
Brian terbangun dari tidur singkatnya dengan keringat dingin yang mengucur diseluruh tubuhnya...mimpinya sangat menakutkan...
Sebuah ruangan gelap dan pengap, hanya diterangi sebuah lampu kecil ditengah ruang.
Dari cahaya temaran itu terlihatlah sesosok wanita dengan sebuah pisau yang menancap tepat di perut kanannya, tatapannya sendu....sesekali terdengar sebuah rintihan dari bibirnya. Bajunya hampir basah oleh keringatnya sendiri, darah segar membanjiri di tempat pisau itu tertancap. Dengan sisa tenaga dia menggerakkan tangannya. Seolah memberi isyarat agar Brian mendekat.
.....dan wanita itu adalah Bella, istrinya sendiri.
Dalam mimpi itu Brian terlihat menggigil ketakutan, kakinya terasa lemas...dia bahkan tidak mampu melangkah ataupun berdiri tegak....
Dua buah pilihan yang sulit, mencabut pisau itu dan hidup wanita itu akan berakhir atau membiarkannya, tapi wanita itu akan tetap dalam penderitaannya.
***
Dengan nafas tersenggal-senggal Brian mengambil minum dan menenggaknya.
Matanya melirik ke arah jam tangan.
Pukul 01.43
Dia tertidur hampir 30 menit lamanya, dengan mimpi yang melelahkan....kini dia benar-benar menyesal karena memilih untuk tidur.
Diraihnya ponsel dari saku celananya...
30 panggilan tak terjawab....
Bella....
Apa yang terjadi???
Tiba-tiba dia merasakan tubuhnya kembali lunglai.
Dengan cepat Brian menyalakan mesin mobil dan menancap gas.
Dengan kecepatan maksimal, melaju di jalanan yang mulai lenggang.
***
40 menit kemudian....
Rumah gelap.
Tidak ada orang didalamnya.
Brian semakin kacau.
Diraihnya ponsel di saku celananya.
Menelepon Bella...
"Bella kamu di mana? kamu baik-baik saja?" Brian bertanya dengan cemas.
Suara di seberang sana tak kalah meresahkan, terdengar serak dan berat.
__ADS_1
"Aku di rumah sakit Brian, Ayah sakit...!"
"Apa??? Maaf....Bella!!! Di rumah sakit mana? Aku akan segera menyusul!"
"Hari sudah larut, sebaiknya kamu tidur. Besok kamu boleh ke sini!"
"Tapi.....!"
"Tidurlah!!! Aku mencintaimu!"
"Ya...aku juga mencintaimu Bella!" Lantas panggilan itu berakhir begitu saja.
Brian ingin ke sana, tetapi wanitanya meminta untuk tinggal.
"Aaargh!!!" Dibantingnya jas yang sedari tadi di pegangnya. Tiba-tiba Brian menjadi sangat kesal....kenapa dia duduk terlalu lama di dalam Bar, dan menghabiskan malam sendirian. Padahal Bella di sana mungkin sangat membutuhkan pundaknya.
***
Brian terbaring di ranjang....
Masih dengan pakaian kerjanya.
Matanya terpejam....tetapi tidak benar-benar tertidur.
Pikirannya terus saja bergerilya, mencoba mencari jalan....mungkin ada celah. Bukankah dia harus mencobanya? Meskipun celah itu sangat kecil sekalipun.
Tiba-tiba dia membuka matanya....bangun dari tidurnya.
Dia melupakan sesuatu....ya...Bella akan murka jika melihatnya naik ke ranjang tanpa membersihkan badan.
Akhirnya dengan sedikit malas, lelaki itu beranjak dari ranjangnya menuju kamar mandi.
Usai menggosok gigi, dia beralih mencuci tangan, membasuh wajah....ditanggalkannya pakaian yang kini dikenakan. Kemudian dengan santai keluar kamar mandi menuju ruang ganti tanpa sehelai benang pun yang menempel di badannya....
"Toh tidak ada orang ini!" Gunamnya.
Usai berganti pakaian Brian berjalan menuju ranjang, dibaringkannya lagi tubuhnya...
"Hemmmm....terasa lebih nyaman!" Diraihnya ponsel di atas nakas.
