Berbagi Cinta : Penyesalan

Berbagi Cinta : Penyesalan
Part 77 : Kamu Tidak Perlu Melihat Kearahku


__ADS_3


"Bella!"


"Ya!"


"Kamu datang?"


"Aku hanya mampir untuk makan!" Tapi Bella tidak mampu lagi menelan apa yang ada di mulutnya, tenggorokannya terasa tercekat. Dan dia merasakan panas yang mulai merayap di kedua pelupuk matanya.


Sebelum segalanya menjadi tidak terkendali, dia berniat mengakhirinya, menenggak habis air putih dalam gelas di sampingnya.


Kemudian beranjak dari tempat duduk dan bergegas pergi. Namun tangan itu lagi-lagi menahannya. Tangan yang silih berganti meraih dan melepaskannya, kali ini bahkan membuatnya terjatuh dalam jurang tanpa dasar. Apa dia sungguh tidak tahu? Meletihkan berada dalam udara penuh kegelapan berharap kapan akan sampai pada dasarnya, sambil berandai-andai apakah saat terjatuh nanti jiwanya akan langsung terlepas dari raga? Atau dia menemukan seluruh bagian tubuhnya remuk dan hancur menunggu saat-saat kematiannya dengan kesakitan yang teramat sangat? Atau dia akan bertemu ribuan hewan melata dengan bisa beracun yang akan menghabisinya dalam hitungan menit? Tidak ada yang tahu...tapi semua itu terasa menyakitkan.


"Lepas Brian, aku tidak ingin ada kesalahpahaman di sini! Tapi bukan melepaskan genggaman itu, Brian justru bertindak berlebihan. Merengkuh erat tubuhnya dari belakang "Kamu gila? Lepaskan aku! Jangan sampai orang lain salah paham tentang ini!"


"Biarkan aku seperti ini, sebentar saja!"


"Ah...sepertinya kamu salah paham! Aku ke sini untuk mengantarkan gaun milik Dera, dan asal kamu tahu baju yang kini kamu kenakan aku yang membuatnya. Jangan membuang waktuku dengan berekspektasi berlebihan!" Perlahan rengkuhan itu merenggang, kemudian terlepas. Bella bisa melihat genangan air panas yang mengambang di pelupuk mata Brian.


Tubuh Brian melunglai, jiwanya hancur, baru saja dia disadarkan pada kenyataan bahwa dia bukanlah apa-apa bagi Bella. Wanita itu bahkan tanpa keberatan membuatkan baju pernikahan untuk dirinya. Apakah benar kini tidak ada lagi dirinya dalam hati wanita itu?


Bella meninggalkan rumah mewah itu dengan tergesa, memasuki mobilnya dan melaju dengan kencang. Segala yang tertahan akhirnya terlepaskan, tangisnya pecah. Mengiringi perjalanan singkat menuju apartemen miliknya.


***

__ADS_1


Acara pernikahan berlangsung...jelas tergambar kebahagiaan dalam wajah Dera namun tidak dengan Brian. Lelaki itu jelas berharap sebuah keajaiban datang padanya, agar dia bisa melenyap dari muka bumi, sebab menghindari pernikahan ini sangatlah mustahil baginya.


Namun kejadian berikutnya benar membuktikan, bahwa Tuhan tidak pernah membenci Brian. Tiba-tiba sebuah keajaiban datang persis sesaat sebelum mereka mengucap janji.


Dua orang lelaki berjalan menembus keramaian, dari gaya berpakaiannya bisa dilihat dengan jelas, mereka tidak bermaksud untuk menghadiri acara itu dan ikut berbaur dengan tamu yang lain. Seorang pemuda dengan umur 20 tahunan, dengan tubuh seputih kapas mengenakan setelan celana jeans dengan banyak robekan di bagian paha dan lutut dengan sebuah kaos hitam panjang. Dan sebuah topi hitam kebanggaannya. Satunya lagi seorang pemuda yang usianya nampak lebih tua dari pemuda yang pertama, wajahnya dipenuhi oleh begitu banyak memar dan darah.


Tamu yang hadir tampak bergidik ngilu, tidak perduli berapa puluh mata yang memandang, dengan tenang pemuda itu menggiring teman perjalanannya. Saat sampai di depan Brian dan Dera, pemuda itu dengan keras mendorong tubuh itu hingga nyaris mengenai Dera. Yang saat ini bisa dipastikan tubuhnya menggigil hebat. Ya dia amat ketakutan, bukan karena tubuh penuh luka itu. Tetapi karena dia kenal betul siapa lelaki itu.


"Hey nak apa yang kamu lakukan?" Tanya Gabriel dengan lantang, meskipun dia tidak menyukai pernikahan ini. Tetapi merusak momen seperti ini bukanlah hal yang terpuji.


Pemuda itu tertawa "Kalian seharusnya berterimakasih kepadaku! Sebab aku datang membawa ayah dari bayi dalam rahim perempuan itu!" Sambil menunjuk ke arah Dera.


Perempuan itu menggigil semakin hebat.


***


"Kamu tidak bisa muncul dan mengaku sebagai ayah anak ini!"


"Kenapa?"


"Bukankah jika dia hidup bahagia kamu juga bisa ikut menikmati kebahagiaan itu?"


"Aku tidak tahu apa yang kamu katakan!"


"Astaga kamu terlalu naif! Kamu pikir aku menikahi Brian hanya karena cinta? Dia punya segalanya, segalanya yang membuat hidup anak kita berkecukupan. Biarkan dia menjadi anak Brian sampai saat yang tepat. Dan saat itu terjadi kamu bisa muncul dan mengatakan kebenaran!"

__ADS_1


Lelaki itu tertawa licik "Aku butuh uang!"


"Berapa yang kamu butuhkan?"


***


Namun nyatanya kenyataan terkadang tidak seindah bayangan kita. Bahkan saat Dera merasa segala telah berjalan sesuai dengan rencananya, tiba-tiba seorang perusuh datang dan mengacaukan segalanya. Kebohongan itu terungkap, menorehkan malu dan membuatnya kehilangan satu kesempatan berharga.


***


"Terimakasih!"


"Kamu tidak perlu berterimakasih, aku tidak melakukan itu untukmu!" Brian menatap bingung "Aku melakukannya untuk wanita yang kucintai, aku tidak bisa membiarkannya terluka terlalu lama. Setidaknya dia harus tahu bahwa anak itu bukan anakmu!"


"Apa hubunganmu dengan Bella?"


"Aku...aku adalah adik kesayangan Bella!"


"Apa yang Kamu bicarakan?"


Namun pertanyaan itu tidak terjawab, sebab pemuda itu telah berjalan menjauh meninggalkan berbahagia macam pertanyaan yang memenuhi rongga kepalanya.


Sedang Suga tersenyum sangat lebar dengan wajah penuh kepuasan. "Satu-persatu kebaikan akan aku lakukan untukmu Bella, kamu boleh jadi tidak memandangku. Tapi aku senang melakukan ini semua untukmu! Salah satu tujuan hidupku adalah melihatmu hidup dengan bahagia!"


Cinta tidak selalu tentang memberi dan menerima, orang yang dengan tulus mencintaimu hanya memikirkan hal-hal yang mampu dia berikan tanpa mengharap apapun.

__ADS_1


__ADS_2