Berbagi Cinta : Penyesalan

Berbagi Cinta : Penyesalan
Part 48 : Melebur


__ADS_3


Mobil Bella berhenti tepat di depan sebuah gerbang besar yang menjulang tinggi. Terlihat catnya yang mulai usang, namun tidak mengurangi sedikitpun kekokohannya. Dua orang berperawakan tinggi besar datang menghampiri Bella.


"Ada perlu apa?"


Bella menyampaikan maksud kedatangannya kemudian salah satu dari pria tersebut membukakan pintu gerbang.


Kini mobil Bella telah menerobos gerbang itu, melewati jalan beraspal yang hanya bisa dilewati satu mobil.


Pemandangan yang sama, pohon-pohon cemara yang berjajar rapi sepanjang jalan. Bukankah dulu masih sebesar dekapannya, kenapa kini menjelma seperti raksasa? Inilah tempat yang paling sering dia kunjungi di rumah ini, selain kamar mewah Dion tentunya.


Tawa itu kembali terngiang di telinganya, tubuh lincah yang dengan gesit menghindar dari kejaran dan amukannya, berlari dengan cepat sampai pada akhirnya dia terduduk lemas di hamparan rumput hijau dengan nafas tersenggal-senggal.


"Kenapa kamu tidak pernah lelah?" Berbicara terbata-bata sambil mengatur nafas.


Bella tersenyum....


Ingatan masa lalu yang di penuhi keindahan.


Kenapa kini berbanding terbalik.


Dan sampailah dia, di halaman depan sebuah rumah megah bercat putih itu. Bella turun dari mobilnya, sesosok lelaki paruh baya tengah menunggunya.


Bella tersenyum, menghampiri orang tua itu dan menyapanya.


"Ayo masuk!"


Bella menurut, mengekor dibelakang lelaki itu.


"Duduklah! Kamu mau minum apa?"


"Apa saja Om!"


Terasa canggung, berhadapan dengan lelaki yang sudah hampir delapan tahun tidak pernah dia jumpai.


Sampai akhirnya sebuah pertanyaan terlontar dari bibirnya.


"Dion menemuimu?" Pertanyaan tiba-tiba yang membuatnya gagu.


"Apa Dion sudah pulang?" Dan pura-pura tidak tahu adalah pilihan terbaik.


"Sudah! Tapi dia tidak kembali ke rumah, jika dia datang padamu! Suruh dia untuk kembali!"


"Baik Om!"


"Om dengar kamu sudah menikah? Maaf karena tidak hadir waktu itu!"


"Tidak apa-apa Om, itu hanya sebuah acara sederhana!"


"Dion pasti kecewa jika mendengarnya!"


Gleg....


Bella menelan ludah "Dia sudah tahu!" Gunamnya dalam hati.


Apa benar Dion kecewa mendapati dirinya sudah menikah?


Bella tahu hubungannya dengan Dion sangat istimewa, tapi sepengetahuannya tidak pernah ada cinta di sana.

__ADS_1


Ya....


Tidak ada!!!


Setelah dirasa cukup terlibat dalam percakapan yang memuakkan. Bella pamit undur diri.


Jadi hal utama yang diinginkan lelaki itu adalah tentang informasi keberadaan Dion.


Ckckckckck...


Bocah itu!!!


Apa susahnya bersikap dewasa dan cepat pulang! Bukankah menjadi pewaris tunggal keluarga Wilhem bukanlah hal buruk.


Jalanan malam cukup lenggang, namun ada yang terasa aneh. Sebuah mobil hitam sedari tadi terus saja mengikutinya.


"Apa dia sengaja mengikutiku?"


Mmmm....sebuah pikiran tiba-tiba mencuat dalam benaknya, Wilhem paham betul seperti apa perangai Dion, hal yang pertama dilakukan bocah tengil itu pastilah menemuinya. Dan tujuannya menyuruhnya untuk datang ke rumah ternyata bukan untuk mendapatkan kebenaran, melainkan ingin melihat kebenarannya.


Bella tersenyum...


"Kembali ke rumah adalah pilihan terbaik!"


***


Rumah sepi...


Seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan.


Bella masuk dengan perlahan, ditelusurinya semua ruangan di rumahnya. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Brian.


Dimana lelaki itu?


