Berbagi Cinta : Penyesalan

Berbagi Cinta : Penyesalan
Part 69 : Surga dan Neraka


__ADS_3


Sudah seminggu Bella pergi dari rumah. Dia harus kembali sebab banyak dokumen yang tertinggal di sana. Dan karena ini mendesak secepat mungkin Bella harus bergegas.


Waktu menunjukkan pukul delapan malam, jika jalanan lancar dia akan sampai tepat pukul sembilan.


Diraihnya ponsel genggamnya, namun dia letakkan kembali. Dia mengurungkan niatnya untuk menghubungi Brian terlebih dahulu. Malah untung baginya jika Brian belum kembali ke rumah. Sebab dia tidak perlu berbasa-basi dan hanya perlu mengambil beberapa barang penting miliknya.


Mobil melaju dengan kecepatan penuh, hingga akhirnya dia sampai di sebuah rumah yang amat dia rindukan. Hatinya bergidik ngilu...


"Semoga Brian belum pulang!"


Gelap...


Bella bersyukur do'anya menjadi kenyataan, tapi kemana asisten rumah tangganya? Apa sesore ini dia sudah tidur?


Bella tidak mengetuk pintu, dia membuka pintu dengan kunci cadangan miliknya.


Pintu terbuka...


Gelap di mana-mana, namun pupilnya kini telah terbiasa dalam kegelapan. Jadi tidak masalah jika dia tidak menyalakan lampu. Dengan perlahan dia berjalan menuju kamar utama. Bella menekan handle pintu hingga terbuka. Semerbak aroma alkohol memenuhi ruangan dan menusuk penciumannya "Eeemmmm....!!"


Bella menyalakan lampu.


Dia nyaris berteriak karena begitu terkejut, dia mendapati seonggok tubuh duduk membatu di sisi ranjang dengan memeluk baju-baju miliknya. Serindu itukah kamu denganku Brian?


"Brian!"

__ADS_1


Mata itu beredar mencari sumber suara, kemudian dia terkekeh "Bayanganmu kini bahkan bisa berbicara Bella!" Kemudian menangis. Hati Bella sangat ngilu mendengar tangisan itu, tangisan yang menyayat hati.


"Brian ini aku Bella!"


"Jangan mencoba membodohi! Kamu bukan Bellaku!"


"Aku benar-benar Bella, aku datang untuk mengambil sesuatu yang tertinggal! Kamu baik-baik saja?" Kemudian Bella beringsut menghampiri tubuh itu.


"Kamu benar Bella!" Brian tidak percaya dia mengulangi kembali pertanyaannya.


Bella mengangguk.


"Bella maafkan aku!" Tangis Brian kembali pecah, dia seperti bocah kecil yang kehilangan mainan kesayangannya. Bella menjadi trenyuh, hatinya tidak kuat. Namun dia harus bertahan.


"Aku datang hanya untuk mengambil sesuatu milikku!" Ucapnya sambil menepis tangan Brian yang sedari tadi memegang erat tangannya.


Kali ini Bella meraih tangan itu dan mengelusnya "Bertanggungjawablah! Dera membutuhkanmu!"


"Tidak! Jangan itu, itu bukan anakku, aku yakin. Anakku hanya akan tumbuh dari rahimmu, percayalah Bella!"


"Sadarlah Brian! Dera yang membutuhkanmu bukan aku!"


"Jadi kamu akan tetap pergi?"


"Ya!"


"Bagaiman jika kamu juga hamil anakku?"

__ADS_1


Bella tersenyum kecut "Itu tidak mungkin!" Apa gunanya memberi makan kucing yang telah mati.


Detik berikutnya Brian meraih tubuh Bella dalam pelukannya "Aku akan membuatkan anak untukmu!"


"Tidak Brian!" Ucap Bella sambil mencoba melepaskan diri.


"Kenapa tidak? Kamu masih istriku! Aku berhak atas dirimu!"


Tubuh Bella kembali merinding, dia dijalari rasa takut yang teramat sangat, kejadian masa lalu kembali mengitari isi kepalanya. Tubuhnya kini melemas seperti kehilangan penopangnya.


"Tidak Brian, lepaskan aku!" Dan tubuh itu bukan menjauh darinya malah menjalar semakin erat, seperti ular piton yang membelit mangsanya hingga tidak berdaya.


Bella berteriak keras sebab hanya itu yang bisa dia lakukan, Brian telah menggila. Dan ketakutannya semakin kuat saat tubuh lelaki itu membopongnya dan menghempaskan begitu saja di atas kasur.


Bella mencoba berlari dan menghindar, namun dia kehilangan kekuatannya. Tubuhnya melemah seiring munculnya memori-memori masa lalu yang terus berlintasan dalam benaknya.


Dia pasrah dalam kungkungan lelaki yang masih sah menjadi suaminya itu, tetapi hatinya tidak rela. Sebab tubuh itu terlalu kotor baginya.


Dia tidak akan memohon apapun, karena seberapa tulusnya dia meminta lelaki itu tidak akan pernah melepaskannya. Tangan itu mulai menjalar ke setiap inci tubuhnya, menggerayangi dengan kasar dan menanggalkan satu persatu baju yang dia kenakan. Dan bibir berbau alkohol itu menenggelamkannya kembali pada kesengsaraan, mengulum bibirnya dengan kasar, ******* dan menelusuri setiap lekuk tubuhnya dengan brutal.


Bella jatuh!!


Di jurang tanpa dasar.


***


Tangis Bella masih juga mendengung semalaman, raganya merintih, jiwanya koyak. Mungkin kini dia tidak lagi memiliki keberanian untuk kembali berjalan ke depan. Sebab kemanapun langkah yang dia ambil nantinya bayang-bayang itu muncul semakin nyata.

__ADS_1


Brian masih tertidur usai menyalurkan hasrat kebinatangannya. Membiarkan Bella menangis seorang diri menyesali keputusannya untuk datang kesini. Nyatanya tempat yang serupa surga itu juga menjadi neraka baginya.


__ADS_2