
"Sepertinya kamu butuh istirahat!"
Brian tidak mengerti arah pembicaraan Bella.
"Aku yang akan mengurus perusahaan, sementara kamu di rumah saja. Mengurus rumah tentunya!"
Brian hanya melongo, detik berikutnya.
"Sayang....kamu tidak sungguh-sungguh bukan?"
"Tentu saja sungguh-sungguh!"
"Tapi....!"
"Kamu tidak mempercayaiku?"
"Bukan seperti itu Bella!"
"Tidak ada penolakan! Mengerti!"
Brian mengangguk.
Sejujurnya dia membenci sikap Brian yang seperti itu.
Sedikit penakut dan penurut.
Sikapnya yang sulit ditebak, jantan dan selalu mendominasi itu yang membuat Bella selalu penasaran dengannya.
Detik berikutnya dua manusia itu hanya terdiam, menandaskan santap malam mereka.
"Biar aku saja yang mencuci piringnya sayang!" Kata Brian saat mereka usai makan.
"Baiklah!" Beranjak dari duduknya dan berlalu pergi.
Brian hanya melongo.
"Heeeeh!!!" Menghembuskan nafas dalam.
"Aku memang layak diperlakukan seperti itu!" Sambil mengambil piring-piring kotor dan merapikan meja.
***
Pagi hari...
Bella sudah rapi dengan setelan baju kerjanya.
Brian baru saja membuka matanya, saat semerbak aroma parfum memenuhi ruangan dan membelai indra penciumannya.
Istrinya sudah berdandan cantik, sebuah Blouse putih dengan lengan panjang, mini skirt ungu muda berbahan brukat, sebuah sepatu high heels berwarna putih.
"Sayang....!!!" Panggil Brian dengan suara manjanya.
Bella hanya memicingkan mata sebentar, melihat lelakinya yang terlihat begitu menggemaskan meskipun baru terbangun dari tidurnya.
"Kamu mau kemana?"
"Bukankah kemarin aku sudah berbicara?"
"Tapi kamu masih sakit!"
Bella menatap cermin, benar saja, kepalanya masih terasa sakit....ah....untung saja tempurung kepalanya sangat kuat.
"Aku baik-baik saja!"
Brian kembali merebahkan diri di kasur, mencoba memejamkan matanya...namun tiba-tiba sebuah pikiran bodoh melintas di kepalanya.
__ADS_1
Bagaimana kalau Bella kesulitan? Bagaimanapun juga mengelola perusahaan bukanlah keahliannya.
"Ah....tenang saja Bella ahli dalam segala hal!"
Bagaimana kalau Papanya sampai tahu bahwa dia menjalin hubungan dengan Claire? Dan rumah tangganya dengan Bella terancam berantakan?
"Ah...Bella pandai menangani masalah!"
Kemudian dia kembali memejamkan mata....
Satu pikiran bodoh melintas kembali di kepalanya.
"Bagaimana kalau orang-orang di kantor mencari kesempatan menggoda Bella!"
Brian membuka mata...
Masalah yang terakhir sungguh tidak bisa dia abaikan begitu saja.
Brian beranjak dari tempat tidurnya dan bergegas ke kamar mandi "Tunggu aku! Kita berangkat bersama!"
***
Pukul 07.00 tepat, Bella dan Brian sudah siap berangkat ke kantor.
Sampai di lobby depan, Calvin sudah menunggu mereka.
Calvin membukakan pintu untuk Bella.
"Selamat pagi Bu!" Bella hanya mengangguk seraya tersenyum ke arah Calvin.
"Tumben sekali kamu bersikap formal?" Timbal Brian.
"Pagi Tuan muda!" Menyapa Brian kemudian membuntuti Bella.
"Saya sudah menyiapkan berkas yang Ibu inginkan dan menaruhnya di ruangan Ibu!"
"Pukul sembilan pagi Bu!"
