
Di kediaman Alnord.
"Ayolah! Ijinkan Bella menginap di sini beberapa hari!" Rayu Bella kepada Ayahnya.
"Tidak!"
"Ayah!" Bella kembali merajuk.
Gabriel dan Margaret hanya tertawa melihat tingkah menantunya itu.
Tetapi Brian benar-benar tidak bisa berpura-pura.
Gabriel bisa menangkap kegelisahan Brian.
"Ayo!" Ajak Gabriel, mengajak Brian ke luar dari kamar, menjauh dari mereka.
Brian menurut...
Mengikuti Papanya.
"Apa semuanya berjalan dengan baik?"
"Iya Pa!" Dengan gagap Brian menjawab.
Bella menyadari ketidakadaan Papa dan suaminya, karena tidak ingin sesuatu kembali terjadi di luar kendalinya akhirnya Bella memutuskan untuk menyusul mereka.
"Ah...Brian sialan...tidak bisakah dia menunjukkan wajah yang biasa saja!" Umpatnya dalam hati.
"Bella!" Kata Gabriel.
Bella tersenyum, dia tidak tahu harus memulai dari mana.
"Papa mau secangkir kopi?"
"Mmmm...ide yang bagus!"
"Kamu mau sayang?" Kata Bella menawari Brian.
Brian mengangguk.
15 menit kemudian Bella kembali, dengan sebuah nampan di tangannya. Tiga cangkir kopi panas...
"Keadaan Ayah sudah membaik, bagaimana kalau Brian dan Bella berlibur!"
"Entahlah! Apa itu ide yang bagus!"
Alnord ke luar dari kamar diikuti Agatha dan Margaret di belakangnya.
"Itu ide yang bagus! Semenjak menikah bukankah kalian belum pernah berlibur? Hitung-hitung sekalian bulan madu, syukur-syukur kalau pulangnya bawa cucu!" Ucap Alnord sambil terkekeh.
"Ayah ini!" Jawab Bella dengan bibir yang di monyongkan.
"Ayolah Brian...Bella! Kami ingin cucu!"
Dan semua orang di sana tertawa kecuali Brian dan Bella tentunya.
"Baiklah nanti akan kami pikirkan kembali!"
"Pikirkanlah baik-baik!"
__ADS_1
"Jadi bolehkah Bella menginap?"
"Tidak!" Jawab Alnord dengan tegas dan disambut oleh tawa Gabriel, Agatha dan Margaret.
***
Saat hari mulai menjelang malam Brian dan Bella pamit untuk pulang, seperti biasa tidak ada percakapan di antara mereka.
Sampai di rumah.
"Berikan nomor Claire padaku!"
Sejenak Brian ragu, namun akhirnya dia memberikan ponselnya kepada Bella.
Bella melakukan panggilan.
"Kamu merindukanku?" Itulah kata pertama yang ke luar dari mulut Claire.
J*lang yang sangat luar biasa, dijauhkannya ponsel itu dari telingannya...kini dia mengaktifkan mode pengeras suara.
"Brian!" Panggilan yang terdengar menggoda dan menjijikkan.
"Berhenti menemui Brian!" Kata Bella.
Wanita di seberang sana mungkin terkejut, karena ternyata bukan Brian yang meneleponnya.
Di detik berikutnya wanita itu malah terkekeh "Tapi kami memutuskan untuk saling bertemu!"
"Benarkah? Kita lihat saja nanti!" Jawab Bella lantas mematikan panggilannya.
"Kamu memilih aku atau dia?" Tanya Bella kepada Brian.
Dan lagi-lagi Brian hanya terdiam dengan wajah tertunduk.
Bagaimana bisa seorang pembisnis sukses, CEO sebuah perusahaan besar yang mampu berbicara dalam banyak bahasa tiba-tiba menjadi gagu di hadapannya.
Bella menjerit, mengamuk sejadi-jadinya. Membanting benda apa saja yang ada di hadapannya...
Tidak hanya sampai di situ, kini dia beralih ke Brian. Tubuh malang itu kini menjadi sasaran empuknya....dipukulnya berkali-kali tubuh itu.
Tetapi lelaki itu hanya diam, tidak bergeming sedikitpun....
Kini Bella terduduk lunglai di lantai, amarahnya seketika berubah menjadi tangisan.
"Kumohon bicaralah!"
Brian tetap tidak bergeming sedikitpun.
30 menit Bella terduduk dengan tangisnya.
Kemudian dia berdiri kembali, diraihnya bahu lelaki itu dengan kedua tangannya. Diangkatnya dagu Brian...kini lelaki itu tengah memandang dirinya.
"Aku atau Claire?"
"Aku mencintaimu Bella....!" Akhirnya lelaki itu berbicara.
Kata-kata yang terdengar ambigu, Bella bertanya tentang memilih dia tau Claire...tapi kenapa Brian menjawab seperti itu....apa maksudnya dia tidak bisa memilih salah satu? Dia menginginkan keduanya?
Dasar lelaki bedebah.
"Bisakah kamu berjanji untuk tidak menemui Claire?"
__ADS_1
Lagi-lagi Brian kembali diam.
Kepala Bella berdenyut ngilu, dia merasakan pusing yang parah.
Dia menarik kerah baju suaminya, menyeretnya ke kamar utama, mendorong tubuh itu di kasur dengan kasar.
Kini Bella menjadi gila...
Dibukanya satu persatu baju yang menempel di tubuhnya.
Kini wanita itu tidak mengenakan apapun...
Brian memalingkan wajah.
"Ah....sial! Brian tidak menginginkannya." Gunamnya.
Tidak masalah!
Bella yang akan memimpin pertempuran.
Bella mendekat....ditindihnya badan kekar Brian. Lelaki itu hanya memejamkan mata, saat bibir lembut Bella menjamah bibirnya.
Bella tidak mendapatkan respon...
Tidak masalah!
Bella bisa menyerang yang lain.
Kini mulutnya telah bergerilya, menyelusuri setiap inci tubuh lelakinya.
Memberikan jilatan-jilatan kecil yang mematikan.
Brian bergidik nyilu...
Wanitanya tiba-tiba berubah menjadi buas.
"Hentikan Bella!"
Bella tidak menggubris kata-kata suaminya, dia terus saja melakukan penyerangan-penyerangan...
"Aku melakukannya karena terpaksa! Aku tidak menyukai Claire!"
Bella berhenti, lebih tepatnya kata-kata Brian yang membuatnya berhenti.
"Di laci! Aku menaruhnya di laci!" Bella melepaskan kungkungannya pada Brian.
Dikenakannya kembali kemejanya, ya....hanya kemejanya.
"Bella menarik laci nakas!" Sebuah amplop coklat tergeletak di sana.
Di bukanya amplop itu..
Sebuah foto...
Bella terkejut!!!
Foto itu kini berhamburan di lantai.
Tubuhnya seketika memanas, emosinya meluap tidak terkendali.
Kali ini dia bangkit dari duduknya, meraih semua baju yang tadi berceceran di lantai. Menuju ruang ganti.
__ADS_1
10 menit kemudian dia sudah keluar, dengan setelan komplitnya.
Diambilnya kunci mobil dan berlalu dari kamar itu, kata-kata Brian tidak lagi didengarnya.