
Sebuah kelegaan mencuat dalam dadanya, meskipun saat ini dia berstatus sebagai seorang janda. Sebuah sebutan yang sama sekali belum sempat sedikit pun terlintas dalam benaknya.
Namun bukankah itu lebih baik? Dari pada terus menjadi seorang istri seorang lelaki yang tidak pernah memikirkan perasaan dan terus menginjak-injak harga dirinya.
Jika berbicara tentang kesedihan, sepertinya itu tidak perlu lagi dipertanyakan, meskipun telah berkali-kali lelaki itu melukai perasaannya namun anehnya rasa cinta itu tidak meluntur sedikit pun. Hatinya kelu, mampukah dia hidup tanpa lelaki itu? Bisakah dia ikut bahagia jika kelak Brian dan Dera bisa meraih kebahagiaan mereka? Bisakah dia legowo menerima kenyataan yang tidak sesuai dengan harapannya? Apa yang harus dia perbuat setelah ini? Menjalani kehidupan normal? Sedang dia telah cacat sebagai seorang wanita.
Bukankah itu terkesan dramatis?
Mencoba terus bertahan menyakitkan...
Menyudahinya pun terasa menyakitkan...
Ah...
Cinta...
Sekuat apa kamu melekat pada sanubari seorang Bella dan merajamnya dengan segala kekejian.
Perceraian itu tidak hanya menghancurkan dirinya, tetapi juga mertua dan orang tuanya.
Ribuan kali orang tua Brian meminta maaf kepada Bella, meminta maaf atas kesalahan putra semata wayang mereka. Putra yang mereka banggakan, putra yang menjadi tumpuan dan harapan bagi mereka. Bahkan mulut Gabriel tidak berani menyuruh Bella untuk berfikir atau pun mempertimbangkan keputusannya. Sepertinya orang tua itu mengerti betul bagaimana perasaan Bella.
__ADS_1
Sedangkan di antara kedua orang tua Bella, Alnord lah yang paling terpukul oleh kejadian itu. Dia yang memaksa Bella menikah dengan Brian, dia yang meyakinkan putri semata wayangnya bahwa Brian adalah lelaki yang baik. Dia yang menanamkan sebuah harapan bahwa hal yang mustahil itu bisa menjadi nyata jika dia berusaha dengan sangat keras.
Namun orang tua itu kini hanya bisa menyesali perbuatanya tanpa bisa merubah apapun yang terjadi.
Tapi bukan itu yang terpenting, yang menjadi masalah baru adalah tentang Ayahnya. Kesehatan lelaki itu kian hari kian menurun, meski berulang kali Bella berkata bahwa apa yang terjadi memang sudah seharusnya terjadi.
Brian sendiri tampak muram, Bella tidak melihat sedikitpun kebahagian di wajahnya. Bahkan saat sidang perceraian diumumkan, bahwa dia dan Brian sudah resmi bercerai.
Dia masih ingat Betul kala itu Dera datang dan selalu menempel pada Brian, menunjukkan perut ratanya yang kian membuncit. Ah...sial! Kenapa bukan Bella yang menjadi wanita itu.
Saat mereka keluar dari pengadilan dan Dera menggenggam erat jemari Brian, lelaki itu hanya diam. Diam tanpa jiwa dan sekali lagi hati Bella terasa teriris-iris melihat belahan jiwanya tidak lagi bersinar.
Dia ingin berlari, menghampiri lelaki itu. Menghadiahi sebuah pelukan dan ciuman, lantas berteriak dan menangis keras "Aku tidak akan meninggalkanmu!" Namun sekali lagi hal itu hanya menjadi sebuah angan yang hanya sekelebat lewat di pikirannya.
Matahari pagi mulai menampakkan diri, menyirami tubuh atletisnya dengan bias-bias cahaya yang terpendar, dengan nafas tersenggal-senggal dan peluh yang membasahi tubuhnya "Apa ini menyenangkan?" Tanyanya kemudian dengan pandangan lurus ke depan. Yang ditanya hanya mengangguk "Ayo kita lanjutkan!"
"Berhentilah sejenak, aku kelelahan!" Ujarnya kemudian.
"Kita sudah berhenti!"
"Astaga!" Dengan wajah sedikit kesal akhirnya lelaki itu beranjak dari duduknya, dia tidak habis pikir dengan sifat sahabatnya ini. Jika wanita lain meluapkan emosi dengan berbelanja barang-barang mewah wanita ini justru mengacaukan hari liburnya yang sangat berharga.
Setidaknya sekali setiap minggu dia akan bermalas-malasan di atas ranjang empuknya sambil membaca majalah, buku atau koran dengan menikmati segelas minuman kesukaanya. Namun pagi tadi saat ayam jantan berkokok untuk yang pertama kalinya wanita itu sudah berdiri di samping tempat tidurnya "Apa yang terjadi? Kenapa sepagi ini kamu sudah ada di sini?" Bukanya menjawab pertanyaannya wanita itu malah melemparinya dengan satu set pakaian olah raga "Sepuluh menit! Aku akan menunggu di luar!" Bukankah itu tidak adil? Menyeretnya dalam pergulatan di akhir pekan dengan peluh dan debu jalanan.
__ADS_1
"Bella!"
"Hemmm...!"
"Aku bisa memberimu kartu debitku! kamu bisa berbelanja sesukamu!"
"Aku tidak tertarik!"
"Astaga!" Kenapa kamu terus mengganggu hidup orang?"
"Aku harus menurunkan berat badan, akhir-akhir ini aku sangat stress dan berat badanku terus merangkak naik!"
"Tapi aku tidak! Kenapa aku harus?"
"Astaga! Kamu tidak tahu, akhir-akhir ini wanita suka dengan tubuh yang sempurna dengan perut rata dan berotot!"
"Aku merasa sempurna!"
"Hah...ha...ha...kamu pasti senang dengan tubuh sempurna itu?"
Dan begitulah pagi mereka, dipenuhi dengan perdebatan dan pertengkaran kecil.
Hingga dua sahabat itu kelelahan dan berhenti di sebuah kedai kopi. Menikmati secangkir kafein dan sepotong cake sambil bercerita tentang apa saja
__ADS_1