
Rumah mewah Gabriel terlihat tenang dan lenggang, padahal esok adalah hari pernikahan putra semata wayangnya. Pesta pernikahan kedua...dan hal itu yang membuat orang tua itu miris. Umurnya sudah 58 tahun tetapi dia belum juga menimang cucu, ya...sebentar lagi lelaki tua itu akan memiliki cucu dari anak lelakinya namun entah mengapa dia tidak merasa bahagia. Hari ini keluarga besannya akan datang, mereka berasal dari kota yang cukup jauh. Usai menempuh perjalanan panjang akhirnya rombongan itu datang, namun tidak benar-benar sebuah rombongan hanya ada Ibu, Paman dan dua adik lelaki Dera. Di mana Ayahnya Gabriel tidak sempat bertanya, dan demi kesopanan apakah sebaiknya dia tidak perlu bertanya?
"Masuk...masuk!" Hanya itu yang terucap dari mulut Gabriel sedangkan Margaret bersikap lumayan luwes. Dia tidak ingin Brian malu, akan tidak baik nanti jika terdengar desas-desus bahwa keluarganya tidak menghormati keluarga mempelai wanita.
Brian hanya menyapa sekilas, Margaret menyadari itu dan menggiring anaknya menuju tempat yang lebih sepi "Kenapa kamu bersikap acuh seperti itu?"
"Maaf Ma!"
"Bersikaplah lebih baik!" Brian hanya diam, dia pikir setuju menikahi Dera berarti masalah selesai, namun ternyata tidak. Apa gunanya beramah-tamah toh nanti tidak akan bertemu lagi. Sebab Brian tahu keluarga Dera tidak akan mau jika disuruh tinggal di sini.
"Brian!" Hardik Mamanya, kini dengan suara lebih keras.
"Aku mau ke atas Ma! Tolong siapkan kamar untuk Dera! Aku tidak mau sekamar dengannya!" Sambil melangkah pergi.
"Ckckckckck....lantas kenapa kamu membuat Bella pergi dengan menjalin hubungan dengan wanita itu? Mama pikir kamu pasti memandangnya lebih dari Bella. Sehingga kamu terpikat dan melupakan kewarasanmu! Astaga!!!"
Brian hanya diam terpaku, yah...benar kata Mamanya untuk apa dia mendekati Dera dan menjalin sebuah hubungan, jika sekarang melihat Dera saja sudah membuat Brian jengah. Ini jelas-jelas kesalahannya, dia yang dungu tergoda dengan wanita lain dan menyakiti hati Bella. Namun segalanya tidak bisa dirubah sekarang, mau tidak mau dia akan menikahi Dera, melindungi dan menjaganya. Apakah dia bisa? Sebab dia terlalu menyesali perbuatannya...
Wanita itu lantas berlalu setelah menggarami luka di hati Brian.
***
Keesokan harinya, di butik milik Bella.
"Bagaimana kamu bisa melakukan kesalahan semacam itu?"
Bella baru saja sampai saat dia melihat kegaduhan yang terjadi, terlihat asisten pribadinya marah kepada salah satu karyawannya. Dan ini pertama kalinya Bella melihat kemarahan itu.
"Apa yang terjadi?" Tanya Bella seraya meletakkan tasnya di atas meja.
__ADS_1
"Maafkan kelalaian saya Bu!"
Sang asisten menunduk penuh hormat dengan wajah penuh penyesalan sedangkan sang korban tampak ketakutan dengan wajah pucat pasi.
"Apa yang terjadi? Kenapa kamu memarahinya seperti itu!"
"Maaf Bu, ini benar-benar murni kesalahan saya!" Kata si karyawan dengan penuh penyesalan, kemudian kembali melanjutkan kata-katanya "Saya salah mengirim gaun untuk nona Dera, dan dia marah besar!"
"Jam berapa acaranya?"
"Pukul 10.00 pagi!"
"Berikan saya gaun miliknya!"
"Tidak biar saya saja!" Kata si asisten kemudian.
"Tidak bisa! Nona Dera meminta agar Bu Bella yang mengantarkan gaun itu!"
"Tidak apa-apa, saya akan segera kembali!" Berkata sambil merebut gaun itu dari tangan asistennya dan bergegas. Acaranya sebentar lagi dan dia tidak ingin kekacauan semakin parah. Mobil klasik itu melaju dengan kecepatan penuh meninggalkan butik miliknya menuju rumah mantan mertuanya.
***
Rumah itu masih tampak lenggang untuk sebuah acara besar yang akan terjadi, Bella memasuki halaman rumah mewah itu dan turun dari kendaraannya. Sepertinya ada seseorang yang melihat kedatangan Bella dan bergegas berlari ke dalam rumah.
"Tuan besar Nona Bella datang!"
"Bella?" Tanpa menunggu jawaban Gabriel lantas berlari menuju ke luar rumah.
"Papa!" Sapa Bella dengan senyum sehangat mentari pagi, tiba-tiba saja Gabriel menjadi lemah. Hatinya kembali sakit memikirkan begitu banyak kemalangan yang Bella hadapi.
"Bella kamu datang?"
__ADS_1
Bella menunjukkan tentengan yang dibawanya "Aku datang untuk ini Pa! Karyawanku salah mengirimkan gaun untuk Dera! Maaf karena membuat kekacauan ini."
Gabriel terkejut, bukan karena kesalahan itu! Tapi karena kekejaman Dera yang dengan sengaja memesan gaun di butik Bella. Apakah merenggut kebahagian Bella tidak cukup?
Lantas Bella berjalan bergegas ke ruangan yang ditunjuk oleh Gabriel.
Mendorong pintu itu dan mendapati Dera tengah duduk dengan gelisah di depan meja riasnya, menyadari kedatangan Bella tiba-tiba wajah itu menjadi keruh "Apa kamu sengaja?"
"Maaf untuk ini Dera!"
Kemudian Dera merenggut bungkusan itu dari tangan Bella "Bukankah kamu harus membantuku untuk memakaikannya?"
"Maaf! Itu bukan tugasku!" Kemudian berbalik badan dan bergegas keluar.
"Bukankah kamu harus menyapa Brian? Dia ada di kamarnya!" Dan Bella bisa merasakan wanita itu tersenyum licik kearahnya, namun ini bukan waktunya untuk berdebat. Karena sebenarnya hal yang paling dia takutkan adalah bertemu lelaki itu.
Bella berjalan bergegas namun dia kembali mendapati Gabriel dan Margaret tengah menunggunya "Mama!"
Wanita itu seperti biasa tersenyum anggun dan menghampiri Bella, memberikan pelukan hangat seperti biasanya "Bukankah setidaknya kamu harus makan dulu sebelum pergi!"
"Maaf Ma, Bella harus bergegas!"
"Sebentar saja Bella!"
"Sudahlah Ma, Bella pasti sibuk!"
"Baiklah kamu boleh pergi Bella!" Namun wajah itu membuat Bella luluh "Baiklah Bella akan makan! Lagi pula Bella belum sarapan pagi ini!" Makan sebentar kemudian pergi, hal sederhana ini mungkin akan membuat Margaret senang.
Bella makan ditemani Gabriel dan Margaret, namun ditengah acara makan Gabriel dan Margaret meninggalkan Bella. Mungkin ada hal penting yang harus mereka kerjakan. Dan saat yang bersamaan seseorang turun dari lantai dua, mengenakan sebuah celana hitam, kemeja putih dengan tuxedo. Tidak lupa dengan dasi kupu-kupunya.
Tidak hanya Bella, lelaki itu juga nampak terkejut kala matanya bersitatap dengan mata Bella.
__ADS_1