Berbagi Cinta : Penyesalan

Berbagi Cinta : Penyesalan
Part 65 : Ayo Kita Berpisah


__ADS_3


Apa yang harus dia lakukan saat ini?? Kepalanya nyaris pecah memikirkan kemungkinan terburuk jika sampai Bella tahu tentang kelakuan buruknya.


Sayup-sayup terdengar suara mobil yang memasuki halaman rumahnya, lantas Brian beranjak dari duduknya dan melihat istrinya telah datang "Kemana gerangan Bella pergi? Kenapa hingga larut dia baru pulang?"


Lantas dia berjalan menuruni tangga "Kamu belum tidur?" Sapa Bella kala mendapati suaminya.


"Aku menunggumu!"


"Kamu lapar?"


"Hemmm!"


Lantas Bella berjalan ke arah dapur tanpa sebuah senyuman, menanggalkan tasnya di atas meja makan dan mendapati makanan yang telah di siapkan asistennya di meja makan telah menjadi dingin.


"Kenapa tidak makan?"


"Menunggumu pulang!"


"Duduklah! Aku akan menghangatkannya sebentar!"


Brian menunggu dengan patuh, duduk dengan terus memandangi Bella. Tubuh gesit, penuh kasih sayang dan perhatian. Tiba-tiba air matanya membuncah, kenapa dia sampai hati terus membuat lara wanita itu. Brian menyeka air matanya kala mendapati istrinya telah selesai dan berjalan ke arahnya dengan tangan penuh mangkuk dan piring.


Brian beranjak "Apa yang bisa aku bantu?"

__ADS_1


"Tidak perlu! Duduklah!" Selalu seperti itu, kenapa Bella begitu mandiri? Brian juga ingin wanita itu bermanja-manja dengannya dan memintanya untuk melakukan apapun. Meskipun itu hal ringan yang mampu dia kerjakan sendiri.


Brian kembali duduk, dan Bella dengan sigap berjalan mondar-mandir menyiapkan makanan.


"Selamat makan!" Ucap Bella sambil menaruh semangkuk nasi di depan Brian sambil tersenyum manis. Kemudian dia mengambil nasi untuk dirinya sendiri dan duduk persis di depan Brian. Mereka saling berhadap-hadapan, detik berikutnya Bella menyuapkan nasi ke mulutnya, lantas lelaki itu menaruh sepotong ikan di atas mangkuknya sambil tersenyum manis. Dalam hati Bella bergunam "Jangan terlalu baik padaku dan membuatku ragu!"


"Brian!"


Yang dipanggil namanya tidak menyahut, tapi melihat lurus ke sumber suara.


"Ada hal penting yang ingin aku bicarakan!"


"Apa itu?" Tanyanya kemudian.


"Ayo kita berpisah!"


Brian meraih tangan itu "Kenapa tiba-tiba Bella? Apa aku melakukan hal yang buruk?" Tangis yang membuncah itu kembali tertahan, apa lelaki itu kembali bersandiwara? Apa aku melakukan hal buruk? Kenapa malah bertanya seperti itu? Bukankah lebih baik jika dia memohon dan meminta maaf kepadanya seperti yang sudah-sudah, tapi kali ini dia mencoba membodohi Bella lagi "Kamu yang jauh lebih tahu tentang dirimu!" Lantas Bella menghempaskan tangan itu.


"Bella!"


"Aku akan tidur di ruang tamu! Kamu beristirahatlah dengan baik!" Hanya itu yang mampu Bella katakan. Jika berbicara tentang cinta, sampai detik ini cuma Brian yang ia cintai. Tapi dia tidak bisa membiarkan rasa cinta itu terus melukai perasaannya.


Brian berjalan tergesa, menghampiri Bella kemudian memeluk wanita itu dari belakang "Jangan tinggalkan aku Bell, aku tidak bisa tanpamu!" Kali ini lelaki itu menangis, dengan uraian air mata yang menetes di pundak Bella.


Bella membalikkan badannya, sedikit mendongak dan menatap wajah penuh sandiwara itu "Apa kamu pernah mencintaiku?"

__ADS_1


"Tentu saja aku mencintaimu Bell!"


"Lalu apakah kamu menyukai Dera atau hanya sekedar menjadikannya sebuah hiburan?"


Deg...deg...deg....


Jantung Brian bagai terlepas dari engselnya, tiba-tiba dia menjadi gagu dan hanya berdiri mematung di tempatnya.


Bella mengurungkan niatnya untuk tidur di ruang tamu, banyak hal tidak terduga yang mungkin bisa terjadi. Dan hal yang paling dia takutkan adalah kembali meluluh dan memaafkan kesalahan Brian seperti yang lalu.


Tempat mana yang harus dia tuju? Tempat yang tidak diketahui Brian. Tempat yang bisa membuatnya tenang, lantas dia teringat sosok Dion. Bukankah dia pernah berkata, bahwa pintu rumahnya selalu terbuka untuknya.


Akhirnya Bella memutuskan untuk tinggal sementara di apartemen milik Dion.


***


Bella terbangun pagi harinya berharap apa yang terjadi selama ini hanyalah sebuah mimpi panjang yang melelahkan, namun hal itu tidak terjadi...sebab dia kini terbangun di tempat yang tidak seharusnya.


Tiba-tiba dia menjadi lelah, menjadi baik tidak selalu berbuah baik. Hatinya kini mulai meretak sebab bukan hanya lelaki yang dicintainya yang berkhianat, tetapi sahabat yang hampir separuh hidupnya ia habiskan bersama.


Dia akan menemui Dera pagi ini, membicarakan sesuatu yang serius, tentang persahabatan, kesetiaan, hati nurani dan dosa. Manakah yang akan wanita itu pilih? Mungkin tidak semuanya, sebab dia tahu dari awal sahabatnya telah salah. Dia tidak akan marah dan menghujat, sebab amarahnya tidak pantas terbuang percuma. Dia hanya ingin berbicara, sebab itu yang nantinya akan membuatnya terbebas dari luka.


Matahari telah meninggi, memberikan semburat sinar yang menembus dari balik jendela apartemen. Kemudian dia beringsut dari ranjang empuknya menghampiri sinar matahari, seperti sulur yang terjebak dalam ruang hampa cahaya. Gedung-gedung tinggi, pemandangan yang mengesankan, lantas sebuah pertanyaan terlintas di benaknya "Kenapa Dion membiarkan tempat sebagus ini teronggok begitu saja?"


Lama dia berdiri di sana, sampai rasa lapar datang dan merongrongnya, matanya terpendar dan dia mendapati setumpuk baju bersih tersimpan di atas nakas serta sebuah nampan berisi sarapan pagi "Kapan Dion ke sini?"

__ADS_1


Melihat potongan sandwich dengan isian penuh membuat gairahnya meningkat, dipungutnya potongan itu dan memasukkannya dalam rongga mulutnya, kemudian mengunyah perlahan sampai piring penuh itu kosong melompong.


__ADS_2