Kemudian dia melakukan swafoto, mengirimkannya kepada istrinya lantas mengetik sebuah pesan.
"Aku menjadi sangat penurut saat kamu tidak di sampingku, jadi jangan cemaskan aku! Aku akan istirahat dengan baik, aku mencintaimu Bella."
Sebuah pesan manis sebagai penutup hari ini.
Dan tidak berselang lama, sebuah pesan balasan datang dari Bella.
"Kamu terlihat sangat tampan...aku merindukanmu...penuhi janjimu dan mari kita bertemu esok nanti...aku juga sangat mencintaimu." Dan sebuah emoticon berbentuk hati.
Brian tersenyum...
Dan kini dia benar-benar merasa siap untuk tidur...
***
__ADS_1
Keesokan harinya.
Brian terbangun
Pukul 07.15 menit.
"Aaaahhhh! Aku kesiangan!" Diraihnya ponsel, kemudian dia melakukan sebuah panggilan.
"Bella....maaf aku baru terbangun!"
Suara tawa Bella menyambutnya "Iya sayang....aku akan mengirimkan alamatnya saat kamu sudah selesai mandi dan sarapan, aku menunggu swafoto darimu!"
"Iya...aku mandi sekarang!"
"Hemmmm....!" Dan panggilan itu berakhir.
Brian melakukan apa yang diinginkan Bella, sebuah foto tampan dengan menu sarapan pagi di hadapannya.
***
Apa semua orang berlibur di hari minggu? Kenapa jalanan sangat padat? Jika seperti ini dia tidak tahu harus sampai pukul berapa...
Sebuah lagu milik Bruno Major, Nothing....melantun dengan indah membuatnya sedikit bersantai di pagi yang tidak terlalu bagus.
***
Ah....benar saja, kemacetan yang parah membuatnya sampai sangat siang.
Bukankah sebentar lagi jam makan siang, haruskah dia membeli sesuatu?
"Aha....sebuah roti lapis dengan isian tuna mayo dan potongan buah alpukat terdengar bagus."
***
Brian melangkah di sebuah lorong rumah sakit, menuju ke ruang perawatan Ayah mertuanya. Dia menenteng dua buah plastik besar, satu plastik berisi roti lapis dan satu plastik berisi buah-buahan.
Sampai di pintu kamar.
Brian membuka pintu dengan perlahan.
Semua orang yang ada di ruangan itu menoleh padanya, terlihat juga wajah Papa dan Mamanya di sana. Sesaat dia menjadi pusat perhatian. Wajah orang-orang itu terlihat sangat keruh, namun tidak untuk Bella...dia tersenyum sangat manis. Meskipun sebenarnya Brian tahu, Bella mencoba menyembunyikan kecemasannya dalam senyuman itu...Brian tahu ada luka di sana. Tapi wanita itu dengan segala cinta kasihnya...selalu berusaha menunjukkan segala kebaikan untuknya.
Bukankah akan lebih baik jika dia jujur kepada diri sendiri??
Sesekali Bella juga boleh menjadi lemah di hadapannya, menangis dan bergelayut manja. Katakan apa saja kegundahan di hatinya...dan Brian akan memberikan dada bidangnya untuk tempat Bella bersembunyi. Bella bisa menangis keras di sana....tempat itu sangat kokoh dan juga hangat.
"Kamu sudah datang!" Sapa Bella.
"Hemmm....bagaimana keadaan Ayah?" Ditatapnya wajah lesu yang sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit itu. Mertuanya masih mampu menyunggingkan sebuah senyuman di sudut bibirnya.
"Ayah baik-baik saja!"
Brian mendekat, memberikan dua kantong itu kepada Bella "Aku membelikan roti lapis kesukaanmu, makanlah bersama Ibu, Papa dan Mama!" Kemudian berjalan menghampiri Ayah mertuanya.
"Maaf Ayah Brian baru sempat datang ke sini!"
__ADS_1
"Tidak apa-apa, kamu pasti sibuk. Ayah mengerti!" Suara itu terdengar serak dan lemah.
"Ah...Ayah! Bisakah kamu berjuang untuk tetap baik-baik saja? Rasanya aku tidak mampu jika harus melihat kesedihan semacam itu di wajah Bella!" Gunamnya dalam hati.