
Dan akhirnya toh Dion tidak sampai hati membiarkan Bella pulang seorang diri, lelaki itu menyetir untuk Bella dan kemudian kembali dengan menggunakan taxi. Rumah Bella masih sepi saat dia dan Bella sampai di rumah bergaya minimalis modern itu. Sepertinya Brian belum pulang.
Bella memaksanya untuk tinggal sejenak, namun Dion menolak. Meskipun Bella melontarkan berbagai macam kata rayuan.
"Lain kali saja, ini sudah terlalu larut!" Padahal waktu itu jam baru menunjukkan pukul sembilan malam, sebenarnya bukan itu alasan Dion yang sesungguhnya. Dia sebenarnya sangat malas jika harus bertemu dengan Brian, terlepas dari Brian yang berhasil merebut Bella dan menjadikannya lelaki nomor dua. Bukan pula karena wajah Brian lebih tampan darinya, tetapi Dion benar-benar tidak menyukai lelaki tersebut. Dan menghindarinya jauh lebih baik dari pada dia harus menunjukkan wajah masam kepada lelaki yang dicintai oleh wanitanya tersebut.
Jadi intinya tetap sama, dia hanya ingin menjaga hati wanitanya.
***
Bella memasuki rumah dengan wajah masam, bukan hanya karena Brian belum pulang, gagal menemui Dera, ataupun gagal makan ayam goreng dengan soju di malam yang menggairahkan tetapi karena sebesar apapun usahanya untuk merayu Dion agar mau mampir atau setidaknya menemani dirinya sampai Brian pulang tidak pernah menjadi kenyataan.
Sebenarnya apa yang membuat Dion begitu enggan masuk ke dalam rumahnya?
Ah...entahlah! Mau dipikir sedalam mungkin Bella tetap tidak menemukan jawabannya.
Asisten rumah tangganya datang tergopoh "Nona baru pulang! Mau makan sesuatu Nona? Biar Bibi siapkan!"
"Tidak Bi! Aku sudah makan!"
"Baiklah! Panggil Bibi jika Nona membutuhkan sesuatu!" Lantas perempuan itu menghilang dibalik dinding.
Bella enggan membersihkan badan, dia malah merebahkan dirinya di sofa.
Tiba-tiba dia mengingat sesuatu, Dera!!! Kejahilan Bella muncul lagi. Diraihnya ponsel di dalam tasnya. Sebuah pesan tertulis di sana.
"Bukankah terlalu extream jika bermain di dalam mobil? Setidaknya kamu harus memastikan apakah tidak ada orang lain di sekeliling kalian!"
Dan pesan terkirim.
Tidak ada balasan...
Apa Dera masih bermain?
Tidak berselang lama ponsel berdering, sebuah panggilan masuk. Bella mengangkat telepon. Suara Dera terdengar parau dan sedikit gugup, ada apa dengan wanita itu? Bukankah dia baru selesai bersenang-senang!
"*Kamu datang?"
"Hemmm...aku melihatmu bersama seorang lelaki, kemudian aku memutuskan untuk kembali. Bukankah aku cukup pengertian?"
__ADS_1
"Kamu tidak mengenali kekasihku?"
"Yang jelas itu bukan Ryon, tapi sepertinya tubuhnya sangat familiar, apa dia seseorang yang aku kenal!"
"Ah...tidak...tidak...kamu tidak mengenalnya!"
"Kapan kamu akan mengenalkan dia kepadaku?"
"Nanti, sudah dulu ya!"
"Hemmm....selamat bersenang-senang*!"
Kemudian percakapan berakhir, Bella kemudian beranjak dari sofa dan berjalan menuju kamarnya.
"Membersihkan diri kemudian tidur!"
***
Bella masih sepenuhnya dikuasai oleh rasa kantuk. Namun bagian lain dari dirinya meronta dan merongrongnya hingga wanita itu akhirnya menyibakkan selimut dan berjalan ke luar kamar.
Aroma semerbak membuat dirinya tidak mampu mengendalikan diri, perutnya yang sedari tadi berontak meminta untuk di isi, kini semakin menjadi-jadi.
Sebuah suara membuatnya sedikit terkejut "Apa kamu melupakan makan malam?"
Melewatkan apanya, dia bahkan berniat melahap semua ayam goreng yang semalam dibelinya. Jika saja Dion tidak marah dan merebut ayam tersebut.
"Tidak!" Ucapnya sambil menggelengkan kepala "Tapi aku sangat lapar!"
"Makanlah!" Ucap Brian sambil mengambilkan lauk dan menaruhnya di atas mangkuk nasinya.
"Kamu tidak makan!"
"Aku nanti saja!"
"Kamu pulang jam berapa sekarang?"
"Mmmm....sekitar pukul 12 malam!"
"Ouw....!"
Kemudian Bella kembali fokus pada makanannya, perutnya yang lapar dan makanan yang menggugah selera. Dua kombinasi yang pas.
__ADS_1
Usai melahap makanannya, Bella beranjak dari kursinya dan membereskan bekas makan paginya.
"Biarkan Bibi saja Non!"
"Tidak apa-apa! Biar aku saja! Apa Bibi akan mencuci pakaian?"
"Iya Non!"
"Ada beberapa pakaian kotor di kamar, tunggu sebentar akan saya ambilkan!"
"Baik Non!"
Usai mencuci tangan Bella berjalan ke arah kamarnya, menggambil keranjang pakaian kotor. Melihat betapa ceroboh suaminya, akhirnya Bella memutuskan untuk memeriksa pakaian Brian, siapa tahu ada hal penting yang tertinggal di sana.
"Hemmmm....apa ini?" Bella menemukan beberapa kertas yang sudah terlipat-lipat di kantong celana Brian. Bella meraih kertas itu satu-persatu, merapikan dan membacanya.
Satu bon makan di restoran jepang, satu struk pembelian sebuah tas bermerek, dan kartu parkir.
Bella lantas membuang tiga kertas itu dan kemudian membawa keranjang pakaian kotor untuk di cuci.
***
Kini Bella dan Brian tengah duduk di ruang tengah menikmati secangkir teh hangat dan sekotak macaroon kesukaan Bella.
"Terimakasih untuk ini, ini sangat enak!" Ucap Bella sambil menunjukkan macaroon di tanganya.
"Iya sayang!" Jawab Brian, masih dengan majalah yang sedang dia baca.
"Semalam bertemu klien di luar atau mengerjakan pekerjaan di kantor sayang?"
"Di kantor sayang! Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan!"
"Kamu pasti sangat lelah! Apa kamu makan dengan baik?"
"Hemmm...tentu! Aku makan Jajangmyeon dan kimbab bersama Calvin!"
"Syukurlah kamu makan dengan baik!" Jawab Bella dengan senyum sumringah yang tersungging di bibir manisnya.
"Briang berbohong lagi!" Gunamnya. Jelas-jelas dia mengunjungi restoran jepang tepat pukul sembilan malam. Dan keluar dari sebuah departemen store pukul 10 malam, ada sebuah struk pembelian sebuah tas mewah.
Hati Bella bergemuruh riuh, kenyataan pahit apa lagi yang akan dia dapatkan???
__ADS_1