
Lagi-lagi Dera membatu, lelaki itu kembali dan memintanya untuk menikah dengannya. Apakah dia pantas melakukan itu? Setelah begitu banyak kekacauan yang dia buat. Bukankah gara-gara lelaki itu akhirnya dia kehilangan teman baik. Ya! Dera menyesal telah membuat sahabatnya terluka, dan melihat reaksi Bella yang bersikap biasa saja kepadanya membuatnya semakin terpuruk. Maka dia sengaja, ingin terus menyulut amarah Bella. Agar wanita itu benar-benar membencinya dan membuatnya sedikit lebih baik. Sebab dia merasa pantas untuk itu.
"Pergilah! Aku akan menikah pekan depan!"
"Aku tahu!"
"Lantas kenapa kamu datang dan bertanya? Bukankah lebih baik kamu enyah dan menyembunyikan diri?"
"Aku tidak bisa, aku merasa terus berdosa!"
__ADS_1
"Berpura-puralah menjadi baik! Dan lakukan seperti yang sudah-sudah, asal kamu tahu aku sangat membencimu!"
"Menikahlah denganku! Beri aku satu kesempatan."
"Kesempatanmu sudah hilang saat waktu itu, dan sekarang kamu tidak memilikinya lagi. Dan asal kamu tahu tidak mudah bagiku untuk sampai di sini jadi jangan datang dan membuatku melepaskan semua yang aku miliki sekarang!" Lantas Dera keluar dari mobil itu, namun dia masih sempat mendengar lelaki itu berkata bahwa semua yang dia dapatkan dengan cara yang tidak baik akan pergi dengan cara yang tidak baik pula.
"Berani-beraninya dia menggurui seperti itu!" Berjalan sambil menggerutu kesal.
Dion berlari bagai kesetanan usai melakukan sebuah panggilan telepon, menyambar kunci mobil dan bergegas pergi. Mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sampai di halaman parkir sebuah butik, lelaki itu lantas turun. Suara dentuman terdengar setelahnya, saat lelaki itu dengan keras membanting pintu mobilnya.
Dari arah dalam seorang karyawan toko membuka pintu "Bagaimana keadaan Bella!" Itu kalimat pertama yang mampu keluar dari mulutnya!
__ADS_1
Ternyata wanita itulah yang menelepon Dion dan membuat lelaki itu panik "Tidak baik!" Tanpa menunggu aba-aba Dion berjalan dengan tergesa menuju sebuah ruangan di ujung koridor. Membuka pintu itu dengan perlahan dan memberi kode kepada asisten Bella untuk pergi meninggalkan tempat itu. Pintu terbuka pemandangan yang tidak baik terpampang di depannya, benda-benda berceceran tidak pada tempatnya, sebagian pecah dan dia melihat sesosok tubuh teronggok di pojok ruangan dengan wajah yang tersembunyi di balik dua kakinya.
Dion mendekat, memungut barang-barang yang bisa di selamatkan dan menaruh di tempatnya semula. Itu tidak sulit bagi Dion sebab dia hafal seluruh tata ruang di sini. Dan seperti dia hafal betul perangai wanita itu, saat ini dia hanya butuh waktu untuk dirinya sendiri, tidak baik baginya jika datang dan mengelus wanita itu. Sebab wanita itu tau apa yang terbaik bagi dirinya.
Hampir satu jam, ya! Hampir satu jam Dion membereskan ruangan itu. Dalam hati dia mengeluh, jika hobi Bella menghancurkan ruangannya, setidaknya wanita itu tidak perlu meletakkan berbagai macam pajangan di sana. Bukankah itu akan menyulitkan siapa saja yang membereskannya, usai sebuah kekacauan terjadi. Dion meraih sapu dan membersihkan pecahan vas yang berserakan. Dia juga menemukan sebuah foto berpigura yang kacanya remuk. Sepertinya wanita itu membantingnya dengan sangat keras. Dion memungut benda itu, membersihkannya dari pecahan kaca. Sebuah foto pernikahan tanpa senyum. Jika dilihat-lihat lagi sang fotografer pasti sangat terluka jika melihat hasil jepretannya. Dion tersenyum getir "Bahkan setelah semua yang terjadi wanita itu masih menyimpan foto pernikahannya!"
Semua sudah selesai dan Dion berjalan ke luar ruangan, asisten Bella tengah berdiri di sana. Dan Dion berani bersumpah wanita itu tidak menuruti perintahnya dan berdiri mematung di sana. Tapi Dion bersyukur setidaknya ada orang-orang yang begitu menyayangi Bella selain dia. Dion tersenyum memandangi wajah penuh kecemasan itu seraya berkata "Buatkan teh hijau hangat!" Tiba-tiba wajah itu berseri, entah dari mana datangnya mentari itu. Namun Dion benar-benar merasakan perbedaannya. Tidak berselang lama wanita itu kembali dengan dua cangkir teh hijau, satu potong cheese cake dan setoples cookies coklat dengan taburan almond. "Beliau hanya meminum satu gelas es kopi pagi tadi!" Dion tersenyum, dan tugasnya kali ini adalah membuat makanan-makanan itu berpindah ke perut Bella.
Dion kembali melangkahkan kakinya memasuki ruangan Bella, wanita itu masih teronggok disudut ruangan. Dion meletakkan nampan itu di atas meja. Kemudian berjongkok menghampiri Bella dan mengelus pelan punggungnya "Bell! Bella!" Wanita itu membuka wajahnya "Dion! Sejak kapan kamu di sini?" Dion nyaris tertawa, wanita itu wanita yang tadi mengamuk seperti banteng dan membuat seisi butik khawatir ternyata tengah tertidur. Ah....mungkin dia lelah sesaat setelah melampiaskan semua amarahnya "Sejak tadi, aku bahkan sudah membereskan semua kekacauan yang kamu timbulkan." Bella kini memendarkan pandangannya, mengelilingi setiap sudut ruangannya, kemudian sebuah senyuman mengambang di sudut bibirnya "Maaf!" Kemudian berdiri dan melihat seonggok pemandangan indah di atas meja. Detik berikutnya wanita itu duduk di atas sofa dan meraih cangkirnya, menghirup aromanya dan mencecapnya perlahan, meletakkan gelas itu kembali dan memotong cheese cake dengan sebuah sendok kecil dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
Kali ini Dion bisa bernafas lega....
__ADS_1