Berbagi Cinta : Penyesalan

Berbagi Cinta : Penyesalan
Part 39 : Kebencian Yang Tidak Sempurna


__ADS_3


Tepat pukul 09.00 ruangan rapat sudah dipenuhi oleh anggota dewan direksi dan petinggi perusahaan.


Brian duduk di sebelah Calvin, tidak berselang lama masuklah Gabriel dan asisten kepercayaannya kemudian diikuti Bella paling belakang.


Kemudian Gabriel mengenalkan Bella yang merupakan anak dari Alnord dan merupakan menantu kesayangannya.


"Mulai hari ini secara resmi saya umumkan Bella sebagai pimpinan perusahaan yang baru."


Tidak ada komentar ataupun pemberontakan, jika itu calon yang dipilih langsung oleh Gabriel sudah bisa dipastikan orang tersebut pasti kompeten, meskipun sebenarnya selama ini kinerja Brian juga tidak memiliki cela sedikitpun.


Rapat selesai...


Semua peserta rapat satu persatu meninggalkan ruang rapat hingga tinggal tersisa lima orang. Brian, Gabriel, Calvin, asisten Gabriel dan Bella.


Gabriel memberikan isyarat kepada asisten pribadinya dan Calvin untuk meninggalkan ruang tersebut.


Setelah dua orang itu keluar, Gabriel memulai kembali percakapan.


"Brian kamu tahu apa kesalahanmu?"


Brian menunduk.


"Kamu tidak perlu berfikir bahwa Bella mengadu kepada Papa! Karena selama ini Papa selalu mengawasi tingkah lakumu! Kamu bersyukur karena Bella lah yang menjadi istri kamu, karena Papa sangat yakin, jika itu wanita lain pasti dia sudah pergi meninggalkan kamu!"


"Maafkan Brian Pa!"


"Bukan kepada Papa Brian tetapi kepada Bella!"


Brian menghela nafas "Maafkan aku Bell!"


"Apa kamu berfikir perilakumu bisa dimaafkan?"


"Tidak!" Jawab Brian.


"Brian!"


"Iya Pa!"


"Mulai saat ini, kamu hanya perlu membantu Bella!" Kata Gabriel seraya beranjak dari duduknya dan berlalu pergi.


Kini tinggal Brian dan Bella di sana.


"Ayo kita juga harus kembali bekerja!"


"Bell!"

__ADS_1


"Ya!"


"Bagaimana dengan impianmu?"


Bella menghela nafas "Aku sudah membuangnya jauh!" Kemudian wanita itu pergi meninggalkan Brian dengan pikiran kalutnya.


Brian merasa bersalah...


Karena dia, akhirnya Bella harus membuang jauh impiannya.


***


Di sela-sela kesibukannya, Bella menyempatkan untuk mengirim sebuah pesan singkat untuk suaminya.


"Bagaimana kalau nanti malam kita makan bersama, aku akan mencari restoran yang bagus!"


Kemudian meletakkan kembali ponselnya dan kembali bergelut dengan pekerjaannya.


***


Selepas pulang kerja.


Di dalam mobil...


Jalanan sore begitu padat, mobil merayap dengan perlahan...


Bella memilih sebuah restoran Jepang dan memilih tempat yang tertutup.


"Aku memesankan makanan kesukaanmu! Makanlah!"


"Terimakasih makanannya!" Jawab Brian seraya menyuapkan sepotong sushi ke dalam mulutnya.


"Bisakah kita makan sambil berbincang? Tanya Bella membelah kesunyian.


Tanpa menjawab Brian menghentikan aktivitas makannya.


Memandang Bella dengan tatapan bodohnya...


Wajah polos itu membuat Bella serba salah.


"Kamu tidak perlu menatapku seperti itu!"


"Ah...ya!" Lantas lelaki itu mengedarkan pandangannya pada sederet makanan menggoda yang terhidang di hadapannya.


"Aku tidak bisa memaafkanmu! Jadi....apa sebaiknya kita akhiri saja hubungan ini!" Berkata lirih sembari menatap suaminya, berusaha mencari sendiri jawabannya dari wajah polos itu.


Brian terkejut...

__ADS_1


Sumpit yang ada di tangannya terlepas.


Dia tahu benar kesalahan macam apa yang dilakukannya.


Tetapi dia benar-benar tidak pernah berfikir bahwa Bella berkata seperti itu, mendadak hatinya menjadi kelu...air mata jatuh begitu saja. Dia lelaki tetapi dia bahkan tidak bisa menahan hal bodoh yang memalukan itu ke luar dari matanya.


Detik berikutnya lelaki itu sudah berada di samping kaki Bella "Maafkan aku Bella!"


"Bukankah aku sudah mengatakannya? Aku bahkan tidak bisa memaafkanmu....aku mencintaimu...dan aku berani bertaruh bahwa rasa cintaku jauh lebih besar dari cintamu. Tapi segalanya terasa sulit, bisakah kamu memahamiku...setiap kali berada dekat denganmu, aku didera perasaan takut dan marah. Aku mempercayaimu kali terakhir tetapi tidak untuk kali ini!"


"Kamu tidak perlu memaafkanku...tapi kumohon berikan aku satu kesempatan lagi!"


"Haruskah kita hidup dalam sandiwara lagi? Kita bisa hidup bersama, tapi jangan pernah berharap satu sama lain!"


"Aku tidak bisa...!"


"Bukankah kamu ahli dalam hal itu?"


"Bella!"


"Duduklah ditempatmu!"


"Tidak! Sampai kamu memberiku kesempatan kedua!"


Bella menggeser tempat duduknya "Baiklah! Kamu bisa berlutut seperti itu sampai kamu menginginkannya!" Seraya beranjak dari duduknya dan berlalu pergi.


"Bella....!"


Dia tidak akan menoleh lagi ke belakang, atau hatinya akan kembali melumer.


Selepas kepergian Bella, Brian masih dalam posisinya semula. Bersimpuh dengan deraian penyesalan yang tidak kunjung berakhir....hingga lama...


Hingga dia merasakan kakinya kebas dan nyaris tidak bisa digerakkan.


***


Bella masih berada di dalam mobil, duduk termenung.


Air matanya juga tumpah ruah tidak terkendali...apakah keputusan yang baru diambilnya adalah keputusan yang benar?


Benarkah dia mampu untuk hidup satu atap dengan Brian tanpa melibatkan kembali perasaannya?


Berhenti mencintai ternyata jauh lebih sulit daripada belajar untuk mencintai.


Dan tanpa Bella sadari rasa cintanya kepada Brian telah menganak pinak seperti sekumpulan rumput liar yang sulit untuk dimusnahkan.


Bahkan setelah penghianatan dan rasa sakitnya selama ini, Bella....bahkan tidak mampu membenci lelaki itu dengan sepenuh hatinya.

__ADS_1


__ADS_2