
Tidak ada beban di kepalanya, semuanya hilang melenyap. Seperti tetesan hujan di retakan tanah kering, meresap begitu saja dan hanya menyisakan kepulan asap dan aroma semerbak petrichor, aroma yang sangat dia suka sedari dulu. Kemudian dia berjalan lenggang kangkung meninggalkan mobilnya teronggok di halaman parkir cafe. Dia ingin berkeliling, kemudian dilepasnya sepatu heels yang melekat dikakinya. Dia menginginkan kesempurnaan hingga hampir melupakan bagian yang lebih penting, kenyamanan! Jalanan malam mulai mendingin, dan semilir angin musim semi membelai tubuhnya dengan kesejukan. Dia menjadi bocah kecil periang yang hanya melakukan hal-hal baru yang dia suka. Dia berjalan cukup jauh hingga cukup lelah, kemudian duduk disebuah bangku pinggir jalan sambil memijit-mijit tungkainya yang mulai pegal. Pada saat yang sama sebuah kendaraan mewah berwarna biru metalik berhenti tepat di depannya "Apa kamu baru saja dicampakkan? Naiklah! Ayo bersenang-senang!" Bella hanya tersenyum menanggapi lelucon itu, namun dia senang sebab lelaki itu datang di waktu yang tepat. Menit berikutnya dia sudah duduk di sebelah pengemudi dengan safety belt yang telah terpasang.
"Apa aku perlu memasang atapnya?"
"Tidak perlu! Aku menyukai ini!"
Kemudian mobil melaju cukup kencang dan membuat tawa dan teriakan Bella semakin keras juga "Bawa aku bersenang-senang!"
"Mau minum bersama?"
"Apa?" Teriak Bella.
"Mau minum bersama?" Bertanya lagi dengan teriakan yang tidak kalah kerasnya.
Bella mengangguk.
***
Malam telah melarut ketika Dion memapah Bella menuju apartemennya, sepanjang jalan wanita itu tidak henti-hentinya berbicara dan berbagai macam makian keluar dari mulutnya.
__ADS_1
"Berhenti berbicara! Kamu harus mengganti pakaianmu, dan jangan lupa gosok gigimu sebelum tidur, aku akan pulang!" Bella meringis dengan memegangi tangannya "Jangan pergi!" Tapi Dion menepis tangan itu, dia tidak mungkin tidur di sini, karena hanya ada satu kamar dan tubuhnya yang jangkung cukup membuatnya kesulitan jika harus tidur di sofa.
"Jangan pergi!"
"Baiklah! Aku tidak akan pergi, ayo ganti pakaianmu!"
Dion mendorong tubuh itu, memasuki kamarnya dan dengan telaten lelaki itu mengambilkan baju ganti untuk Bella, menarik tubuh itu ke dalam kamar mandi, mengambilkan sikat yang permukaannya telah dipenuhi pasta gigi. Namun di menit berikutnya Bella hanya memegang gagang sikat sambil tertidur. Dion menghela nafas "Baguslah kamu tidak memuntahiku di perjalanan pulang!" Kemudian dengan kaku tangan kekar itu membantu Bella menggosok giginya.
"Aaah! Akhirnya!"
Namun masalah baru kembali muncul, wanita itu telah sepenuhnya terlelap.
"Ah...tidak masalah jika dia tidak mengganti pakaiannya!" Kemudian membopong wanita itu dan menidurkannya dengan perlahan di kasurnya.
Dion baru sampai diambang pintu, namun kakinya batal melangkah. Lelaki itu kembali masuk dan menghampiri Bella yang masih tidur dengan posisi semula.
Hatinya tidak sampai hati membiarkan wanita itu tidur dengan pakaian ketat yang membalut tubuhnya.
"Baiklah aku hanya akan mengganti pakaiannya dan pulang!"
Dengan perlahan dan hati-hati Dion melepas satu persatu benik di kemeja Bella hingga terlepas seluruhnya, menarik rok ketat yang wanita itu kenakan.
__ADS_1
"Kerja bagus Dion, kini hanya perlu menyelimutinya dan pulang dengan nyaman!" Meraih selimut dan menutupi seluruh tubuh Bella.
Namun nyatanya impian itu musnah, saat sebuah genggaman menahan tangannya "Jangan pergi!"
Larangan itu serupa sebuah rayuan bagi Dion, wanita yang dicintainya dengan keadaan tidak sadarkan diri memintanya untuk tetap tinggal. Tentu saja Dion tidak layak dipersalahkan jika nantinya terjadi sesuatu di luar kehendaknya, toh wanita itu yang menyuruhnya.
"Apa kamu sedang merayuku Bell?" Pertanyaan itu hanya dijawab dengan sebuah anggukan, lantas bibir itu kembali berucap "Apa aku tidak cantik?"
"Hemmm...kamu cantik!" Kali ini Bella membuka matanya.
"Tidurlah denganku!" Dua bola mata sejernih embun pagi, hidung ramping yang menukik tajam dan bibir mungil yang merona merah. Dion sadar betul, dia tidak akan mampu bertahan lebih lama lagi seperti ini sebab dia laki-laki. Lantas dia menepis tangan Bella dan beranjak dari sana, sekali lagi tangan Bella menariknya, menghempaskan tubuh kekar itu persis di sebelahnya. Entah dari mana kekuatan itu timbul. Nyatanya kini Dion telah sepenuhnya berada dalam kungkungan Bella, wanita itu dengan agresif menaiki tubuh yang masih berbusana lengkap itu.
"Kamu mabuk Bella, sebaiknya kamu tidur dan biarkan aku pulang!" Namun wanita itu bukannya mereda, tapi malah menjadi gila. Cup, bibir ranum itu telah sepenuhnya menempel pada bibir Dion, ciuman pertama Dion akhirnya terenggut oleh seorang wanita yang masih berstatus sebagai istri orang. Dion diam...hanya diam, menikmati permainan Bella. Sebab kini dia adalah korban, namun sampai kapan dia sanggup bertahan? Sebab dia lelaki normal! Lelaki normal yang mencintai sahabatnya sendiri.
Dion kalah!
Jelas kalah!
Karena pada menit berikutnya dia ikut bermain, mengimbangi gerakan Bella.
Beruntung kesadaran kembali menghampirinya, dihempaskan tubuh Bella di atas kasur. Sampai wanita itu meringis kesakitan "Maaf Bell! Maaf...aku harus pulang!"
__ADS_1
Kemudian berlalu pergi, meninggalkan kesadaran yang perlahan mulai menghampiri Bella.