
Nyatanya perceraian antara Bella dan Brian tidak selalu membawa kesedihan, dan Dera adalah salah satunya, impiannya sebentar lagi akan tercapai, untuk mengganti posisi Bella dan mendapatkan gelar sebagai nyonya Brian. Dera tengah berdiri di balkon apartemennya, ah...sebenarnya bukan apartemennya tetapi apartemen Brian. Tapi toh sebentar lagi itu akan menjadi miliknya, milik Brian adalah miliknya, ah....menyenangkan. Membayangkannya saja mampu membuat Dera senyum kegirangan. Sambil mengelus perutnya yang mulai terlihat membuncit. Namun kegembiraan itu harus segera diakhiri, kala terdengar bunyi bel. Dera bergegas...tidak berselang lama dia sudah berdiri di ambang pintu, membuka pintu dan menyembullah wajah dari sana "Siapa?" Tanyanya kemudian karena dia sama sekali tidak mengenali pria tampan berkaca mata dengan setelan rapi tersebut. Pria itu lantas membungkukkan badannya "Selamat siang Nona Dera, saya datang untuk mengantarkan ini!" Seraya memberikan bungkusan kepada Dera. Dera meraih benda itu dan membukanya, aroma semerbak menyembul menghampiri indra penciumannya, ah...bukankah ini makanan yang dia inginkan "Di mana Brian?" Bertanya dengan wajah masam. Dia menginginkan makanan ini, tetapi tidak benar-benar menginginkanya. Dia hanya mau melihat lelaki itu, sudah hampir seminggu Brian tidak datang ke tempatnya. Dan itu membuatnya didera rasa rindu. Entah kapan rasa itu mulai tumbuh, tetapi bukankah tidak cukup sulit untuk membuatnya jatuh hati dengan lelaki yang tampan dan berkantong tebal? Minggu lalu Brian sempat datang sebentar ke tempatnya, namun benar-benar hanya sebentar. Dan itu membuatnya kecewa, lelaki itu hanya meletakkan tas belanjaan yang berisi barang-barang yang dia inginkan, mengelus perutnya sekilas kemudian pergi. Lelaki itu tidak sedikitpun menjamahnya. Lelaki itu menjadi dingin, hanya berbicara seperlunya namun ada satu hal yang tidak pernah berubah. Dia selalu menuruti semua keinginanya.
"Maaf Nona Dera Tuan Brian sedang bertemu dengan klien penting, selamat menikmati makananya, kalau begitu saya permisi dulu!" Kemudian membungkuk kembali dan berlalu pergi tanpa sempat mendengar ucapan terimakasih dari Dera. Dera hanya melongo memadangi punggung lebar lelaki itu, meskipun berperilaku dan bertutur kata penuh kesopanan tetapi dia bisa melihat bahwa lelaki itu tidak menyukainya.
Dan persetan dengan itu semua karena yang penting baginya hanya Brian, ya...dia hanya cukup menaklukkan hati lelaki satu itu.
***
"Saya sudah mengantarkannya ke tempat yang anda inginkan, mohon untuk kedepannya anda jangan menyuruh saya melakukan itu lagi!" Kemudian berlalu pergi.
"Calvin?" Yang di panggil namanya kemudian memutar kepala, memandang ke sumber suara dan menjawab "Apa?"
"Kemarilah!" Sambil melambaikan tangan ke arah Calvin.
"Apa kamu mulai menjadi pembangkang?"
"Tidak!"
"Lantas?"
"Saya akan melakukan apa saja asal bukan urusan pribadi anda!"
"Tapi seingatku, dulu kamu tidak pernah keberatan jika aku menyuruhmu melakukan hal seperti itu?"
"Astaga!! Anda membuat saya kesal. Lantas kenapa anda mengganti istri!"
__ADS_1
"Saya hanya mencintai Bella!"
