Berbagi Cinta : Penyesalan

Berbagi Cinta : Penyesalan
Part 54 : Mari Terus Seperti Ini


__ADS_3


Hadiah istimewa itu masih tersimpan rapat oleh Brian dan lelaki itu seperti biasa masih diam dan belum ada sedikitpun tanda-tanda untuk menyudahi perang dingin dengannya.


"Apa aku harus mengalah?" Gunam Bella, tetapi hati kecilnya terus memberontak. Dia tidak bisa melepaskan pekerjaannya.


Malam telah larut ketika Brian kembali ke rumah malam ini, Bella pura-pura tertidur. Itu lebih baik dari pada harus melihat Brian dan bersikap biasa saja, sudah hampir dua minggu dan Bella terus menahan diri.


Namun aroma yang tidak biasa menusuk indra penciumannya "Benarkah itu Brian?" Bella memicingkan matanya "Benar itu lelakinya!" Tengah membuka baju kemeja putihnya, otot perutnya sangat menggugah selera, bukankah juga sudah dua minggu Bella tidak menyentuh otot keras itu. Bagian dari dirinya berdenyut ngilu, kembali menutup mata adalah pilihan terbaik. Dia sudah memastikan jika itu suaminya, meskipun dengan aroma yang berbeda.


Entah pukul berapa Bella mulai benar-benar tertidur semalam, namun saat dia terbangun di pagi harinya lelaki itu masih saja bisu tidak bersuara. Tengah terduduk di tempat tidurnya dengan sebuah laptop dipangkuan "Apa dia tidak tidur semalaman?"


Tiba-tiba....


"Kamu sudah bagun? Lekas mandi! Waktunya mengunjungi dokter!"


Bella membuka mata lebar-lebar "Benarkah Brian yang baru saja berbicara?" Astaga suaranya terdengar sangat merdu di telinga Bella, suara yang telah lama begitu ingin dia dengar. Dan pandangan itu meskipun tidak sedang menatapnya tetapi tidak sedingin biasanya.


"Ya!" Bella kegirangan, tapi berusaha serapi mungkin menyembunyikannya. Dia tidak ingin bungah dan akhirnya lelaki itu kembali lagi memaksanya untuk melakukan sesuatu yang tidak ingin dia lakukan.


Bella beringsut dari pembaringan menuju ke kamar mandi, air dingin telah menyadarkan dirinya sepenuhnya.


Apakah perang dingin akan segera berakhir?


Usai menenggelamkan diri dalam kesejukan mandi pagi, kini Bella keluar dari kamar mandi hanya dengan sebuah handuk yang dia lilitkan di badan.


Tidak sengaja matanya bertemu dengan Brian, lelaki itu kini tengah memandangi dirinya tanpa berkedip. Dengan cepat Bella menundukkan pandangannya dan berjalan dengan cepat menuju ruang ganti. Hatinya jedag-jedug tidak menentu, bagaimana dia bisa begitu naif. Seolah lelaki yang baru saja memandanginya adalah lelaki yang belum lama ini menyatakan cinta padanya, dan entah bagaimana dia terjebak dalam situasi sulit dan canggung. Membayangkan hal bodoh itu membuat sebuah senyuman mengambang di sudut bibir Bella.

__ADS_1


Tiba-tiba sebuah sentuhan lembut menyentuh daun telingannya "Apa yang membuatmu sebahagia itu?" Kemudian tangan kekar itu memeluk erat pinggang ramping Bella.


Bella terkejut, Brian kini telah berada tepat di belakangnya, memeluk dengan erat. Sentuhan yang biasa itu entah mengapa terasa begitu luar biasa baginya.


Bella gugup namun sebisa mungkin menyembunyikannya "Aku teringat drama yang kutonton tadi malam."


"Benarkah? Tentang apa?"


"Kamu tidak akan menyukainya!" Jawab Bella sambil tangannya terus memilah-milah pakaian yang tergantung rapi di raknya.


"Kamu begitu yakin! Sepertinya kamu tahu apa yang disukai oleh suamimu!"


Deg....deg...deg....


Jantung Bella berdetak cepat, bukan karena kata-kata yang terlontar dari bibir Brian.


Bulu kuduknya bergidik ngilu...


Dengan cepat Bella menepis tangan itu....tubuhnya benar-benar menginginkannya namun dia tidak ingin sentuhan itu membuatnya hilang kendali dan membuatnya berinisiatif untuk memulai. Bisa saja lelaki itu hanya tengah menggodanya.


Namun tangan itu bukannya berhenti, malah meraih bagian lain tubuhnya yang paling sensitive.


"Brian!!!" Hardiknya keras.


"Apa sayang!"


"Pukul berapa kita harus bertemu dokter?" Mencoba mengalihkan perhatian Brian.

__ADS_1


"Pukul sembilan pagi!"


"Benarkah! Aku harus segera bergegas! Keluarlah!" Perintah Bella tenyata tidak membuat Brian menyudahi aktifitasnya, lelaki itu semakin agresif membuatnya kewalahan.


"Kita bisa membuat janji lain kali!"


"Tidak bisa....!" Belum juga menyelesaikan kalimatnya, Brian sudah meraih wajah Bella dan secepat kilat menyambar bibir merah itu dengan brutal.


Tidak ada lagi pemberontakan, tubuh Bella telah melunglai dalam kuasa Brian.


***


Lelaki yang sudah dua minggu lebih membisu, kini telah bergelayut manja dalam dekapan Bella dengan tubuh polos yang hanya ditutupi selimut tebal.


"Maaf Bell, akhir-akhir ini aku bersikap sangat egois! Kamu berhak menjalani kehidupanmu seperti yang kamu inginkan!" Berbicara sambil memainkan rambut Bella yang tergerai tidak beraturan.


"Hemmm...!" Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Bella, mau bagaimanapun bukankah sikap Brian selama ini cukup kekanak-kanakan dan hatinya masih saja gondok memikirkan hal itu.


Mendengar jawaban yang nyaris tidak memuaskan membuat jiwa usil Brian kembali membuncah, pria itu lantas berbisik pelan di telinga Bella "Tapi ayo kita lakukan ini setiap hari!" Dan kejahilan itu membuahkan sebuah cubitan pedas yang mendarat di perut rata Brian.


"Ahhhhh....sakit sayang!"


"Rasakan!" Kemudian Bella beranjak dari kasur dan pergi untuk mengulang kembali mandi paginya.


"Bella tinggu aku!! Kita mandi bersama!" Detik berikutnya lelaki itu telah menghambur ke kamar mandi menyusul istrinya.


Tidak berselang lama sebuah teriakan keras keluar dari mulut Bella kala Brian kembali menyerangnya tanpa ampun dan...perang dingin itu benar-benar berakhir.

__ADS_1


__ADS_2