Berbagi Cinta : Penyesalan

Berbagi Cinta : Penyesalan
Part 50 : Kehidupan Yang Damai


__ADS_3


Usai genjatan senjata dan sebuah perdamaian, Bella menjalani hidupnya menjadi seorang istri yang baik.


Luka yang sempat ditorehkan oleh Brian kini berangsur membaik, meski tidak sepenuhnya sembuh dan mengering.


Brian tampak berusaha sangat keras untuk membuktikan semua ucapan dan janjinya. Menjadi suami yang manis dan penuh pengertian.


Hari-hari mereka dipenuhi cinta...


Bella telah sepenuhnya menyerahkan urusan perusahaan kepada Brian, lelaki itu sudah nampak bisa dipercaya. Dan dia kembali ke posisi semula, duduk di kursi kerjanya, mulai mendesain kembali. Sesekali bermain bersama Dera, menghabiskan uang Brian dan keluar menemui Dion yang sudah sepenuhnya menggantikan posisi Tuan Wilhem sebagai direktur utama. Sebuah jabatan yang mentereng bahkan tanpa perlu bersusah payah.


Namun lelaki itu tetap pada pendiriannya, memilih untuk menjadi seorang pria tampan yang mapan tanpa sedikitpun berniat untuk menikah, entah sudah berapa lusin wanita yang ditolaknya, jika dipikir-pikir siapa wanita yang bisa menolak pesonanya???


Bahkan sesekali dia sering melihat Dera mencoba merayunya dan dengan bijak Bella menasehati Dera.


"Carilah lelaki lain yang lebih baik! Lelaki itu tidak cocok sama sekali denganmu Dera!" Dan lagi-lagi Dera merengut kesal.


Hah!!!


Lucunya....


Namun tidak lama senyum Dera kembali merekah saat seorang pria kiyowo merayunya, dan kembali bercerita dengan santainya kepada Bella. Dan lagi-lagi wanita itu hanya mendengarkan dengan seksama sambil sesekali mengangguk-angguk tanda mengerti.


***


Pagi ini berlalu seperti biasa, bangun di pagi hari dan mendapati suaminya masih tertidur pulas disampingnya dengan wajah imutnya.


Bella merangkak dengan perlahan menuruni ranjang, mencoba untuk tidak menimbulkan suara sedikitpun, dia tidak ingin bayi beruangnya terbangun dari tidur pulasnya, kemudian merajuk minta untuk ditemani. Drama pagi yang melelahkan sekaligus menggemaskan.


Hal pertama yang dia lakukan adalah membasuh wajah kemudian menggosok gigi. Setelah itu sebuah rutinitas yang biasa dia lakukan. Membuat sarapan pagi untuk suaminya sekaligus bekal makan siangnya.


Saat jam sudah menunjukkan pukul 06.30 semua urusan dapur Bella telah terselesaikan, kini saatnya mengatasi bayi beruangnya.


Benar saja Tuan Nicholas masih tertidur pulas, dielusnya dengan lembut lengan Brian "Sayang sudah waktunya bangun!!"


Bayi beruang itu menggeliat, kemudian mengerjapkan mata. Hal pertama yang dia dapati saat membuka mata adalah senyum manis istrinya.


Sungguh hal yang luar biasa.


Secepat kilat Brian beranjak dari tidurnya, jika dia terus meringkuk dan bermalas-malasan bisa dipastikan Ibu beruang itu akan mengoceh sepanjang pagi dengan mulut nyaris berbusa.


"Pagi sayang!" Salam hangat di pagi hari dengan liur yang sudah mengering disudut bibirnya.

__ADS_1


Bella terkekeh "Cepat mandi!"


Brian hanya mengangguk, detik berikutnya tubuh jangkung itu sudah melesat cepat menuju kamar mandi.


Bella kembali terkekeh, kemudian dia bergegas merapikan tempat tidur dan menyiapkan baju kerja untuk Brian dan menaruhnya di atas ranjang.


