Berbagi Cinta : Penyesalan

Berbagi Cinta : Penyesalan
Part 46 : Sikap Yang Tidak Seharusnya


__ADS_3


Di ruang rapat.


Kegaduhan yang tidak dapat di hindari...


Bella tidak tahu siapa dalang di balik semua ini tapi jelas jika dialah penyebab utama hal itu bisa terjadi.


Jadi dari pada harus berdebat dan mencari pelakunya bukankah lebih baik jika dia membungkuk dengan permohonan maaf yang tulus.


Bukankah kesalahan bisa dilakukan siapa saja?


Dan kini dia melakukan kesalahan itu!!!


***


Bella berdiri...


Mata semua orang tertuju kepadanya...


tidak terkecuali Brian dan Calvin.


"Maaf atas kesalahpahaman ini....dan saya akan memastikan hal seperti itu tidak akan terjadi lagi!" Bella berucap kemudian membungkuk penuh hormat.


"Jadi apa itu kekasih anda?" Seseorang yang duduk persis disebelah Calvin berucap dengan tatapan mata yang terlihat merendahkannya.


Bella tersenyum sinis!


"Bagaimana mungkin anda bisa berkata seperti itu? Kami hanya teman!"


"Bagaimana mungkin teman bisa berpelukan seperti itu di tengah keramaian?"


Kali ini Bella tersenyum "Sepertinya anda terlalu kuno! Bukankah di masa sekarang ini memeluk rekan bukanlah masalah yang serius? Kenapa anda begitu tertarik dengan foto saya yang sedang berpelukan dengan seseorang? Suami saya bahkan tidak menaruh sedikitpun kekesalan kepada saya!" Kemudian Bella mengalihkan pandangannya kepada Brian.


"Hubungan kami baik-baik saja! Iya kan sayang?"


Terlihat sangat jelas jika Bella berusaha memanfaatkan Brian untuk meredam situasi.


Melihat dirinya juga ikut dilibatkan akhirnya Brian buka suara "Bella dan Dion hanyalah rekan atau lebih tepatnya sahabat, jadi berhentilah membesar-besarkan masalah! Lagipula hal sekecil ini tidak akan mempengaruhi perusahaan kita!" Ruangan yang dari tadi terdengar kisruh seketika menjadi damai.


Bella tersenyum, dalam hati bergunam "Kekuatan seorang Brian!"


Kemudian Bella melanjutkan ucapannya "Lantas kenapa bisa ada foto seperti ini di dalam ruangan rapat, bukankah terlihat jika seseorang sedang memprovokasi saya? Apakah saya perlu mencari tahu tentang hal ini?"


Dan satu kalimat terakhir cukup ampuh untuk membungkam mulut-mulut yang sedari tadi berusaha terus mencari kesalahannya.


"Saya rasa semuanya sudah cukup jelas, bagaimana kalau kita kembali pada tujuan awal kita berada disini? Calvin lanjutkan presentasinya!" Kemudian Bella duduk kembali di kursinya. Dan kini giliran Calvin yang berdiri, berjalan di depan dan memulai presentasi.


Satu kekacauan telah terselesaikan akan tetapi masih menyisakan keganjalan dalam hatinya. Sepertinya banyak yang tidak mengharapkan posisinya di perusahaan.


Apakah Brian ikut campur tangan dalam hal ini? Jika memang iya bisa dikatakan peperangan akan segera dimulai.


***


Kini Bella dan Brian tengah berjalan beriringan, menuju basement.

__ADS_1


"Bagaimana jika hari ini kita makan di luar sayang!"


"Ayo! Makanan apa yang kamu inginkan?"


"Mmmm....bagaimana kalau kita makan Jjajangmyeon dan daging asam manis?"


"Itu terdengar bagus!"


"Ayo! Biar aku yang menyetir! Aku tahu tempat terbaik!"


Bella hanya tersenyum, melihat Brian memperlakukannya dengan manis. Lelaki itu membukakan pintu mobil untuk Bella. Setelah Bella masuk, Brian kemudian menutupnya kembali dengan perlahan.


"Gunakan sabuk pengamanmu sayang!" Perintah yang lebih menunjukkan sebuah perhatian.


Kemudian mobil itu mulai merangkak di jalanan yang lumayan padat.


Sampai di lokasi.


