
Bella masih duduk terpaku, sudah lebih dari 30 menit lelaki itu meninggalkannya. Dan sudah 30 menit juga jiwanya melayang entah kemana.
Kini wanita itu mulai kembali ke alam sadar, dilihatnya lagi meja kerjanya, masih kacau. Seperti perasaannya.
Bella melangkahkan kaki kearah meja kerja, ditutupnya layar desktop. Dan dirapikannya meja itu, lantas dia kembali duduk.
Diraihnya ponsel di atas meja, menuliskan pesan singkat ke sahabatnya. Tidak berselang lama ponsel itu kembali berdering.
Pesan balasan dari Dera.
Bella meraih tas dan ponsel, kemudian beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan tempat itu. Tempat yang sudah hampir 3 minggu tidak dijamahnya.
***
Perjalanan ke tempat Dera memakan waktu cukup singkat, jalanan masih sangat lenggang.
Dia memarkirkan mobil tepat di depan klinik sahabatnya, kemudian masuk dan langsung menerobos ke ruang kerja Dera.
"Ada yang salah dengan dirimu? Kamu terlihat lain?" Dera bertanya tanpa beranjak dari duduknya.
Bella melangkah mendekati sahabatnya "Apa yang harus aku lakukan?"
Wanita lawan bicaranya itu hanya bisa mengernyitkan dahi, tidak paham arah pembicaraan Bella.
"Duduklah! Dan ceritakan apa yang terjadi!"
Bella menghempaskan diri di atas sofa, seraya menghela nafas.
Dera menapikan pekerjaanya dan beranjak dari tempat duduk, kemudian menyeduhkan secangkir teh hijau untuk sahabatnya.
"Minumlah saat hangat!"
Bella meraih cangkir itu dan mencecapnya sedikit "Ah....panas!!!"
"Hey....!!! Kubilang minum saat hangat!" Sambil tertawa cekikikan melihat wajah sahabatnya.
"Astaga!! Lidahku!"
"Jadi apa lagi yang terjadi sekarang!" Seraya duduk di single sofa.
"Sepertinya aku menyukai Brian!"
"Kamu sudah menyukainya saat pertama bertemu di restoran waktu itu!"
"Tapi kali ini aku benar-benar menyukainya!"
"Benarkah?"
Melihat reaksi sahabatnya yang biasa saja membuat Bella menjadi sedikit emosi "Aku bilang aku menyukai Brian, lelaki bajingan itu!"
"Aku mendengarkanmu! Berhentilah berteriak! Tidak masalah jika menyukainya, tapi jangan terlalu dalam!"
"Nasehat macam apa itu?"
"Hey....setidaknya kamu harus membiarkan satu orang masuk dan memenuhi ruang kosong dihatimu!"
"Aku pergi!" Beranjak dari duduknya.
"Kamu mau kemana? Minum dulu tehnya, ini teh hijau premium yang aku dapatkan dari wali pasienku!"
"Menjemput Brian, aku tidak akan membiarkan lidahku terbakar untuk yang kedua kalinya! Daaa....!" Berbalik badan seraya memberikan flying kiss ke arah Dera.
Dera hanya menghela nafas, sekilas matanya menangkap secangkir teh hangat di atas meja. Diraihnya teh itu, diminumnya perlahan.
__ADS_1
***
Di depan lobi kantor Brian.
Bella terlihat bersandar di mobil klasik miliknya, meraih ponsel.
"Aku menunggu dibawah, tidak perlu terburu-buru! Aku akan sedikit bersantai!" Menuliskan pesan singkat ke Brian.
Dilihatnya lagi ponsel ditangannya, tidak ada balasan "Mungkin dia sibuk!"
30 menit kemudian....
Kaki Bella mulai terasa kebas, dilihatnya lagi ponsel ditangannya, memastikan apakah ada pesan yang terlewatkan olehnya.
...dan ternyata tidak ada.
30 menit berikutnya...
"Apa aku masuk saja? Apa tidak masalah?" Berjalan mondar-mandir dan sedikit bingung.
"Ah....aku akan masuk!" Memindahkan mobilnya ke tempat yang seharusnya dan memasuki lobi.
Menghampiri meja resepsionis "Bapak Brian ada?"
"Apa anda sudah membuat janji?"
"Tidak!"
"Maaf...anda harus membuat janji terlebih dahulu!"
