
Bella masih meringkuk di ranjangnya, dengan tangis dalam diamnya. Hatinya sakit! Kenapa Brian seolah bersikap bahwa Bella lah penyebab utama kenapa sampai saat ini mereka masih belum mempunyai momongan.
"Aku juga menginginkan anak!" Runtuknya dalam hati.
Dan lelaki itu telah menghilang entah ke mana.
***
Sesuai janji Brian hari ini adalah jadwal untuk mengunjungi dokter.
Dengan kemalasan teramat sangat Bella beringsut dari ranjangnya dan langsung menuju ke kamar mandi, itu lebih baik bukan dari pada harus mendengar Brian mengoceh sepanjang pagi.
Tidak butuh waktu lama baginya untuk menghias diri, 30 menit berlalu dan kini dia sudah siap dengan setelan mini dress berbahan brokat berwarna merah menyala yang dipadupadankan dengan sebuah long coat berwarna cokelat dan sebuah knee high boots, rambut panjangnya dibiarkan terurai begitu saja. Tidak lupa Bella menambahkan sedikit riasan di wajahnya.
Usai berhias diri Bella ke luar dari kamarnya.
"Kamu cantik sekali! Ayo kita sarapan dulu!"
Brian kemudian menggiringnya menuju ruang makan, meja penuh dengan menu sarapan pagi. Dua mangkuk nasi merah, omelet, bayam rebus, sup tauge, ikan teri goreng, rumput laut kering, oseng eomuk, kacang kedelai hitam, dan kimchi sawi putih.
Bella tersenyum lebar, menu sarapan pagi yang sangat lengkap.
"Duduklah!" Ucap Brian sambil menarik kursi mempersilahkan Bella untuk segera duduk.
Acara sarapan berlangsung dengan santai sambil sesekali celoteh Brian yang memuji masakan asisten baru mereka.
Usai menandaskan santap pagi, mereka berangkat bersama menuju dokter kandungan Bella.
***
"Kamu dengar apa kata dokter?"
"Hemmm!" Wanita itu mengangguk tanpa sedikitpun menoleh ke arah suaminya.
__ADS_1
"Aku tidak mau tahu, mulai sekarang kamu harus benar-benar berhenti dari pekerjaanmu!"
Kali ini Bella beralih dari layar ponselnya dan menatap lelaki yang merupakan suaminya tersebut .
"Kenapa harus berhenti sayang? Aku akan mengurangi aktifitasku!"
"Tidak! Kali ini harus kamu yang menuruti perkataanku! Ayolah sayang!"
"Aku lelah! Ayo kita pulang!" Jawab Bella, kemudian kembali melihat layar ponselnya.
Ini bukan perdebatan pertama bagi mereka, tapi Bella merasa Brian terlalu mengatur. Apa salahnya melakukan hal yang membuatnya senang?
Selang waktu berjalan dan Brian masih tetap pada pendiriannya, namun wanita yang kerap disapa Bella itu tetap kekeh untuk ingin tetap bekerja, alasannya cukup sederhana, dia merasa senang jika dia melihat baju desainnya dipakai oleh orang lain.
Alhasil dua mahluk itu saling bungkam mulut dan enggan untuk menyapa. Sekarang Brian lebih terkesan tidak perduli dan membiarkan Bella semaunya. Namun Bella terlihat cukup mengerti diri, dia nyaris tidak melakukan apapun di rumah. Sepulang bekerja dia langsung mandi dan kemudian beristirahat, waktu libur hanya diisi dengan olahraga dan bersantai, dan meskipun kini Brian sudah enggan mengingatkannya tentang asupan nutrisinya. Tetap saja dia rutin meminum susu hangat saat pagi hari dan sebelum tidur, menjauhi makanan-makanan siap saji.
***
Pagi ini Bella terlihat enggan melakukan apapun. Dia hanya meringkuk di kasurnya. Brian masih belum bicara dengannya dan kini lelaki itu menghilang entah kemana.
Sesekali terdengar suara-suara bising dari luar kamar, mungkin itu suara asisten rumah tangganya yang tengah bebenah.
Tok...tok...tok...
"Masuk!" Suara Bella menyuruh sang pengetuk pintu untuk langsung masuk kedalam kamar.
Muncullah sosok yang sangat familiar baginya.
"Nona muda melewatkan sarapan pagi dan ini sudah waktunya untuk makan siang, jadi Bibi memberanikan diri untuk masuk! Apakah Nona baik-baik saja?"
Bella tersenyum, ah...perempuan paruh baya ini lebih lembut dari Ibu kandungnya sendiri.
"Aku baik-baik saja Bi, aku sebenarnya tidak ingin makan apapun! Aku hanya ingin rebahan sepanjang hari!"
"Setidaknya Nona harus makan sesuatu! Ada yang anda inginkan?"
__ADS_1
"Tidak!"
"Bibi akan membawa makanan ke kamar!" Selanjutnya perempuan itu sudah berlalu dari hadapan Bella.
Astaga!!! Jiwa Bella terasa terbebani, meskipun sejatinya wanita paruh baya itu bekerja dengannya tetapi tetap saja membawakan makanan ke ranjang saat dia dalam kondisi yang baik tidaklah terlalu sopan.
Akhirnya Bella beranjak, merangkak menuruni ranjangnya.
Dan benar saja wanita itu tengah sibuk menyiapkan nasi untuknya.
"Lho Nona kenapa ada di sini?"
"Aku ingin makan di sini Bi, bisakah siapkan juga untuk Bibi? Kita bisa makan bersama di meja makan!"
"Tapi....!!!"
"Aku tidak suka makan sendirian!"
"Baik! Bibi akan siapkan!"
Makanan telah terhidang di meja makan, makanan rumahan yang menggoda.
"Non!"
"Ya!" Detik berikutnya wanita itu merogoh isi kantongnya dan memberikan sebuah kotak perhiasan berwarna merah tua.
"Bibi menemukan ini di kantong celana Tuan muda, sepertinya ini untuk hadiah Nona. Tapi maaf bibi tidak bisa menyimpannya lebih lama, Bibi takut! Sepertinya harganya sangat mahal!"
Bella meraih kotak perhiasan itu dan membukanya, sebuah kalung yang sangat indah, kalung permata dengan sebuah liontin batu intan dan dihiasi banyak berlian putih di sekelilingnya.
Bella menutup kembali kotak itu dan menyerahkannya kepada Wanita paruh baya itu "Bibi bisa menyimpannya dan memberikannya langsung kepada Brian, anggap saja aku tidak pernah melihat ini!"
"Tapi Nona....!"
"Ayo makan!" Mendengar majikannya tidak lagi merespon akhirnya dia memasukkan lagi kotak perhiasan itu ke dalam kantong celananya.
__ADS_1
"Bibi akan menyerahkan ini untuk Tuan muda nanti!"
Bella tersenyum...ternyata Brian tidak benar-benar marah kepadanya. Bahkan lelaki itu menyiapkan sebuah kado super istimewa untuknya.