Berbagi Cinta : Penyesalan

Berbagi Cinta : Penyesalan
Part 27 : Sebuah Kecemasan


__ADS_3


Mendadak Bella berubah menjadi batu, kelincahan yang sesaat dia tunjukkan tiba-tiba menghilang.


Didorongnya tubuh lelaki di depannya.


"Aku haus!" Berbicara dengan tingkah yang menggemaskan.


Brian menelan air liurnya, kemudian tersenyum.


Kini lelaki itu duduk di meja kerjanya, masih dengan mata yang terus mengawasi tingkah Bella.


"Kamu mau minum apa?"


"Aku akan mencari minuman segar di luar, ada sesuatu yang kamu inginkan?"


"Apa saja!"


Bella berjalan beberapa langkah, berhenti tepat di depan Brian. Dikancingkannya kembali benik yang sengaja dilepas itu.


Brian memegang jemari Bella "Apa kamu sedang menggodaku?"


Bella mengangguk sambil tersenyum manis.


"Aaaaaah!!! Ha...ha...ha...! Pergilah sebelum aku memakanmu! Bisakah kamu membelikanku sesuatu yang dingin?"


"Ya! Aku akan segera kembali!"


Melangkah perlahan namun sesaat Bella berbalik, menghampiri Brian dan dengan cepat mencium pipinya kemudian berlalu pergi...


"Bella!" Memanggil dengan suara berat dan mulai pasrah.


Ini pertama kalinya seorang wanita mempermainkan seorang Nicholas Brian.


Brian masih duduk melepas kepergian Bella, dengan senyum yang merekah. Ada semacam perasaan senang yang sulit diungkapkan.


Bukankah ini berarti Bella sudah memaafkan Brian?


Apakah ini berarti Bella sudah mulai membuka hati untuk Brian?


Beranjak dari tempatnya dan pindah ke kursi kerja "Aku harus segera menyelesaikan ini!"


Kemudian kembali bekerja dengan serius.


***


40 menit kemudian Bella kembali.


"Kenapa lama sekali?"


"Pelayannya sangat tampan jadi aku meminum minumanku di sana! Sambil menikmati sepotong cake!" Berbicara sambil mengedipkan mata.


Tatapan mata Brian berubah menjadi julid.


"Ini minumanmu!" Sambil menyerahkan satu cup minuman ke Brian.


"Apa lelaki tampan itu yang membuat ini?"


"Hemmm!"


"Aku tidak mau meminumnya!"


"Kenapa? Ini enak dan menyegarkan!"


"Aku tidak haus!"


"Benarkah?" Bella mengambil minuman itu dan menyodorkannya ke mulut Brian.


"Aku berjalan sangat jauh dan kamu tidak mau menyentuhnya?"


"Ya...ya...ya...ya...baiklah!" Menyeruput minumannya hingga habis "Kamu senang?"


"Kapan pekerjaan ini akan selesai?"


"Sudah selesai!" Merapikan berkas-berkasnya "Ayo kita pulang!"


"Ayo!"


Brian dan Bella berjalan beriringan, kantor terlihat mulai sepi. Sebagian sudah pulang dan sebagian tetap tinggal untuk menyelesaikan pekerjaanya.


***


Sampai di rumah.


Brian terlihat sangat lelah, dia langsung membersihkan diri dan beranjak ke pembaringan.


"Kamu tidak lapar?"

__ADS_1


"Tidak! Aku hanya mau istirahat!"


"Baiklah! Selamat beristirahat!" Mematikan lampu utama dan berjalan ke luar kamar.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul 21.30.


Dan Bella masih duduk di ruang kerjanya, bergelut dengan tablet. Mendesain baju untuk musim berikutnya.


Tiba-tiba pintu dibuka, Brian muncul dengan wajah sedikit cemas.


"Bella!"


"Ya!" Beranjak dari duduknya dan menghampiri suaminya.


Brian terlihat rapi mengenakan kemeja bergaris warna biru muda dan celana bahan berwarna hitam.


"Kamu mau kemana?"


"Aku akan pergi ke luar kota, kantor cabang mengalami masalah serius dan ini bisa berdampak pada kantor pusat!"


Bella sedikit cemas "Pergi selarut ini?"


"Ya! Tidak akan lama! Jika berjalan lancar aku akan kembali dalam 24 jam!" Sambil membelai wajah Bella.


Brian menangkap sebuah keraguan, kecurigaan di wajah itu.


"Aku tidak pergi untuk menemui wanita lain! Kumohon percayalah padaku!" Menatap dalam wanita di depannya.


"Hati-hati! Kabari aku jika sudah sampai!"


Brian mengangguk, kini tanpa ragu Brian mengecup kening wanitanya "Bisakah kamu berjanji untuk tidak pergi ke Klub atau Bar tanpa aku!"


Bella mengangguk.


"Jangan membuka pintu untuk orang asing, mengerti! Dan berhati-hatilah!"


