Berbagi Cinta : Penyesalan

Berbagi Cinta : Penyesalan
Part 59 : Aku Bella Akan Menjadi Satu Tingkat Lebih Tangguh!


__ADS_3


Ini bukan sebuah akhir bukan?


Belum tentu kalung itu pemberian Brian, dia hanya perlu bersabar sampai semua bukti terkumpul dengan sempurna.


Dan dalam hati dia bersyukur karena masih memiliki Dion disisinya, semua terasa jauh lebih mudah.


Kini dia hanya perlu bersabar sampai waktu datang dan menunjukkan kebenarannya.


***


Bella mencoba menenangkan diri, sebelum akhirnya dia sampai di rumah.


Dan segalanya kembali berjalan seperti biasa, bukankah dia harus menjadi pemain yang baik jika ingin semuanya berakhir seperti yang dia harapkan.


Dan lelaki itu masih dengan wajah manisnya, menggodanya dengan sebuah cinta tulus. Bella mengikuti arus tetapi tidak benar-benar meresapinya. Hatinya telah terlampau kuyu atas kebohongan-kebohongan yang terus menempatkannya dalam kegoblokan yang teramat sangat.


***


Pagi masih sedingin biasanya, ketika Bella terbangun dengan badan setengah remuk. Perjamuan malam kemarin benar-benar menguras tenaganya.

__ADS_1


Wanita itu kini masih tidur terkapar di ranjangnya, sedangkan Brian sedari tadi sudah pergi dengan kendaraan pribadinya menuju kantor.


Namun ada hal besar yang harus dia lalukan, secepat kilat wanita itu menghempaskan selimutnya dan beranjak menuju kamar mandi.


Selang 30 menit berlalu, perempuan itu telah berpakaian rapi. Kini dia tengah duduk di depan meja rias, memandangi pantulan gambar dirinya di cermin. Sebuah bentuk yang sempurna...namun tidak untuk jalan hidupnya.


***


Sebuah mobil klasik melesat ke jalanan beraspal dengan kecepatan cukup tinggi, dia merasa baik-baik saja sekarang. Menguatkan diri adalah hal yang terpenting sebelum berperang, dia sudah mendapatkan kepastian dari Dion. Kini dia benar-benar sadar, kebaikannya telah disalah gunakan. Bukankah kini saatnya dia untuk berontak? Dipandanginya lagi wajahnya dari pantulan kaca spion didepannya. Bibirnya lebih terang dari biasanya, dia menyingkirkan warna-warna pastel yang selalu menjadi kesehariannya. Dia ingin tampil garang hari ini, setidaknya itu bisa menutupi sedikit kerapuhannya.


Mobil masih melaju dengan kecepatan tinggi, menuju sebuah tempat yang akan mencatat satu sejarah baru dalam kehidupannya. Nyatanya penghianatan itu begitu menyakiti dirinya, tubuhnya serasa terkoyak. Tapi dia tidak mengeluh. Bukankah Tuhan lebih tahu segalanya, dan dia tahu pasti Tuhan sengaja memberikan jalan yang sulit baginya, agar dia benar-benar bisa menikmati arti dari sebuah kebahagiaan.


Bella kembali menutup pintu mobil dan berjalan dengan tegap menuju klinik itu, sekelebat terlihat bayangan dari tubuh sahabat tercintanya. Apa dia datang terlalu awal? Bukankah ini masih jam sibuk? Dia kembali memendarkan pandangan ke sekeliling, begitu banyak kendaraan yang terparkir di sana. Dan itu berarti sahabatnya tidak cukup memiliki waktu untuk dirinya.


Tiba-tiba dia merasa kembali menjadi pribadi yang sebelumnya! Bukankah bukan itu tujuan awalnya? Kenapa dia harus begitu perduli dengan urusan Dera? Persetan dengan wanita licik itu.


Bella kembali memantapkan langkahnya, berjalan dengan penuh percaya diri dengan gestur sempurna bak seorang model yang tengah berjalan di atas catwalk. Namun tidak dengan wajahnya, wanita itu tetap menyunggingkan sebuah senyuman termanisnya. Hari ini dia akan menjadi seorang artis berbakat.


Bella membuka pintu klinik, aroma yang khas. Sebuah pengharum ruangan beraroma kopi, itu atas permintaanya karena dia sedikit kewalahan dengan aroma yang tercium dari hewan-hewan berbulu itu. Dan Dera masih tetap menggunakannya setelah dia memutuskan untuk menjadi benalu dari kehidupan rumah tangganya.


Hal pertama yang ia dapati adalah senyum itu "Kamu datang? Masuklah!"

__ADS_1


Sekilas Bella melirik leher wanita itu, kalung dengan bandul sebuah batu intan dengan cahaya biru yang berkilau masih menempel di leher jenjangnya. Terlihat cantik....sangat cantik! Bukankah dia yang seharusnya mengenakan itu? Ah sudahlah toh dia bisa membeli lusinan barang seperti itu dengan uangnya sendiri.


Tanpa berkata-kata Bella memasuki tempat itu dan terus berjalan menuju ruang kerja sahabatnya. Kemudian duduk di sebuah sofa berbahan kulit berwarna hitam mengkilap keluaran sebuah brand ternama.


Bukankah dia yang membelikan satu set sofa itu, berharap sahabatnya bisa sedikit bersantai di tempat yang nyaman di sela-sela kesibukannya. Tiba-tiba otaknya bergerilya! Apakah Brian pernah mengunjungi tempat ini tanpa sepengetahuannya? Mencari-cari kesempatan di sela-sela jam padat Dera untuk sekedar melepas rindu dengan sedikit pagutan mesra. Tiba-tiba hatinya menjadi kuyu dan beku karena pada saat yang sama dia seperti benar-benar melihat Dera dan Brian berciuman dengan mesra.


Lamunan Bella buyar seketika, ketika pintu terbuka dan menimbulkan suara berderit yang membuat ngilu di telinga.


"Maaf harus menunggu lama!" Ucap wanita itu sambil menenteng sebuah nampan yang berisi dua buah cangkir dengan kepulan asap diatasnya.


Bella tersenyum, dia tidak tahu harus memulai dari mana. Namun kemudian sesuatu mengalir begitu saja dari kerongkongannya "Kenapa tiba-tiba menghilang malam itu? Aku mencarimu hampir disetiap sudut!"


Dera beku dan Bella seperti tahu apa yang sedang wanita itu pikirkan! Sebuah ketakutan yang sangat.


Melihat lawannya tidak berkutik tiba-tiba Bella seperti mendapatkan sebuah kekuatan baru.


"Maaf aku ada urusan mendadak!" Kata Dera sambil berjalan mendekatinya dan menaruh nampan di meja "Minum ini! Teh hijau kesukaanmu!"


"Kamu selalu mengerti apa yang aku butuhkan! Oh...bukankah itu kalung yang aku inginkan!" Kata Bella sontak membuat Dera terkejut "Aku datang minggu lalu dan mendapati barang itu sudah habis terjual, bagaimana kamu bisa mendapatkannya?"


Dera kembali membatu, dan seringai itu kembali terlihat di bibir dengan pulasan warna merah menyala itu.

__ADS_1


__ADS_2