"Apakah istrinya juga harus membuat janji?"
Kata-kata Bella sontak membuat dua karyawan cantik itu kelabakan.
"Ah...maaf Bu, kami sungguh minta maaf, mari saya antar!"
"Mari!" Sambil mempersilahkan Bella untuk berjalan duluan.
"Tidak...tidak! Kamu duluan!"
Dua orang itu menaiki lift menuju ke tempat Brian berada.
Saat pintu lift terbuka, Bella melihat Brian berjalan dengan tergesa.
"Sampai disini saja, terimakasih!" Kata Bella sambil menundukkan badan.
Bella mengikuti Brian "Kenapa dia berjalan begitu tergesa? Apa dia begitu sibuk!" Bergunam dalam hati.
Bella berhenti berjalan "Aku akan menunggu dibawah saja!" Sambil berbalik, kembali berjalan.
Suara derap langkah kaki...semakin lama semakin mendekat...
Sebuah rengkuhan mendarat tepat dipunggung Bella diiringi sebuah helaan nafas panjang yang membelai telingannya, membuatnya bergidik ngilu.
"Kenapa tidak memanggil?" Berbicara sambil berusaha mengatur nafas.
"Kamu terlihat sibuk!" Sambil memalingkan wajah ke samping dan tanpa sengaja bibirnya menyentuh pipi Brian "Ah...maaf!" Sambil menepis pelukan Brian dan berusaha menjauh.
"Ada Papa di belakang!"
Sontak Bella terkejut! Diraihnya tubuh kekar didepannya, dipeluknya dengan erat.
"Aku merindukanmu!"
Brian tersenyum "Aku juga merindukanmu!"
__ADS_1
"Apakah Papa melihat kearah kita?"
"Hemmmm.....semakin mendekat!"
Bella semakin mempererat pelukannya begitu juga dengan Brian.....Brian menyukai ini! Menyukai pelukan dan aroma tubuh Bella.
"Oh...papa!!!" Bella melongo saat menyadari Gabriel muncul dari sudut lorong di depannya.
Apa ini??? Brian menipunya???
"Haruskah kalian bermesraan seperti itu ditempat kerja?" Hardik Gabriel sambil tertawa.
Bella melepaskan pelukannya "Beraninya kamu menipuku?" Setengah berbisik seraya menghampiri Papa mertuanya.
"Ini tidak seperti yang Papa lihat! Kami tidak bermesraan!"
"Ha...ha...ha...ha...Papa menyukainya, menyukai kedekatan kalian, tapi sepertinya mata-mata dibalik jendela itu tidak menyukainya!" Seraya memicingkan mata ke kanan dan kiri.
Bella melihat kiri kanan.
Aaa....berarti sejak tadi ada puluhan pasang mata yang memperhatikan mereka berdua.
"Kamu boleh pulang Brian sisanya biar Papa yang urus!" Kata Gabriel.
"Tidak perlu Pa! Bella bisa menunggu!"
"Tapi sepertinya lelaki itu tidak bisa menunggu lagi! Pulanglah!"
Dengan fasih Brian kembali memeluk Bella "Ayo kita pulang!"
"Brian!!!" Berusaha menyingkirkan tangan itu dari pinggangnya.
"Ayo pulang!"
"Selesaikan dulu pekerjaanmu!"
"Kamu bisa mengunggu?"
"Ya!"
"Ayo ke ruanganku!"
Bella mengekor di belakang.
"Jangan biarkan siapapun masuk!" Kata Brian kepada sekretarisnya.
"Memangnya pekerjaan apa yang akan kamu lakukan?"
"Nanti kamu juga tahu!" Seraya membuka pintu dan mempersilahkan Bella masuk.
Brian memasuki ruangan kemudian menutup pintu, membuka jas dan menggantung jas itu di tempatnya.
"Kamu mau minum sesuatu?"
Bella menggeleng.
"Katakan jika ada yang kamu inginkan!" Duduk di kursi kerjanya, membuka map di depannya, membaca dengan serius.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Bella.
"Kemarilah!"
Bella mendekat.
Diraihnya pinggang ramping itu, ditariknya...sekarang posisi Bella...duduk tepat dipangkuan Brian.
__ADS_1
"Kamu!!!" Mencoba melepaskan diri.
"Berhentilah bergerak! Biarkan aku membaca beberapa lembar dan ayo kita pulang setelah ini!"