Berbagi Cinta : Penyesalan

Berbagi Cinta : Penyesalan
Part 40 : Perhatian Yang Menyulitkanku


__ADS_3


Malam semakin larut....


Dan ini adalah gelas keempatnya....


"Aku akan pulang setelah gelas kelima!" Gunamnya dalam hati.


Kemudian dia meninta bartender untuk menyiapkan cocktail untuknya.


Baru hendak menenggak minumannya, sekumpulan wanita seksi datang menghampiri dan melemparkan rayuan-rayuan maut untuknya.


"Tidak bisa begini!" Bergunam seraya beranjak dari tempatnya duduk.


Mengambil dompet dan mengeluarkan kartu kreditnya.


Detik berikutnya kartu itu telah berpindah tangan.


"Maaf apakah ada kartu lain?"


Sejenak Brian terkejut "Apa ada masalah?"


"Kartunya tidak bisa untuk bertransaksi!"


Brian mengeluarkan kartu lagi miliknya, hal yang sama juga terjadi...


Hingga kartu ke lima...


"Astaga!!! Berapa semuanya?"


Dan sialnya dia bahkan tidak menyimpan cukup uang tunai untuk membayar tagihannya.


"Sebentar!" Kata Brian, sambil meraih ponsel dan menelepon istrinya.


"Bella!!!"


"Hemmm!"


"Semua kartuku tidak berfungsi! Bisakah kamu datang membantuku?"


"Kamu di mana?"


Lantas Brian menunjukkan lokasinya saat ini, butuh waktu hampir 50 menit untuk Bella sampai di tempat itu.


Baru kali ini Brian di dera rasa malu yang teramat sangat, kartunya tidak berfungsi bahkan dia sempat mendengar wanita yang duduk di sebelahnya tadi berseloroh "Ternyata dia hanya berlagak!"


"Tidak bisakah kamu melihat, dia mungkin sedang kesulitan. Haruskah kita membantunya!" Timpal wanita lainnya lantas dia menghampiri Brian dan menawarkan diri untuk membayar tagihannya.


"Tidak perlu! Terimakasih, sebentar lagi istri saya akan datang!"


Dan sontak kawan-kawan si wanita itu tertawa terkekeh melihat teman satu gengnya dipermalukan.


Bella datang....


"Astaga!!! Sepertinya Bella sengaja mempermainkan hatinya!"


Darahnya berdesir seketika, ketika wanita itu menghampiri dengan setelan celana jeans ketat, crop top super mininya dan rambut indah yang di biarkan tergerai.


Make upnya terbilang cukup berani, lipstik merah menyala dan riasan mata yang cukup tajam dan glamour.


Bella paham situasi, sepertinya wanita- wanita cantik di sebelah Brian tengah mencari perhatian suaminya.

__ADS_1


Bella tersenyum super manis lantas membayar tagihan Brian.


"Kamu merepotkan sekali!" Sambil mengelus pipi Brian dengan lembut hingga membuat wanita-wanita itu pergi dengan wajah masamnya.


Brian tersenyum...


Setidaknya dia tahu, Bella bahkan tidak rela dia di didekati wanita lain.


"Ayo pulang!"


Brian beranjak dari duduknya, dengan badan yang sedikit oleng. Kemudian Bella memapahnya.


"Aku akan membunuhmu jika kamu berani bersikap centil dan menggoda wanita lain!"


Kali ini Brian tidak mampu menyembunyikan rasa senangnya, senyumnya merekah lebar.


"Kenapa kamu tersenyum?"


"Aku senang!"


"Senang?"


"Ya!"


"Dasar bodoh! Kamu tidak penasaran dengan semua kartumu?"


"Pasti Papa yang melakukannya!"


"Tapi aku yang memintanya Brian!"


Brian tersenyum menanggapi ucapan Bella "Tidak masalah! Asal kamu tetap berada di sampingku!"


"Sepertinya permintaanmu terlalu berlebihan sayang!"


***


Di Bandara.


Seorang pemuda tampan dengan setelan necis baru saja sampai dari perjalanan jauhnya.


Setelah lama mencari-cari akhirnya dia menemukan apa yang diinginkannya.


"Kakak!"


"Kamu terlihat semakin tampan!"


"Benarkah?" Kakak juga semakin tampan! Ayo! Kita harus bergegas agar kakak bisa istirahat sejenak, karena siang nanti kita ada pertemuan penting!"


"Aku hanya tidur saja selama perjalanan!"


