk memakannya.


"Kamu baru pulang?"


"He em, aku keluar butik pukul delapan dan mampir ke kedai kopi sambil membaca buku kemudian pulang naik taxi!" Berbicara dengan sinis sambil merangkak ke ranjang.


Kini dia berbaring dan menyelimuti tubuhnya, Brian mendekat "Kamu marah?"


"Tidak!" Jawab Bella ketus.


"Benarkah?" Detik berikutnya tubuh itu sudah merangkak mendekatinya, memeluk Bella dengan erat dan menghujani Bella dengan banyak ciuman.


"Hentikan!"


Bukannya berhenti lelaki itu terus saja menghujaninya dengan ciuman, hingga ciuman itu mendarat di bibir Bella. Dan menetap lama di sana. Mencoba melumerkan bongkahan bibir yang membeku.

__ADS_1


"Bella!"


"Hemmmph!"


"Berhentilah bekerja terlalu keras!"


"Ya! Tapi tidak untuk saat ini!"


"Aku sudah mencari asisten rumah tangga, mulai besok kamu dilarang bangun pagi, memasak dan membereskan rumah!"


Bella terkejut, wanita itu beranjak dari tidurnya dan kini terduduk dengan bibir mengerucut. Bukankah Brian tahu dia tidak suka ada orang lain di rumah.


"Ini untuk kebaikanmu sayang, supaya dia bisa mengurusmu dengan baik. Sudah saatnya kamu fokus dengan dirimu, melelahkan jika harus melakukan semuanya!"


"Aku tidak lelah!"


"Berhenti bersikap imut di depanku, aku tidak akan berubah pikiran dan besok kosongkan jadwalmu. Kita harus pergi ke dokter!"


"Dokter?"


"Hemmm...sudah waktunya kita memikirkan momongan, ini sudah terlalu lama. Jadi ayo kita berkonsultasi!"


Hemmmph....akhirnya Bella mengerti, ini alasan dari sikap keras Brian.


"Maaf sayang aku sudah berpikiran buruk tentangmu!" Gunam Bella sambil mengelus lembut suaminya.


"Tidak!" Jawab Bella dengan manja "Aku hanya ingin memberikan belaian lembut untukmu! Aku menyayangimu!"


"Hemmm...kamu harus bertanggung jawab!"


"Bertanggung jawab?" Ucap Bella heran.


Brian lantas menunjuk bagian bawah tubuhnya "Dia sudah mulai mengeras!"


"Astaga!! Haruskah kamu mengatakan itu?"


"Apa salahnya berkata seperti itu kepadamu? Sepertinya dia juga ingin dielus oleh tangan lembutmu sayang!" Berbisik pelan di telinga Bella.


Dan detik berikutnya Brian kembali menghujani Bella dengan ciuman-ciuman yang menggairahkan, dan petualangan panjang itu tidak hanya berakhir di situ, terus merangkak menaiki bukit terjal dan berakhir di danau tanpa dasar.


***


Sudah hampir seminggu Bella tidak mengerjakan pekerjaan rumah, Brian bahkan bersikap terlalu berlebihan padanya, melarangnya melakukan ini itu dan lelaki itu dengan penuh kesabaran meladeni semua keperluannya.

__ADS_1


"Apa kamu tidak mendengar kata-kataku?" Hardik Brian membuatnya terkejut, kemudian lelaki itu merampas tas belanjaan yang tadi dia bawa dari dalam mobil.


"Apa salahnya membawa ini, toh ini tidak terlalu berat!" Gunam Bella.


"Ini berat sayang!"


Bella tidak berbicara sepatah katapun, diperlakukan terlalu istimewa ternyata menjemukan. Kini wanita itu berlalu dari hadapan Brian dan bersiap untuk merapikan barang-barang belanjaan. Namun baru saja dia memulainya, sebuah hardikan keras mengagetkannya.


"Apa yang kamu lakukan? Biar Bibi saja yang melakukannya!"


"Aku hanya ingin membantu membereskan ini!" Jawab Bella sambil merengut kesal.


"Tidak! Pergilah ke kamarmu dan istirahat!"


Dengan kesal dan sedikit kecewa Bella berlalu dari dapur dan berjalan ke arah kamarnya. Menjatuhkan diri di ranjang, dan berbaring dengan kebosanan yang teramat sangat.


Tidak berselang lama Brian datang ke kamar, membawakannya segelas susu hangat.


"Sayang! Ini baik untukmu! Minumlah selagi hangat!"


Belum juga menyentuhnya, Bella sudah merasakan mual di perutnya.


"Ayo bangun dan minum ini!" Ucap Brian mengulangi perintahnya.


Bella beringsut dari pembaringan dan menggambil susu yang disodorkan oleh Brian.


Sambil mengelus kepala Bella, Brian kembali berucap "Besok jadwal kita pergi ke dokter lagi sayang!"


"He em!" Dan segelas susu hangat yang memuakkan tandaslah sudah. Dua gelas susu setiap hari, berhenti mengkonsumsi makanan cepat saji dan kafein membuat Bella jengah.


"Istriku yang pintar!" Ucap Brian sambil mengambil gelas kosong dari tangan istrinya "Kamu bisa rebahan sebentar sampai makan siang siap!"


"Ya!"


Kemudian Brian keluar dari kamar, dan ini saat yang bagus bagi Bella untuk sedikit menyelesaikan pekerjaannya. Namun saat Bella tengah asik dengan tablet di tangannya tiba-tiba Brian datang.


"Apa susahnya menuruti perkataanku Bella? Jika kamu terus seperti ini lebih baik kamu berhenti bekerja!" Maki Brian dengan suara keras.


Bella melongo dipandanginya wajah suaminya, mencoba mencari sedikit kebohongan dari wajah tampan itu.


Namun Bella tidak menemukan itu.


Dan apa lagi sekarang? Bukankah membatasi aktifitasnya sudah cukup, kenapa dia juga harus berhenti?

__ADS_1


"Ayo kita fokus untuk program anak kita Bella! Apa kamu tidak ingin melihat bocah-bocah lucu berkeliaran dengan riang, memanggilmu Mama!"


Bella menangis, dia menginginkan itu...tapi Tuhan belum mengijinkannya, jika terus seperti ini bukan anak yang akan Bella dapatkan tapi rasa tertekan yang membuatnya semakin kacau.


__ADS_2