"Aaaahh...lalu anda akan menelantarkan wanita bunting itu setelah menceraikan Bella" Usai berkata demikian Calvin berlalu dari ruangan Brian, kali ini bukan dengan ekspresi datar seperti yang sebelumnya. Tatapi dengan wajah masam penuh luapan emosi.
Dan Brian...hanya bisa menghela nafas panjang.
Tidak berselang lama sebuah pesan masuk ke ponselnya, pesan dari Dera. Wanita itu ingin bertemu. Dan alasan apa lagi yang harus dia gunakan kini, sebab dia benar-benar tidak ingin menemui wanita itu. Aaaah....andai saja dia dulu tidak datang dan menghampiri wanita itu, kesalahan itu tidak mungkin terjadi dan Bella saat ini pasti masih tetap berada di sampingnya. Dan sialnya wanita itu kini tengah mengandung anaknya, anak yang tidak dia inginkan.
***
Bella tengah berbaring di ruangan sebuah salon kecantikan. Kali ini dia memilih perawatan untuk seluruh tubuhnya, usai perawatan wajah kini dia akan menjalani perawatan tubuh. Dua orang wanita berseragam yang sama masuk ke dalam ruangan itu sambil tersenyum manis kemudian melakukan kewajibannya membalurkan lulur ke seluruh badannya dan memijitnya dengan perlahan. Sensasi yang menentramkan dan aroma wangi lulur dan juga lilin aroma terapi membiusnya dalam kenikmatan.
"Apakah masih lama?" Sayup-sayup Bella mendengar suara yang amat dikenalnya menyusup memasuki telinganya, namun matanya teramat berat, pelupuk matanya bergelayut seolah sebuah perekat dipasang di sana.
"Sebentar lagi Pak, apa perlu saya membangunkan nona Bella?"
Hampir satu jam lebih Dion menunggu dengan setia, usai perawatan Bella masih tertidur dengan lelapnya dan atas perintah Dion, dua pegawai itu tidak membangunkan Bella "Biarkan saja!" Lantas dua pegawai itu keluar ruangan.
Bella terbangun dan terkejut setengah mati saat mendapati Dion tengah duduk dengan sebuah majalah di tangannya. Jika tidak salah ingat saat ini hanya ada selembar handuk ukuran kecil yang hanya menutupi bagian bokong tubuhnya "Kenapa kamu di sini?"
"Karena kamu di sini?"
"Apa kamu penguntit? Dimana mereka?"
Dion melirik jam tangannya dan berkata "Perawatan sudah selesai sekitar 15 menit yang lalu!"
"Kenapa tidak membangunkanku? Dasar!!!"
__ADS_1
"Aku yang menyuruhnya, kamu terlihat sangat nyenyak!"
"Sejak kapan kamu di sini?"
"Sekitar satu jam lebih!"
"Kamu!!! Astaga! Kenapa mereka membiarkan seorang lelaki masuk!"
"Aku yang punya tempat ini!"
"Aaah...iya...tapi tetap saja kamu tidak boleh seperti ini!"
"Tidak perlu kuatir, kamu tidur tengkurap seperti itu hanya terlihat seperti sebuah papan, tidak ada gelombang sedikitpun."
"Apa katamu?"
"Lagi pula kita sering mandi bersama waktu kecil!"
"Haruskah kamu mengatakan itu? Astaga! Ambilkan aku baju, cepat!"
Aura kebahagian tiba-tiba melenyap dari wajahnya bukan karena lelaki itu tidak menganggapnya sebagai seorang wanita atau menyamakannya dengan sebuah papan.
Tapi sebuah pikiran lain...
Bahwa mungkin Brian juga memandangnya seperti itu.
Memikirkan itu membuatnya tersenyum kecut, diselingkuhi oleh suami hingga berkali-kali. Kini dia merasa terjerembab sangat dalam, hingga mustahil baginya untuk keluar dari kubangan tersebut. Kalau toh ada orang dari luar sana ingin menolongnya, tangannya pasti tidak akan mampu meraih tangan itu.
__ADS_1