
Ini musim semi tapi entah mengapa Brian mendengar gemuruh suara petir di telinganya? Apa suara itu berasal dari hatinya? Dan apa hamil? Ah...tidak...tidak!! Dia tidak sanggup untuk itu.
Brian memundurkan langkahnya kemudian menghempaskan pelukan yang bergelayut manja di dadanya. Dia belum siap untuk ini, dia hanya bersenang-senang dan dia hanya menginginkan anak dari rahim Bella. Bukankah dia sangat hati-hati...kenapa bisa sekarang Dera hamil?
"Kamu yakin?" Tanya Brian dengan gagap.
"Ya! Aku bisa menunjukkan buktinya!"
"Bukan itu...ap...apa kamu yakin itu anakku!"
Deraian air mata Dera menganak sungai "Tentu saja!"
"Aku tidak pernah melakukannya didalam Dera! Bagaimana itu mungkin?"
"Jadi apa kamu mengira semua lelaki meniduriku?" Ucap Dera lantas berlari menuju kamar dengan luapan air mata.
"Bukan itu maksudku!"
Braaak!
__ADS_1
Suara pintu yang terbanting sempurna, dengan gusar Brian mengetuk pintu itu "Dera keluar Der! Kita harus bicara!"
"Apa lagi? Enyah kamu Brian! Kamu benar-benar melukai perasaanku!"
Dengan lunglai Brian mengetuk dan berusaha merayu Dera agar keluar dari kamarnya, dia harus berbicara dengan wanita itu. Apa yang akan terjadi jika Bella tahu dia menghamili sahabatnya sendiri. Rumah tangganya bisa dipastikan akan hancur berantakan.
Setelah perjuangan panjang, akhirnya Dera mau keluar dari kamar itu. Wajahnya lembab dan sedikit lebam di area mata, hidung dan bibirnya.
Hal pertama yang dilakukan Brian adalah menggiring wanita itu untuk duduk. Kemudian lelaki itu bersimpuh di depan Dera, dengan menggenggam erat jemari lentik wanita itu.
"Dera dengarkan aku! Kita telah berjalan terlalu jauh, aku tidak akan membahas siapa yang paling berdosa di antara kita. Tapi aku tidak siap untuk ini..." Belum juga selesai dengan kata-katanya, Dera kembali berontak, mencoba menyingkirkan tubuh lelaki itu agar tidak menghalangi langkahnya. Namun secepat kilat Brian meraih tubuh itu, memeluknya dengan erat "Dera...kumohon dengarkan aku!" Ucap Brian dengan suara bergetar "Bukan hanya aku yang diuntungkan dari hubungan kita, kamu juga menikmatinya. Aku tidak akan membahas apa saja yang bisa kamu ambil dariku, tidak...tapi cobalah untuk sedikit mengerti diriku, hemmm....! Ayo kita gugurkan bayi ini!"
Dera menangis histeris, kini tidak hanya tubuhnya yang berontak dari kungkungan Brian, tetapi kini dia juga mulai menghujani lelaki itu dengan pukulan-pukulan.
"Dera! Kamu boleh berfikir lagi, tetapi kumohon pertimbangkan ini baik-baik. Akan tidak nyaman jika sampai orang-orang tahu bahwa janin itu adalah hasil dari hubungan gelap. Sekarang ganti pakaianmu! Ayo kita pergi berjalan-jalan, udara segar bisa membuatmu berpikir dengan baik!" Kemudian lelaki itu menyapu sisa air mata di pipi Dera, dan menghadiahi sebuah kecupan lembut di bibir ranumnya.
***
Sedari tadi pikiran Bella terasa kalut, dia mencoba membebaskan semua masalah yang ada di benaknya. Namun kenapa ada hal lain yang terus mengganjal dan membuatnya tidak nyaman, seolah terus berusaha merebut perhatian otaknya dan membuat Bella tidak mampu bekerja dengan baik, tetapi Bella tidak tahu hal apa itu.
Akhirnya dia menutup layar desktopnya. Dan berlalu dari ruang kerja yang terasa satu tingkat lebih pengap sambil menenteng tas dan ponsel di tangannya.
__ADS_1
Jalanan masih lenggang, karena rata-rata orang masih sibuk di meja kerjanya dan dia menjadi salah satu penguasa jalan di siang hari ini.
Tidak lama kemudian mobilnya sudah memasuki sebuah halaman parkir sebuah galeri seni, melihat keindahan tentunya bisa mengalihkan ketidaknyamanannya dengan segala pikiran-pikiran liar yang terus menghantui.
Tidak banyak pengunjung, tentu saja! Karena ini bukan hari libur. Dan Bella tidak hentinya merasa kagum, dengan pemandangan-pemandangan indah yang terpampang di pelupuk matanya. Tangan seperti apa yang mampu membuat goresan seindah ini? Dua jam kemudian dia keluar dari galeri itu dengan sedikit menyesal kenapa dia tidak membawa kamera tele miliknya.
"Bruuk!"
Sesosok tubuh menghantam dirinya dengan keras, Bella hampir tergopoh dan kehilangan keseimbangan. Nyaris saja dia terjatuh, namun sebuah tangan secepat kilat berusaha meraihnya.
Sosok yang familiar nampak tersenyum lebar, membuat dia berpikir tentang peruntungannya hari ini. Tidak perlu mencari karena nyatanya sesuatu yang pergi akan menemukan cara sendiri untuk kembali.
"Kamu! Apakah ini hari keberuntunganku?" Bella menyapa dengan sebuah senyuman lebar.
Lelaki jangkung yang berpakaian casual dengan sebuah kamera yang tergantung di leher kemudian menjawab "Aku penasaran kenapa kamu berusaha mencariku?"
"Kamu pasti tahu jawabannya! Oh ya bagaimana kalau kamu menemaniku menikmati segelas kopi hangat di sana?" Sambil menunjuk ke arah taman.
"Hemmm....bukankah cuaca indah seperti ini jauh lebih baik jika kita menikmati segelas wine di sebuah kamar hotel?" Jawabnya dengan sebuah senyum menantang.
"Apa kamu tidak keberatan jika Dera marah dan memutuskan cintanya denganmu?" Jawab Bella lagi tidak kalah panasnya, jemari lentik itu lantas membelai dada bidang yang masih tertutup dengan rapi.
__ADS_1
"Ayolah! Berhenti bersikap polos kepadaku!"
Bella tertawa "Tunggu di sana, aku akan segera kembali!" Ucap Bella kemudian sambil berlalu pergi.