
Seminggu berlalu...
Keadaan Alnord berangsur membaik dan besok pagi Alnord boleh kembali pulang.
Di ruang perawatan Alnord.
"Kamu pulang saja hari ini Bell, kasihan Brian....sudah hampir satu minggu kamu tidak tidur di rumah."
"Brian tidak keberatan Bu, lagi pula besok Ayah sudah boleh pulang!"
"Bella pulang saja!" Kata Alnord.
"Tapi Ayah....!"
"Ayah sudah lebih baik! Besok pagi kamu kesini lagi!"
...dan lagi-lagi jika sudah Ayahnya yang berbicara, Bella sudah tidak berani berargumen.
Malam belum terlalu larut ketika Bella menyelusuri koridor rumah sakit. Sekarang dia sudah berdiri di lobby depan, menunggu taxi yang tadi dipesannya secara online.
Mmmmm.....udara dingin membelai tengkuknya yang terbuka. Tidak berselang lama sebuah mobil taxi berhenti tepat di hadapannya...Bella memasuki mobil itu, meraih ponselnya.
"Haruskah aku mengirim pesan?" Detik berikutnya dia sudah meletakkan ponsel itu kembali dalam saku celananya.
"Biar menjadi kejutan!" Sesungging senyuman merekah di bibirnya.
Mobil berjalan dengan perlahan, Bella membuka pintu jendela sebagian, membiarkan udara dingin sekali lagi membelai tubuhnya...ini sangat menyenangkan...Bella menutup mata, hembusan angin terasa begitu nyata menyentuh wajahnya. Kerinduan yang sudah bertumpuk selama seminggu akhirnya akan lunas terbayarkan.
Kini mobil itu sudah sampai di sebuah rumah besar bergaya minimalis modern itu, Bella mengucapkan terimakasih dan turun dari taxi.
Kelak jika dia memiliki banyak anak, bukankah rumah tidak akan sesepi ini...dia sedikit tersenyum memikirkan hal bodoh semacam itu.
Sebuah mobil warna biru tua terparkir di halaman rumahnya, jelas itu bukan mobil mereka.
Apa ada yang bertamu....??? Apakah itu rekan bisnis Brian??? Entahlah....yang jelas dia ingin segera menemui suaminya, rindunya sudah membuncah hingga ke dada.
Bella memasuki rumah.
Sepi....
Bukankah ada tamu?
Dimana mereka?
Bella meletakkan tas di atas meja makan, kemudian berjalan menuju kamar tidur utama.
Sayup-sayup terdengar suara yang tidak asing lagi di telingannya.
Tiba-tiba tubuhnya menjadi lunglai...matanya memanas, semburan lava panas bersusul-susulan menganak pinak....sejenak dia bahkan merasa tidak mampu untuk berdiri tegak.
Tangannya menggapai gagang pintu.
Ragu....
Membukanya atau memilih untuk pergi dan berlalu dari sana.
__ADS_1
Sesuatu yang menyakitkan mungkin sudah menunggunya di sana. Tiba-tiba Bella menjadi sangat takut....dia ingin bersembunyi.
Dunia terlalu menyakitkan....
Suara itu semakin terdengar nyata....
Suara d*sahan yang membuat dadanya bergidik nyilu....
Musim apa ini???
Apakah dia terlalu terbuai, hingga hal bodoh seperti ini terlewat dari pengawasannya.
Bella menghela nafas dalam....
Ditariknya gagang pintu itu...
Pintu terbuka...
Di dorongnya pintu itu....
Sebuah pemandangan yang mengejutkan, rasa-rasanya Bella pernah berada dalam posisi seperti ini....dia tersenyum getir.
Haruskah mengulang kembali kejadian yang memuakkan???
Brian terkejut...wajahnya seketika memucat, tubuhnya beringsut dari tempatnya semula.
Dan wanita itu....
Ah...
Ada apa dengan wanita itu??
Kemana perginya harga dirinya???
"Bella!!!" Brian kini beranjak dari tempat tidur, meraih celana dan memakainya dengan tergesa.
Bella masih di sana, tetapi matanya benar-benar kering. Kenapa dia menjadi setegar ini??
Entahlah....
"Ini tidak seperti apa yang kamu lihat Bella!" Sebuah penjelasan konyol yang bahkan tidak bisa di terima oleh akal sehat manusia.
Jika mereka berdua, tanpa busana....saling tindih- menindih dan melontarkan kata-kata kotor dan d*sahan yang menjijikkan....
Haruskah Bella diam dan menganggap itu hanyalah sebuah permainan?
"Suruh wanita itu berganti pakaian dan turun dari ranjang!" Bella berkata tanpa sedikitpun amarah.
"Aaaaargh!" Brian terlihat marah, seolah dia berkata bahwa ini tidaklah adil baginya.
Apa ini???
Dia berlagak menjadi seorang korban???
Bella berjalan menuju dapur, diambilnya air dari dalam lemari pendingin.
Ditenggaknya air itu, kesejukan merambat dari mulut menuju kerongkongannya, kini dia berjalan kembali ke arah ruang tamu.
__ADS_1
Dia duduk di sana.
Tidak berselang lama Brian muncul, dengan j*langnya...
"Bella! Aku bisa menjelaskan ini semua!"
"Duduklah!" Bella berbicara dengan tenang.
Dua manusia itu duduk di depannya, Bella menyeringai...
"Jadi apa yang terjadi?"
Brian diam...apa yang ingin dijelaskannya???
Tiba-tiba dia menjadi gagu, ini hal yang paling dia takutkan...bukan kemarahan Bella.
Tapi melihat wanita itu terluka....
Ada banyak hal yang ingin dia sampaikan, namun lidahnya bagai terkunci.
"Kami...aku dan Brian saling mencintai!" Wanita itu berkata dengan lantangnya.
Bella tersenyum.
Brian menoleh ke arah wanita itu, tatapannya terlihat tidak menyetujui ucapan wanita itu.
Kemudian dia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Dari sekian banyak tempat kenapa kalian melakukannya di sini?" Bella bertanya sungguh karena penasaran.
"Bella!!!" Brian memanggil dengan suara yang memelas.
"Ini sudah larut sebaiknya kamu pulang, kita lanjutkan pembicaraan ini besok! Aaaa....aku sangat sibuk besok bagaimana kalau lusa!!! Kamu ada waktu?" Berbicara seraya bangkit dari duduknya...berjalan ke arah pintu dan membuka pintu, memberi isyarat agar wanita itu lekas enyah dari hadapannya.
Mendengus kesal....
Bagaimana tidak? Dia meniduri lelakinya bahkan di kamar tidur mereka dan kini tanggapan wanita itu benar-benar di luar dugaannya.
Wanita itu beranjak dari duduknya, menenteng tas dan berlalu begitu saja.
Bella membanting pintu selepas wanita itu keluar dari rumahnya.
"Ini belum berakhir Brian!" Gunamnya dalam hati...
Bella berjalan tergesa menuju kamar tidur utama.
Semua bantal dan seprai dia hempaskan di lantai dengan murka, nafasnya terengah-engah....kini dia berada dalam mode yang seharusnya.
Bukankah dia layak marah???
Ah....Bella benar-benar jijik, bisakah dia tidur di kamar ini malam ini.
Dengan kasar Bella mengambil bantal dan seprai itu dan membuangnya.
Brian hanya berdiri mematung...
Ketakutan menyambangi dirinya.....
__ADS_1