Berbagi Cinta : Penyesalan

Berbagi Cinta : Penyesalan
Part 51 : Perubahan Sikap


__ADS_3


Nyatanya seberapapun besarnya usaha Dion untuk membuat Bella tertawa tidak membuahkan hasil.


Wanita itu hanya sesekali tersenyum kecut menanggapi celoteh lucunya...


"Apa kamu begitu mencintainya?"


Dan lagi-lagi pertanyaan Dion hanya ditanggapi dengan senyum masam yang tersungging dari bibir mungil Bella.


Dion menggenggam erat jemari Bella, sambil sesekali meremasnya. Seolah berusaha memberikan semangat lewat sentuhan itu.


"Mungkin dia tertidur! Berhentilah menghawatirkan hal yang tidak-tidak!"


Bella menoleh ke arah Dion, memang tidak ada yang lebih mengerti dirinya selain Dion dan Dera, lelaki itu cepat tanggap.


Kini Bella membalas remasan tangan Dion, seolah berusaha mengatakan "Aku baik-baik saja! Terimakasih untuk selalu ada!"


Selebihnya perjalanan itu hanya diisi oleh kebisuan hingga akhirnya sampailah mereka di halaman depan rumah Bella.


Sesaat sebelum turun Bella menatap Dion dengan tatapan sendu.


"Berhentilah menatapku seperti itu! Jika tidak ingin Brian salah paham dan memberiku sebuah bogem!"


Kali ini Bella terkekeh "Aku masuk! Terimakasih untuk tumpangannya!"


"Masuklah! Udara begitu dingin!"


Bella menutup pintu mobil dan melambaikan tangan "Hati-hati!" Dengan perlahan mobil itu mulai merangkak meninggalkannya.


Rumah masih gelap.


"Selarut ini Brian belum pulang?" Gunamnya dalam hati.


***


Jam telah menunjukkan pukul 02.00 dini hari dan ini adalah yang kedua kalinya dia terbangun oleh mimpi-mimpi aneh yang melelahkan.


Ditengoknya ruang kosong disebelahnya, tiba-tiba dia dirasuki rasa khawatir yang berlebihan.


Bella meraih ponsel, pesan belum dibaca.


Matanya hampir tidak berkedip memandangi layar ponsel hingga akhirnya dia tertidur lelap.


***


There is bitter in everyday


But then I feel it


That you would be the only one


Sometimes it doesn't have to be so sure…

__ADS_1


Samar-samar suara merdu terdengar di telingannya, Bella mengejapkan mata.


Matanya kini berpendar menyelusuri seluruh ruangan.


Dan lelaki bermata dewa itu tengah duduk berdiam di depan layar televisi. Bibirnya bernyanyi tanpa suara dan sesekali menggerakkan badannya mengikuti irama.


"Sayang!" Panggil Bella lirih, yang dipanggil menoleh, kemudian tersenyum manis.


"Aku membangunkanmu?" Kemudian beranjak dari duduknya dan menghampiri Bella.


Mengelus lembut kepala Bella "Tidurmu nyenyak? Maaf karena membuatmu khawatir!"


"Hemmm!" Hanya itu yang keluar dari mulutnya, meski sebenarnya banyak jawaban yang ingin dia dapatkan.


Kemana saja semalaman?


Kenapa tidak pulang?


Apa sesulit itu memberi kabar?


Tiba-tiba jawaban itu menjadi tidak penting baginya, melihat kehadiran Brian tanpa terluka sedikitpun cukup membuatnya tenang.


***


Sabtu pagi yang beku, Brian masih meringkuk terbuai dalam mimpi indahnya.


Banyak hal yang harus dia kerjakan setumpuk pakaian kotor yang sudah menanti untuk dijamahnya. Jadi dia bergegas, namun tiba-tiba perut kecilnya berontak dan meminta jatah untuk diisi terlebih dahulu. Jadi dia membatalkan niatnya untuk mencuci dan memilih ke dapur, membuka lemari pendingin dan mencari-cari apa yang bisa dia makan.


Sudah waktunya untuk menguras isi kantong suaminya...


Bella berjalan mendekat kearah kabinet, senyumnya tiba-tiba merekah. Dia menemukan banyak makanan instan di sana, berbagai macam sereal dan ramyeon. Apa yang harus dipilihnya?


