
Bella duduk di dalam kamar dengan uraian air mata...
Apa itu???
Sepertinya mempecayai Brian adalah sebuah kesalahan....
Benar kata Dera...
Seharusnya dia tidak sepenuhnya memberikan hatinya pada Brian, kini Bella mengutuki dirinya sendiri...dia tidak tahu lagi bagaimana caranya melanjutkan hari esok.
Hatinya teramat sakit....
Tetapi cintanya kepada Brian lebih besar dari rasa sakit itu...
Pukul 02.10 dini hari.
Bella beringsut dari duduknya, diambilnya seprai dan bantal dari dalam lemari. di susunnya dengan rapi.
Kemudian Bella berjalan ke sisi jendela, sejenak memandang keluar...hari masih gelap?
Kapan matahari akan bersinar??
Setidaknya ada yang bisa dia lalukan!!!
Terjebak di sini sangat memuakkan...
Di bukanya semua jendela kamar...pintu menuju balkon juga dibukanya lebar-lebar...
Entah mengapa aroma j*lang itu masih saja tercium oleh indra penciumannya.
Kini dia beringsut menuju kamar mandi, mencuci wajah di wastafel. Matanya sangat bengkak...dia menangis tanpa henti sedari tadi...tetapi kini lukanya berangsur membaik, hatinya mulai lega...dan dia bisa bernafas kembali dalam damai.
Usai membersihkan diri dia beranjak ke ruang ganti, mengganti pakaiannya.
Dibukanya pintu kamar utama. Brian masih duduk dengan merengkuh kakinya, menyembunyikan wajahnya yang sedari tadi basah oleh air mata. Mendengar pintu di buka, Brian mendongakkan wajahnya.
Lelaki itu menangis....
Bella melemparkan handuk kearahnya.
"Bersihkan dirimu!" Kemudian Bella berlalu menuju ke pembaringan.
Brian beringsut, berdiri dari tempatnya...kakinya terasa kebas, badannya kaku...begitu juga dengan lidahnya....
Kakinya gamang memasuki kamar, dilihatnya Bella sudah merebahkan diri di ranjang, dengan mata yang terpejam.
Di kamar mandi...
__ADS_1
Brian menyalakan air, gemericik air membasahi tubuhnya....
Apa yang baru saja dia lakukan???
"Aaaarrgh!!" Dengan tangan terkepal dia berkali-kali memukul dinding kamar mandi, membuat suara yang menggema....kepalan itu kini mengucurkan darah segar...menimbulkan sensasi rasa perih.
***
Brian ke luar kamar mandi, udara dingin menjalar di sekujur tubuhnya...ditutupnya jendela kamar namun sebuah suara menghentikannya...
"Jangan ditutup!" Bella berbicara tanpa sedikitpun membuka matanya.
Ternyata Bella masih terjaga.
Usai berganti pakaian Brian menghampiri istrinya "Maafkan aku Bella!"
Bella membuka mata "Untuk apa melakukan hal yang percuma? Kamu tahu bukan aku tidak akan memaafkanmu! Kenapa kamu terus meminta maaf?"
Brian berdiri mematung dengan wajah tertunduk.
"Tidurlah!" Ucap Bella...nyatanya wanita itu tidak tega membiarkan lelakinya berdiri mematung sedari tadi.
Brian beringsut, kini lelaki itu sudah ada di sebelah Bella.
"Kenapa harus wanita itu?"
Brian terdiam...
Brian masih diam...
"Aku yakin banyak wanita di luar sana yang mau denganmu....kenapa harus wanita itu? Kenapa?? Astaga!!! Sudahlah!! Aku mau tidur!! Besok kita ke rumah sakit!"
"Iya Bell!" Hanya itu kata-kata yang ke luar dari mulut Brian.
Menit berikutnya Bella benar-benar telah tertidur.
Brian yang sedari tadi masih belum mampu memejamkan mata.
Dia kembali teringat kejadian di kantor waktu itu...saat Claire datang dan membawakan beberapa foto Bella tanpa busana, ah....wanita sialan!!! Kenapa dia harus mengenal wanita itu...dan kenapa dia dulu begitu mencintainya.
Sebuah pilihan yang sulit....
Membiarkan nama baik istrinya tercemar atau memberikan tubuhnya kepada Claire. Dan akhirnya Brian memilih pilihan yang terakhir....menjadi boneka Claire, wanita itu sekarang pasti tersenyum girang dengan lelaki-lelakinya....keinginanya untuk menghancurkan hubungan rumah tangganya dengan Bella akhirnya terwujud.
***
Malam telah berganti...
Bella membuka matanya, tidak ada lagi lelaki itu disampingnya.
__ADS_1
Perlahan dia beringsut dari kamar, didapatinya suaminya tengah menyiapkan sarapan pagi di meja makan.
"Kamu sudah bangun! Mandi dan sarapan, bukankah kita harus pergi ke rumah sakit."
Tanpa menjawab Bella berbalik badan dan berjalan menuju kamar utama.
Tidak berselang lama dia kembali lagi...dengan sedikit riasan di wajahnya.
"Ayo berangkat!"
"Bagaimana dengan sarapannya?"
Dan lagi-lagi...
Tanpa menjawab Bella langsung berlalu saja dari hadapan Brian, lelaki itu tahu diri. Dengan cepat dia membereskan makanan yang tadi sudah dia siapkan. Ada sedikit perasaan sedih....ternyata seperti inilah rasanya...saat dia mengabaikan Bella yang sudah susah payah memasak untuknya, namun dia sama sekali tidak menyentuh masakan itu.
Dengan cekatan dia berganti pakaian dan menyusul istrinya yang sudah menunggu dengan gelisah di dalam mobil.
***
Mobil berjalan dengan perlahan...
Tidak ada percakapan di sana.
Semuanya jadi terasa canggung.
Baik Bella ataupun Brian, sama-sama membenci suasana seperti itu.
***
Pukul 08.00 Bella sudah sampai di lobby rumah sakit.
"Bersikaplah biasa!" Itulah kata pertama hari ini yang dilontarkan Bella kepada Brian.
Bella menggandeng tangan lelaki itu dengan mesra...
Tiba-tiba sebuah suara memanggil nama mereka...
Brian dan Bella menoleh.
Ah....ternyata Gabriel dan Margaret juga ada di sini.
Bella tersenyum, kali ini benar-benar tersenyum...senyum yang dengan tulus dia berikan untuk menyambut orang tua keduanya.
"Papa, Mama...!!!"
Dua orang terkasihnya itu tersenyum.
Bella memeluk Gabriel dan Margaret secara bergantian.
__ADS_1
"Ayo...Ayah kalian pasti sudah menunggu!" Kata Gabriel.