Berbagi Cinta : Penyesalan

Berbagi Cinta : Penyesalan
Part 30 : Ruang Kecil Bernama Cinta


__ADS_3


Hari sudah sangat larut ketika Brian dan Bella memutuskan untuk kembali ke rumah.


"Tidurlah!" Ucap Brian sambil meraih kepala Bella dan menyandarkannya dibahunya.


Calvin terlihat sedang mengemudi dengan serius namun sesekali matanya mencuri pandang wajah tuan muda dan istrinya dari kaca spion di depannya.


Hanya butuh waktu tiga hari bagi Calvin untuk menyadari betapa menariknya Bella.


Dia pikir dia masih memiliki satu kesempatan, ya....Calvin tahu semuanya tentang pernikahan mereka. Namun kenyataan yang kini dia lihat sungguhlah berbeda, apalagi saat dia melihat begitu banyak tanda merah yang terdapat di leher Bella. Sudah bisa dipastikan, bosnya kini sudah benar-benar jatuh cinta dengan wanita itu.


Calvin menghela nafas....


Bagaimanapun juga dia sadar akan posisinya, dan baginya juga sangat tidak mungkin jika harus bersaing dengan Nicholas Brian. Dia bukanlah tandingannya.


***


Tepat pukul lima pagi rombongan itu sampai di kediaman Brian dan Bella.


"Kamu bisa libur hari ini Calvin! Terimakasih karena menjaga Bella dengan baik!"


"Iya Tuan muda! Kalau begitu saya pamit dulu!" Sambil membungkukkan badan.


"Ya! Hati-hati di jalan!"


"Calvin pasti lelah biarkan dia istirahat di sini!"


"Tidak perlu Bell!" Ucap Calvin sontak membuat Brian tersulut emosi.


Bella melihat perubahan pada wajah suaminya, ya...lagi-lagi lelaki itu didera rasa cemburu.


Dirangkulnya bahu suaminya yang kekar "Jika kamu yang menyuruh, Calvin pasti akan tinggal! Aku akan menyiapkan sarapan untuk kita!"


Brian menghela nafas, pada akhirnya dia menyuruh Calvin untuk tinggal setidaknya setelah usai sarapan pagi, meskipun sebenarnya hatinya cukup tidak rela Bella dekat-dekat dengan lelaki lain. Tapi Brian sungguh tidak ingin mengabaikan permintaan Bella.


Dua lelaki itu kini duduk bersebelahan di ruang tamu, tidak ada percakapan diantara mereka. Sampai akhirnya Bella datang dan membawakan dua gelas coklat hangat.

__ADS_1


"Kenapa sepi sekali?" Ucap Bella seraya menaruh dua gelas yang masih mengepul itu dihadapan Brian dan Calvin.


"Sebentar lagi sarapan siap, selagi menunggu kalian bisa meminum ini!" Lantas Bella pun berlalu meninggalkan dua lelaki dewasa itu.


Kecanggungan benar-benar tidak bisa dihindarkan. Pada akhirnya mereka memilih untuk sibuk dengan pikiran masing-masing.


30 menit kemudian...


"Kemarilah! Sarapan sudah siap!" Tutur Bella.


Tanpa menjawab Brian dan Calvin berjalan beriringan menuju meja makan, di sana sudah ada Bella yang sibuk menuangkan air minum di gelas.


"Duduklah!"


10 menit berlalu, acara makan berlangsung sangat damai....sampai akhirnya Bella memulai sebuah percakapan.


"Berapa lama kamu bekerja dengan Brian Calvin?"


"Hampir empat tahun!"


"Tuan Brian sangat baik kepada saya!" Jawab Calvin.


"Astaga!!! Berhentilah memanggil Brian seperti itu! Bukankah akan lebih baik jika di luar urusan pekerjaan kamu memanggilnya kakak? Bagaimana Brian? Bukankah itu bagus?"


Brian tertawa sejenak "Baiklah! Kamu bisa memanggilku kakak!"


"Saya tidak biasa, itu terdengar tidak bagus!"


"Apa???" Kini Brian kembali menjadi Bringas "Kita sudah empat tahun bersama, kamu yang baru tiga hari mengenal Bella sudah bisa berbicara santai!"


"Itu karena Bella yang memintanya!"


"Dan sekarang aku memintamu untuk memanggilku kakak kamu tidak mau?"


"Anda terdengar tidak sungguh-sungguh!"


Bella hanya tertawa menanggapi sikap lucu mereka.

__ADS_1


***


Kehidupan pernikahan Bella dan Brian berjalan sangat baik, cinta mulai merimbun di hati mereka masing-masing.


Kini mereka terlihat seperti sebuah keluarga yang sempurna.


Ocehan Bella di pagi hari saat Brian tidak kunjung beranjak dari ranjangnya.


Kala lelaki itu keluar kamar mandi tanpa mengeringkan kaki dan langsung saja berjalan sesuka hati meninggalkan basah di mana-mana.


Saat Brian menaruh handuk basahnya di sembarang tempat.


Saat lelaki itu menaruh benda-benda apa saja tidak pada tempatnya.


Atau saat lelaki itu lupa mematikan lampu kamar mandi dan banyak hal-hal kecil lainnya yang tak henti-hentinya membuat wanita muda itu meradang.


Bagi Brian Bella terlihat lebih cerewet, semua hal-hal remeh selalu menjadi pusat perhatiannya, kadang Brian hanya terdiam dan mengangguk-anggukkan kepala saat wanita itu mulai mengoceh, tapi semua itu akan berakhir saat Brian memeluknya dan berbisik "Maaf sayang aku tidak akan mengulanginya lagi!"


Semudah itu....


Hanya menunjukkan penyesalanmu dan semuanya akan kembali seperti semula.


Tapi Brian menyadari cinta Bella tidak terkira padanya, wanita itu rela bangun di pagi hari, memasak sarapan pagi untuknya, menyiapkan bekal, baju dan semua keperluannya.


Lelahnya mungkin tidak terkira


"Aku tidak ingin ada orang lain yang mengurusmu! Cukup aku saja!" Kata-kata itu yang selalu keluar dari mulutnya saat Brian memaksa untuk mencari asisten rumah tangga.


Belum lagi pekerjaannya, bahkan terkadang Bella pulang larut malam dengan wajah lelah yang terlihat jelas. Namun lagi-lagi wanita itu tidak marah ataupun menunjukkan kekesalan saat Brian menggerayangi tubuhnya ketika malam. Wanita itu tetap melayaninya sepenuh hati.


Brian bersyukur....


Memiliki Bella dalam hidupnya.


Sedangkan kecemasan-kecemasan yang lain sering muncul dalam benak Bella...


Dan Bella terus berharap agar suaminya terus seperti ini, hanya melihat kearahnya tanpa berpaling sedikitpun.

__ADS_1


__ADS_2