"Itu bagus! Kamu mau sarapan dulu?"


"Tidak kita langsung pulang saja!"


"Ok!"


Lantas pemuda itu langsung membukakan pintu mobil untuk orang yang tadi disebutnya dengan panggilan kakak, kemudian meletakkan barang bawaan pemuda itu ke dalam bagasi mobil.


Perjalanan yang melelahkan akhirnya berakhir dan kini pemuda itu duduk dengan santai di samping pengemudi sambil menikmati semilir angin pagi yang menyejukkan.


***

__ADS_1


Bella masih di sibukkan dengan aktivitasnya, sesekali matanya melirik ke arah jam ditangannya.


Ya...dia ada janji temu hari ini, dengan orang rekomendasi dari Calvin yang akan menempati posisi sebagai asisten pribadinya.


Berdasarkan cerita Calvin sepertinya pemuda ini tidak perlu diragukan lagi. Lulus dengan gelar S2 dari Columbia University.


Mmmmm....Bella benar-benar tidak sabar ingin bertemu dengan rekan kerjanya itu.


Saat waktu menunjukkan pukul 12.00 tepat, Bella mengakhiri kesibukannya. Ke luar dari ruangan dengan menenteng dua buah tas.


Sebelum pergi dia terlebih dahulu datang ke ruangan Brian.


Membuka pintu...


"Bella!"


"Kamu bisa mengambil liburan panjang jika kamu menginginkannya!" Memasuki ruangan kemudian Bella menyusun bekal makan siang untuk Brian di atas meja.


Ruangan wakil presdir cukup mewah, sebuah meja kerja yang cukup besar dengan satu set kursi kerja yang terlihat sangat nyaman saat diduduki. Sebuah rak besar berisi begitu banyak buku yang berjajar rapi terletak tepat di belakang meja kerja. Di sebelah kanan terdapat rak dengan ukuran sedang untuk menaruh berkas-berkas perusahaan. Dan satu set sofa dan meja untuk tempatnya bersua dengan rekan bisnisnya.


sebenarnya ini dulu adalah ruangan Brian, tentu saja sebelum Gabriel menyerahkan jabatan Presdir kepadanya.


Tidak ada jawaban dari bibir Brian, sedari tadi lelaki itu hanya melihat ke arah istrinya. Hubungan mereka bisa terbilang sangat tidak baik, tetapi Bella masih mau mengurus urusan makan siangnya.


"Kemarilah!"


Brian mendekat...


"Maaf karena harus membiarkanmu makan siang seorang diri!"


"Kamu tidak makan siang?"


"Aku akan bertemu seseorang di restoran depan!"


"Siapa?"


"Rekan Calvin yang kelak akan menempati posisi sebagai asisten pribadiku!"


"Kamu tidak perlu melakukan itu, Calvin bisa membantumu kapan saja. Aaa...kamu bisa menjadikannya asistenmu!"


"Tidak!"


"Kenapa? Dia sangat kompeten!"


"Katakanlah dia bertugas sebagai mata-mata di sini!"


Brian tersenyum "Untuk memata-mataiku!"


Bella mengangguk kemudian mengambil sesuatu di dalam tasnya. Lima botol vitamin milik Brian. Bella mengambil satu butir di tiap botolnya dan menaruhnya di sebuah wadah kecil.


"Jangan lupa untuk meminumnya!" Kemudian menaruh botol-botol itu ke dalam tasnya kembali.


"Aku pergi!" Namun sebuah tangan menahannya.


"Ada apa!"


"Tidak bisakah kita kembali seperti dulu!" Ucap Brian, permintaan yang Bella juga tahu terlahir dari sudut hatinya yang terdalam.


Bella menepis tangan itu.


"Kenapa kamu begitu baik kepadaku? Perlakuanmu yang seperti ini yang membuatku semakin tidak bisa melepaskanmu...kamu bahkan selalu memperdulikan kesehatanku! Tidak bisakah kamu memaki dan memukulku? Pukul aku Bella, maki aku. Setidaknya itu bisa mengurangi sedikit rasa sakitmu!"

__ADS_1


Hampir saja buliran air mata lolos dari matanya, sebelum semuanya menjadi tidak terkendali Bella memutuskan untuk segera pergi dari situ.


Berkata tanpa melihat ke arah Brian "Aku ingin menyiksamu dalam waktu yang lama, jangan lupa untuk menghabiskan makan siang dan vitaminnya!" Kemudian berlalu dari hadapan Brian.


__ADS_2