Berbagi Cinta : Penyesalan

Berbagi Cinta : Penyesalan
Part 49 : Perdamaian


__ADS_3


Bella terbangun dalam keadaan limbung, seolah tidak percaya apa yang telah terjadi...


Berulang kali dipandanginya tubuhnya, tubuh polos tanpa sehelai benangpun yang menempel, Brian yang masih terlelap dalam dengkur lembutnya dan baju mereka yang berserakan.


"Aaaargh!!! Bodoh!"


Bella beringsut, dalam hati berharap semoga Brian melupakan apa yang terjadi semalam.


Kini tubuh polos itu telah berada di kamar mandi, berlindung dalam derasnya air yang mengalir dari shower.


Dingin...


Bella sedikit menyesal kenapa tidak merubah suhu, agar air sedikit lebih hangat.


Tidak butuh waktu lama baginya...


Bella keluar kamar mandi hanya dengan sebuah handuk yang dililitkan di tubuhnya.


Deg...deg...deg...


Brian sudah terbangun dan kini tengah menelanjangi dirinya dengan tatapan matanya yang teduh.


Secepat mungkin Bella menghindar, bejalan cepat menuju ruang ganti.


Dua puluh menit kemudian Bella sudah keluar kembali, mengenakan sebuah kemeja berwarna pastel dengan mini skirt warna putih.


Make up tipis menghiasi wajah manisnya.


"Kamu tidak mandi? Ini sudah pukul 07.00!"


"Tidak!"


Setengah terkejut "Kamu tidak kerja?"


"Tidak!"


"Kamu!!! Mau aku pecat?" Berkata dengan nada keras dan sedikit melotot, namun bukannya menjawab, Brian malah beringsut dari tempat tidurnya sambil menyeret-nyeret selimut untuk menutupi bagian tubuh bawahnya.


"Aku tidak tahu kalau ternyata nyonya Brian serajin ini! Bekerja di hari minggu." Berbisik pelan tepat di telinga Bella.


"Sekarang hari minggu??" Berkata pelan.


"He em!" Seraya berjalan kearah kamar mandi.


"Aaaaaaa.....!!!" Bella berteriak keras tak kala mendapati Brian menanggalkan selimutnya sesaat sebelum masuk ke kamar mandi.


Mendengar teriakan Bella, tubuh polos itu bukannya langsung masuk ke kamar mandi, malah sengaja berdiam di pintu masuk. Berusaha menggoda Bella...


"Dasar mesum!!" Teriak Bella lantas ke luar kamar dengan cepat.


"Kenapa aku bersikap ke kanak-kanakan! Apa dia mengingat kejadian semalam?" Bergunam dalam hati sambil bersender di balik pintu.


Bella mengintip di balik pintu, sepi..."Mungkinkah dia sudah masuk?" Kemudian terdengar suara gemericik air.


"Ah....!!" Bella kembali masuk ke dalam kamar, mengganti pakaiannya dengan pakaian santai kemudian bergegas ke dapur, perutnya sudah meronta meminta untuk diisi.


"Apa yang baik untuk sarapan pagi? Roti? Mmmm...roti panggang terlihat enak!"

__ADS_1


Kini Bella telah bergelut dengan menu sarapan paginya, memanaskan mesin pemanggang roti dan mesin croffle.


Kini semua sudah siap, dua buah roti panggang dengan selai kacang didalamnya, satu piring croffle dengan lelehan es krim diatasnya, satu gelas coklat hangat dan satu gelas es americano.


Saat tangan Bella hendak memindahkan nampan ke meja makan, sebuah pelukan terlebih dahulu mendarat di punggungnya.


Bella terkejut!!


"Biar aku saja!" Kemudian Brian melepas pelukannya dan mengambil alih makanannya dan membawanya di ruang tamu.


"Kenapa di taruh di situ?"


"Ayo kita makan sambil menonton TV!" Sahutnya.


"Hemmm....!!" Bella menghela nafas, sudah bisa dipastikan Brian mengingat semua kejadian semalam.


Ini buruk!!!


***


Bella mengingat sesuatu, diraihnya ponsel dan kemudian melakukan sebuah panggilan.


"Hallo!!"


"Kapan kamu pulang?"


"Kenapa tiba-tiba?"


"Pulanglah! Sebelum Tuan Wilhem melakukan sesuatu!"


"Dia menemuimu?"


"Tidak!!! Aku yang menemuinya!"


"Ada!! Dia yang menyuruhku!"


"Ha...ha...ha...maaf!"


"Untuk apa?"


"Aku tidak bisa pulang!"


"KAMU!!!!"


"Kamu tidak tahu, dia mungkin akan menjodohkanku dengan seseorang!"


"Itu bagus!!"


"Bagus dari mana? Aku tidak akan menikah kecuali denganmu!"


"Apa??? Dasar gila!"


"Kamu yang memintanya!!"


"Astaga!!! Itu kan permintaan anak kecil bagaimana mungkin kamu menganggap itu sebagai hal yang serius?"


"Terserah! Pokoknya aku tidak akan pulang!!!"


Kemudian panggilan berakhir dengan pemutusan sepihak.

__ADS_1


"Dasar Dion bedebah!"


"Siapa?" Sebuah suara mengagetkannya.


"Bukan siapa-siapa!" Jawab Bella sambil berlalu dari hadapan Brian.


"Sayang!!! Kenapa kamu selalu berubah sikap, seingatku semalam kamu tidak sedingin ini!"


Gleg....


"Dia benar-benar mengingatnya!" Gunam Bella.


"Kamu!!!"


Brian hanya tersenyum.


***


Hari ini terasa sangat panjang menurut Bella, seharian berada di ruangan yang sama dengan Brian membuatnya tidak nyaman. Apalagi lelaki itu selalu saja sengaja mengungkit kejadian semalam. Semakin membuat Bella jengah.


Dan malam ini kembali terulang, usai makan malam tak kala Bella tengah duduk di balkon menikmati angin malam, dengan segelas kehangatan dan sebuah buku di tangan.


Brian tiba-tiba mendekat, duduk tepat di sampingnya.


"Bella!" Panggilnya lirih.


Bella tidak bergeming.


Detik berikutnya Brian sudah merenggut buku itu dari tangan Bella.


"Apa?" Ujar Bella garang.


"Bagaimana dengan hubungan kita?"


Bella diam...


Semua diam.


Bahkan suara angin yang sedari tadi mendesah pelan kini tidak terdengar, sebuah suasana khusuk.


Dua pasang mata yang berpandangan tanpa berkedip.


"Heeemmmph!" Bella menghela nafas.


"Apa yang seharusnya kita lakukan sekarang?" Sebuah pertanyaan terlontar begitu saja dari mulut Bella.


Brian tersenyum...


Detik berikutnya dia meraih tangan Bella "Memulai sebuah hal yang baru, ijinkan aku menjadi suami yang baik! Tolong beri aku satu kesempatan!"


Sejenak Bella ragu, namun akhirnya dia mengangguk. Meskipun dengan ragu.


"Terimakasih!" Ucap Brian sambil mengecup pelan punggung tangan Bella.


Perselisihan alot itu akhirnya berakhir dengan sebuah anggukan dari Bella.


Semudah itu...


Namun kini Bella merasa sangat lega, sebuah beban yang menumpuk di pundaknya kini telah hilang.

__ADS_1


Memaafkan dan mengiklaskan ternyata seindah ini...


"Brian aku berharap kamu menepati janji itu!"


__ADS_2