Bella cukup terkejut karena menyadari Brian membawanya makan di restoran yang bersebelahan dengan klinik Dera.


Bella masih melongo, berharap sahabatnya sudah pulang.


Brian membantu Bella membuka sabuk pengaman, kemudian berkata "Ayo sayang!"


Dua sejoli itu turun bersamaan dan sial bagi Bella, pada saat yang bersamaan Dera juga baru keluar dari kliniknya.


"Mmmmm....bukankah itu Dera?" Tanya Brian.


"Hemmm....!"


"Kamu tidak menyapanya?"


"Jangan-jangan kamu yang lapar? Sapalah Dera, aku akan memesan makanan untuk kita bertiga!" Kata Brian seraya meremas rambut istrinya dan melangkah menuju restoran.


"Apa ini? Bukankah Brian sengaja membawanya kesini agar bisa memastikan kebenaran dari omongannya, kenapa kini dia malah seperti sengaja memberikan kesempatan baginya dan Dera untuk bersekongkol? Dia pasti sudah mengetahui kebenarannya!" Gunam Bella dalam hati.


"Dera!"


Yang dipanggil namanya langsung menoleh.


"Apa yang membawamu kesini?"


"Perutku!" Seraya mengelus perutnya kemudian menunjuk ke restoran.


"Sial!"


"Ayo! Brian ingin mentraktirmu makan!"


"Benarkah? Apa dia ada di sana?"


"Hemmm....!"


"Bukankah harusnya kamu mengajakku ke restoran mewah yang semalam kamu kunjungi?"


"Restoran?"

__ADS_1


"Hem....Brian pamer tadi pagi. Romantic dinner with wife!"


"Sejak kapan kalian bertukar nomor?"


"Saat aku bertemu dengannya dua bulan lalu!"


"Ah....dia sudah tau semuanya!" Gunam Bella dalam hati.


Bella dan Dera berjalan beriringan memasuki restoran, Brian melambaikan tangan kearah mereka.


"Kalian datang tepat waktu, ini baru disajikan. Cepat duduk!" Kata Brian saat Bella dan Dera telah berada di sana.


Suasana makan yang hangat, tawa Dera yang pecah dengan lelucon-lelucon dari Brian. Sejak kapan lelaki elegan itu berubah menjadi konyol seperti ini? Hati Bella sakit, mengetahui kenyataan bahwa dia tidak sepenuhnya mengenal lelaki yang kini telah menjadi suaminya tersebut.


Dan pertunjukan macam apa ini? Brian tahu tentang kebohongannya dan kini lelaki itu tidak menunjukkan sedikitpun kekesalan kepadanya.


"Makan ini!" Kata-kata Brian memecah lamunannya.


Brian menyodorkan sepotong daging ke mulutnya, Bella membuka mulut. Dan kini potongan besar itu telah berpindah ke mulutnya.


"Wah!!! Berhentilah bertingkah manis di depan wanita single ini!" Celetuk Dera dan diiringi tawa renyah dari mulut Brian.


"Aku bisa mengenalkanmu dengan beberapa lelaki mapan!"


"Berapa usianya?"


"Sekitar 45 tahunan!"


"Aku sudah menduganya!"


"Ha...ha...ha...jarang ada lelaki sukses di usia muda Der!"


"Cih! Kamu terlihat sedang menyombongkan diri di depan Bella!"


"Apa begitu kelihatan?"


"Ya!"


Detik berikutnya mereka kembali tertawa terbahak.


Bella merasa asing....


Diantara mereka.


Bella pernah memimpikan hal seperti itu, tertawa lepas bersama Brian. Kehidupan yang sederhana.


Tapi apakah masih mungkin baginya untuk terus bermimpi?


Andai saja waktu itu dia tidak melihat pemandangan menjijikkan itu....


Andai saja.....


Mungkin kini dia dan Brian masih hidup dengan kedamaian.


Bagian dari dirinya seperti ternodai, tidak masalah sebrutal apa Brian di masa lalu. Tapi bisakah setidaknya dia memegang janjinya sendiri. Untuk setia dan hanya memandang dirinya.

__ADS_1


Kini kepercayaan itu sudah menghilang berganti rasa sakit yang mengilukan.


Tapi hatinya masih sepenuhnya berpihak pada lelaki itu....


__ADS_2