Tiba-tiba Bella merasa penat, menenggak segelas wine mungkin akan membuatnya sedikit lebih baik.


Tanpa berganti baju, Bella berjalan menuju ruang penyimpanan anggur yang terletak di lantai dua.


Klik....


Lampu menyala...


Dan pemandangan aneh terpampang di depannya. Brian yang tengah duduk meringkuk di lantai dengan dua botol whisky yang telah tandas isinya.


Lelaki itu menyembunyikan wajahnya di antara kedua pahanya.


Samar-samar Bella mendengar lelaki itu bergunam lirih.


"Ma..afkan aku Bella...maafkan aku!" Lantas lelaki itu menangis pelan.


"Bisakah kita seperti dulu lagi?"


Hati Bella sedikit ngilu, menyaksikan pemandangan absurd di depannya, Brian menangis dalam ketidaksadarannya.


"Brian!" Panggil Bella lirih.


Lelaki itu tidak bergeming sedikitpun dari tempatnya.


Bella mendekat, diusapnya dengan lembut punggung lelaki itu "Brian!"

__ADS_1


Kini lelaki itu mendengar panggilannya, Brian mendongak ke atas, kearah Bella. Dengan mata lebam dan berair.


Berapa lama lelaki itu menangis?


Wajah tampannya nyaris tidak berbentuk.


"Apa yang kamu lakukan di sini?"


Bukannya menjawab lelaki itu malah bersimpuh di kaki Bella, merajuk dengan nada yang menyayat hati.


"Maafkan aku Bella!"


Lelaki itu benar-benar telah kehilangan kesadarannya, Bella meraih tubuh itu, menuntuntunnya untuk bangun dan beranjak dari tempatnya.


"Ayo kita kembali ke kamar!"


"Tidak!!!!" Menyahut dengan nada keras.


Bella terkejut! Mendapati Brian berteriak keras, lantas pria itu berbicara kembali dengan lelehan yang mengalir di sudut matanya.


Memegang tangan Bella "Berjanjilah!!! Berjanjilah untuk kembali padaku!"


"Ya...ya...ayo bangun!!" Sambil meraih tangan Brian.


Rasanya tidak sampai hati bagi Bella untuk membiarkan Brian meringkuk seorang diri di ruangan sedingin ini hingga sebuah kebohongan kecil tercipta, berharap akan dilupakan Brian saat dia membuka mata esok hari.


Dipapahnya tubuh berat itu, ruangan yang gelap sedikit menyulitkannya...


Sampai akhirnya sampailah dia di ruangan dengan ranjang mewah bergaya minimalis, ya...ruangan itu adalah kamarnya dan Brian.


Dengan susah payah direbahkannya tubuh Brian di atas ranjang empuk itu, Bella sempoyongan sampai akhirnya dia kehilangan keseimbangan dan jatuh menimpa tubuh suaminya.


Tubuh hangat dengan wajah yang memerah...


Lelaki itu lantas tertidur dengan nyenyaknya.


Bagaimanapun kerasnya dia mengelak, lelaki yang kini tengah ditindihinya itu terlihat sangat menawan dan jantungnya masih saja berdetak cepat saat tubuhnya berdekatan dengan lelaki itu.


Ternyata cintanya masih sepenuhnya milik lelaki itu.


Bella beringsut...


Saat tubuh mungil itu beranjak sebuah tangan kekar menahannya "Disinilah bersamaku!" Suara serak yang diucapkan dengan nada rendah, menusuk begitu saja di kedalaman hatinya.


Bella pasrah kala tangan itu telah sepenuhnya merengkuh dirinya.


Wajah mereka kini saling berdekatan, sangat dekat, bahkan Bella mampu merasakan hangat nafas Brian.


Mereka saling menatap! Mencoba menyelam sejauh mungkin hingga mencapai dasarnya.


Wajah itu...


Bibir itu...


Seolah menggodanya....


Bella hilang kendali....


Dan detik berikutnya...

__ADS_1


Bibir Bella telah menjamah sepenuhnya...


Malam kembali membisu, melihat dua orang yang saling bergemul dalam rindu dan cinta. Pada akhirnya rasa benci itu melumer dan hanya menyisakan goresan di hati. Goresan yang tidak akan memudar sedikitpun oleh waktu, goresan yang siap menganga kembali....saat penghianatan menyentuhnya.


__ADS_2