"Baiklah! Saya ke atas dulu ya!"
"Iya Bu!" Jawab Calvin sambil membungkukkan badan.
"Kamu berbicara tentang rapat? Rapat apa? Kenapa saya tidak tahu? Lantas berkas apa yang di minta Bella!" Brian memberondongi Calvin dengan banyak pertanyaan.
Calvin melongo, lantas berbisik di telinga Brian "Memangnya Tuan besar belum berbicara dengan Tuan muda?"
"Apa itu?" Tanya Brian semakin penasaran.
Dan ini benar-benar di luar pemikiran Brian.
Gabriel menyerahkan jabatan kepemimpinan kepada Bella tanpa berembuk dahulu dengannya.
"Ada yang tidak beres!" Gunamnya kemudian dia menelepon Papanya.
"Kamu lebih cepat dari yang Papa pikirkan!"
"Ada apa ini Pa!" Tanya Brian penasaran.
"Sepertinya kamu belum bisa mencerna sepenuhnya kata-kata Papa waktu itu Brian! Papa tidak akan mentoleransi kesalahan kedua."
Deg...
"Apa Papanya tahu tentang masalahnya dengan Bella!"
"Papa di mana?"
"Kenapa?"
__ADS_1
"Brian ingin bertemu!"
"Sebentar lagi juga kita akan bertemu!" Seraya menutup panggilan teleponnya.
Brian gagap, Calvin hanya memandanginya sedari tadi...dengan penuh rasa iba.
"Ayo!" Sambil bergegas menuju ke ruangannya.
"Maaf Tuan muda!"
"Ada apa lagi?"
"Ruangan anda sekarang bukan di sana!"
"Hah!!! Lantas?"
"Ruangan wakil Presdir!"
"Apa???"
"Astaga!!! Bella!" Tidak mengindahkan kata-kata Calvin, Brian tetap bersikeras memasuki ruangannya. Membuka pintu dengan kasar, dan melihat Bella sedang duduk dengan sebuah berkas di tangannya.
Menyadari kedatangan Brian "Kenapa ke sini?" Tanpa sedikitpun memandang wajah suaminya.
"Sayang!!! Kamu tidak bermaksud menyingkirkanku bukan?"
Bella menaruh berkas di atas meja, menatap Brian "Aku sudah berbaik hati mengijinkanmu datang ke perusahaan, apa kamu mau pulang sekarang dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga?"
Calvin tidak kuasa menahan tawanya, dengan mulut yang ditutup dengan tangan, tetapi tetap saja suara tawanya masih terdengar.
Brian melirik ke arah Calvin sambil mendengus kesal.
"Bella!"
"Kembali ke ruanganmu dan lakukan apa yang seharusnya kamu lakukan!"
"O ya Calvin bagaimana dengan persiapan untuk rapatnya?"
"Semuanya sudah siap Bu!"
"Kembalilah ke ruangan kalian, aku butuh berkonsentrasi! Mmmmm....Calvin! Bagaimana dengan orang yang kemarin kamu janjikan!"
"Kapan Ibu bisa menemuinya!"
"Ah...hari ini cukup padat, bagaima kalau besok siang!"
"Iya Bu! Saya akan berbicara dengannya!"
"Apa dia kompeten!"
"Tentu!"
"Ok!" Sambil tersenyum mengedipkan mata.
Calvin undur diri dan Brian masih berdiri mematung di hadapan Bella.
"Sayang kamu juga harus kembali!"
"Tidak!" Berkata dengan manja sambil menggelengkan kepala.
Calvin menyadari situasi, dengan cekatan berbalik badan dan menggandeng tangan Brian dan membawanya ke luar "Kami permisi dulu Bu!"
"Calvin! Lepas!"
"Tidak!"
"Kenapa mereka sangat kekanak-kanakan!" Menghela nafas dan kemudian melanjutkan kembali aktivitasnya.
__ADS_1