Tapi akhirnya tangan itu meraih satu bungkus ramyeon dan mulai menyalakan kompor. Mengambil panci dan mengisinya dengan air kemudian menaruhnya di atas kompor yang menyala.


Selang beberapa saat aroma semerbak memenuhi ruangan.


Bella mematikan kompor, kemudian membuka lemari pendingin berusaha menemukan sesuatu.


"Baiklah ayo kita lihat! Apakah masih ada yang tersisa?"


Dan dia menemukannya! Sekotak acar lobak.


"Kenapa tidak ada kimchinya?" Bella sedikit mengeluh.


Kini dia telah duduk di lantai, di ruang tengah dengan kaki yang dia silangkan, menggagahi sepanci penuh ramyeon panas sambil sesekali melihat kearah televisi yang menyala.


"Sssssruuut!!!" Bella menyeruput mienya dengan keras. Dan inilah kenikmatan tersembunyinya...


Bella terkejut dan nyaris tersedak kala sebuah ciuman mendarat di tengkuknya.


"Brian!!!" Hardiknya.


Lelaki itu bukannya merasa bersalah malah kini merebut pancinya.

__ADS_1


"Aku belum selesai!" Mencoba berontak dan meminta ramyeonnya kembali.


"Tidak!"


"Aku lapar!"


"Kenapa kamu selalu makan ini?"


"Tidak!"


"Tidak dari mana, dua hari yang lalu aku melihatmu memakannya! Bahkan saat aku menjemputmu di butik, aku melihat cup ramyeon instan di meja kerjamu. Apa kamu tidak bisa hidup dengan lebih baik? Apa sesusah itu untuk memakan makanan sehat?"


"Aku sangat lapar...dan tidak ada apapun yang bisa dimasak!"


"Berhenti beralasan, kamu bisa memesan makanan!" Kemudian Brian meraih ponsel di kantung celananya.


"Makanan akan datang dalam 40 menit lagi, bersabarlah!" Kemudian Brian pergi kearah dapur dan membuang sisa ramyeon.


Ini pertama baginya.


Brian menghardiknya tanpa sedikitpun senyum di wajahnya. Hanya hal sepele, namun nyatanya mampu membuat hatinya bersedih.


Benar saja, makanan datang dalam 40 menit kemudian. Daging asam manis dan galbitang panas, mmmm....menggiurkan! Tapi kenapa hanya seporsi, mana yang boleh di makannya? Kemudian dia beranjak ke meja makan dan menata hidangan di sana.


Setelah siap, Bella berjalan kearah kamar. Kosong mlompong, di mana garangan suaminya berada? Tanpa sengaja dia melihat pintu ruang kerja Brian yang terbuka, di intipnya sekilas, benar saja Brian tengah bergelut dengan beberapa berkas. Bella mendorong pintu dengan perlahan.


"Sayang...ayo makan bersama!"


"Aku tidak lapar! Makanlah! Aku memesan itu untuk kamu habiskan!"


"Aku ingin ditemani!"


"Makanlah sendiri aku sangat sibuk!"


Dengan wajah kecewa Bella keluar dari ruang kerja Brian. Ini pertama kalinya Brian menolak ajakannya!


Kini Bella sudah duduk di ruang makan, menghadapi hidangan yang sangat menggiurkan dan bersiap untuk menyantapnya. Tapi gairahnya telah melenyap.


***


"Aku pulang malam hari ini sayang!"


"Tidakkah kamu berfikir bahwa kamu terlalu memaksakan diri?" Suara diseberang sana terdengar meninggi, kemudian dia melanjutkan kembali kata-katanya "Ah...terserah! Terserah kamu saja!" Dan Brian mengakhiri telepon dengan sepihak.


Bella hanya melongo....biasanya dia yang selalu seperti itu, mematikan telepon tanpa mengucap salam dan kini dia yang diperlakukan seperti itu.


Menyedihkan!


Apa yang salah dengan Brian? Kenapa wajahnya terlihat selalu kaku saat berbicara dan saat tidak menyukai sesuatu.


Mungkinkah???


"Ah....tidak...Tidak!!! Singkirkan pikiran itu Bella!" Ucap Bella pelan berusaha membenahi kembali hatinya.

__ADS_1


__ADS_2