***


Satu menit yang lalu mobil Brian baru saja merangkak meninggalkan halaman rumah mewah tersebut. Rumah besar yang nampak begitu sepi...kapan kiranya Tuhan akan menghadirkan bocah-bocah lucu untuk meramaikan tempat itu?


Pernikahan Bella telah merangkak menuju tahun ke tiga, dan hingga kini dirinya belum juga hamil.


Apa Tuhan marah?


Apa dirinya belum pantas menjadi seorang Ibu?


Pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang seringkali terlintas di benaknya.


***


Awal bulan desember.


Jam telah menunjukkan pukul 22.00 malam, seorang wanita muda terlihat tengah berdiri di depan sebuah butik. Sesekali wanita itu menjejakkan kakinya ke tanah. Lelah...mungkin itu yang dia rasakan, sudah hampir satu jam lamanya dia berdiri mematung di situ.


Udara dingin semakin menyesakkan...rok mini pendek dengan blouse berbahan tipis tidak mampu menghalaunya. Dingin itu merayap hingga ke tulang sumsumnya, terasa mengilukan. Dilipatnya kedua tangannya di dada berharap bisa mengurangi sedikit gigilnya, sambil sesekali melihat kearah jalan. Namun hal yang di tunggunya belum nampak juga.


Tiba-tiba bulir-bulir putih jatuh bersusul-susulan. Wanita muda itu menengadahkan tangannya.


Salju...


Wanita itu lantas tersenyum "Salju turun lebih awal!" Dingin yang sedari tadi menusuk tulang tiba-tiba sirna, berganti rasa senang yang terlihat di wajahnya.


Apa yang dia sukai dari salju?


Namun tiba-tiba....


Gelap!!!!


Lampu jalan yang paling dekat dengan tempatnya berdiri padam. Sepi.....ketakutan tiba-tiba merayap....menghampirinya dengan perlahan. Membayangkan hal buruk yang mungkin terjadi malah semakin memperkeruh suasana hatinya.


Tiba-tiba sebuah mobil Bugatti Veyron Super berwarna hitam berhenti tepat di hadapannya.


Kaca mobil terbuka, sesosok lelaki tampan tersenyum nakal.

__ADS_1


"Apa yang membuat wanita secantik kamu berdiri seorang diri di jalanan yang sepi? Masuklah dan ayo kita bersenang-senang!" Sambil tertawa terkekeh.


Wanita itu lantas mencopot sepatu high heelsnya dan bersiap untuk melemparkannya ke arah lelaki tersebut.


Lelaki itu lantas berteriak "Stop!!!!"


Tanpa menunggu aba-aba wanita itu membuka pintu mobil, kemudian masuk kedalam.


"Aku hampir membeku di sini!"


"Di mana Brian?"


"Entahlah! Dia berjanji untuk menjemput!"


"Kalau aku jadi dia, aku tidak akan membiarkanmu menunggu!"


"Berhenti berbicara dan cepat berikan ponselmu!"


"Ponsel?" Tanya Dion sedikit heran, namun akhirnya lelaki itu memberikan ponselnya kepada Bella.


"Apa kata sandinya?"


"Tanggal ulang tahunmu!" Kini gantian Bella yang melongo.


"Apa???"


"Kamu tidak salah dengar, kata sandinya tanggal ulang tahunmu, termasuk apartemen dan semua kartu kredit dan debitku!"


"Untuk apa memberitahuku tentang itu!"


"Suatu saat kamu pasti membutuhkannya!" Jawabnya penuh dengan keyakinan.


Namun Bella tidak sedikitpun menggubris perkataan Dion, wanita itu kemudian melakukan panggilan telepon.


Hampir 10 kali Bella menelepon namun tidak ada jawaban, sampai akhirnya dia menyerah dan memberikan kembali ponsel Dion.


"Ayo jalan!"


"Mau minum denganku?"


"Tidak!! Aku ingin segera pulang!"


"Wah!!! Aku sangat iri!" Celoteh Dion menanggapi perkataan Bella.

__ADS_1


Mobil itu kini mulai merangkak, meninggalkan jalanan sepi itu.


__ADS_2