"Iya!"


"Aaaa....aku akan menyuruh Calvin untuk menemanimu disini!"


"Siapa Calvin?"


"Orang kepercayaanku! Yang tempo hari kamu melihatnya di kantor!"


Brian membelalakkan mata "Apa matamu terbiasa dengan wajah-wajah tampan?"


Bella menyeringai "Bukankah lebih baik jika dia bersamamu?"


"Hal terpenting yang ingin selalu aku lindungi adalah kamu!"


"Aku menyukai orang tampan!"


"Aku mempercayai Calvin!"


"Aku pandai menggoda!"


Menghampiri istrinya "Aku akan menghukummu jika kamu berani menggoda Calvin!" Seraya memeluk wanita itu dengan erat.


"Aaaaahhh!!! Aku tidak ingin berpisah denganmu!" Ucap Brian dengan manja.


"Pergilah! Sebelum aku menggodamu!"


"Baiklah sayang! Aku pergi! Mmmmuuuach!" Dikecupnya kembali wanita itu, kali ini bukan di kening, melainkan mendarat mulus di bibir Bella.


***


Pukul 05.30 alarm pagi berbunyi, Bella mengeliat, raganya masih malas untuk beranjak dari tempat tidur.


Ditariknya kembali selimut, menit berikutnya selimut itu telah melayang entah kemana.


Ada orang lain di rumah ini yang harus diberinya sarapan.


Malam tadi sekitar pukul 23.30 Calvin datang ke rumah, sesuai perintah Brian.


Bella keluar dari kamarnya, aroma semerbak membelai indra penciumannya.


"Pagi Nona Bella!" Sapa Calvin, pria itu terlihat mengenakan celemek dan berjalan menuju meja makan dengan sebuah piring di tangan.


"Nona mau sarapan dulu atau mandi dulu?"


"Siapa yang memasak ini semua?" Bella bertanya sambil menunjuk semua makanan yang terhidang di meja.


"Saya!"


"Apa Brian yang menyuruhmu?"

__ADS_1


"Tidak! Saya yang berinisiatif!"


Senyum merekah di bibir Bella "Bolehkah aku makan dulu?"


"Ya...tentu! Silahkan!" Kata Calvin sambil menarik sebuah kursi untuk Bella.


"Terimakasih! Ayo makan bersama!"


"Ya! Anda mau minum apa?"


"Mmm...susu dingin!"


"Baik!" Berjalan kearah lemari pendingin, mengambil segelas susu dan berjalan kembali ke ruang makan.


Kini mereka tengah menikmati sarapan pagi bersama.


"Apa Brian menghubungimu?"


"O...ya! Maaf saya lupa menyampaikannya! Beliau tidak ingin tidur anda terganggu!"


"Mmmmm....berapa usiamu?"


"Saya?"


Dijawab anggukan oleh Bella.


"28 tahun!"


"Wow....masih sangat muda, tapi selisih umur kita tidak terlalu jauh. Kamu bisa berbicara santai denganku!"


"Tapi....!"


"Brian serahkan saja padaku!"


"Baik!"


***


Ini hari ketiga sejak kepergian Brian, Bella mulai resah. Ponselnya tidak dapat dihubungi....


Calvin masih ada di sini bersamanya, namun dia juga tidak tahu satu hal pun tentang Brian.


"Kamu tahu di mana kantor cabang itu?"


"Ya, saya tahu!"


"Berhentilah berbicara formal padaku!"


"Ya!"


"Antar aku ke sana! Sekarang!"


"Tapi....???"


"Tapi apa? Tuan Brian melarangmu?


"Ya!"


"Berikan alamatnya!"


"Tapi....!"


"Kumohon!!!!"


Dengan ragu "Aku akan mengantarmu!"


Senyum Bella kembali merekah.


***


Perjalanan berlangsung hampir 5 jam lebih....


Dan berkat kemampuan Calvin, Bella akhirnya tahu di mana Brian berada, sebuah hotel bintang lima yang cukup populer di kota itu.


Menurut Calvin ini bukanlah hotel tempat Brian menginap di hari pertama.


Pikiran Bella mulai kacau.


"Kamar no 512 Bell!"


Tanpa ragu Bella menaiki lift menuju ke kamar Brian.


Kamar 512 terdapat di sudut lorong, pintu kamar sedikit terbuka, dari luar sayup-sayup Bella mendengar sesuatu yang aneh. Suara d*sahan lembut yang membuat jantungnya kembali bergejolak, tiba-tiba dia teringat dengan hari pernikahannya dengan Brian. Saat lelaki itu bercumbu dengan kekasihnya di aula kosong disudut rumahnya.


Di dorongnya pintu itu....dan Benar saja, lelaki itu tengah menggagahi seorang wanita seksi berpakaian minim.


"Brian!!!!!" Bella berteriak keras dan menghambur kearah lelaki itu, menghujani Brian dengan banyak pukulan.

__ADS_1


__ADS_2