
Perpisahan panjang meninggalkan kerinduan yang teramat dalam...
Dan pertemuan tiba-tiba ini seperti angin sejuk di hari panas yang membakar.
Bella masih memandang lelaki itu di sela suapan makan siangnya.
Dion Arithya Wilhem yang akrab disapa Dion itu tersenyum melihat polah sahabatnya itu.
"Apa kamu begitu merindukanku?"
"Wah....jika dipikir-pikir bukankah kamu cukup keterlaluan? Kenapa tidak memberi kabar?" Jawab Bella sedikit meluapkan emosinya.
"Maaf!"
"Hanya itu yang bisa kamu ucapkan?"
Dion tersenyum meraih tangan Bell dan mengelus punggung tangannya "Aku semakin tidak bisa menahan diri saat mendengar suaramu....jadi bisakah kamu memahamiku?" Berbicara sambil menatap dalam ke arah Bella.
"Jangan melihatku seperti itu!"
"Kenapa? Apa hatimu kini mulai bergetar?"
Jawaban yang cukup tidak terduga, sekilas Bella melirik ke arah Calvin. Ah...syukurlah dia tidak memperdulikan percakapannya dengan Dion dan sibuk dengan makan siangnya.
"Tidak!" Jawab Bella tegas.
Calvin meraih segelas air putih di depannya, kemudian menenggaknya hingga habis tidak tersisa.
"Bukankah kalian terlalu kejam? Kalian berbicara berdua tanpa melibatkan saya. Bukankah lebih baik jika saya pergi dari sini?" Kemudian meraih lap dan menyeka mulutnya.
"Kamu boleh pergi jika ingin!" Kata Dion dan sontak membuat Bella tertawa.
Calvin hanya mengerucutkan bibirnya mendengar jawaban pedas dari mulut Dion "Tapi aku yang berjasa mempertemukan kalian!"
"Ah...baiklah Calvin, terimakasih untuk kebaikan hatimu!"
"Jadi hubungan apa yang terjadi antara kalian berdua?" Pertanyaan yang tiba-tiba.
Dengan cepat Bella dan Dion menjawab bersamaan, Calvin hanya melongo mendengar jawaban mereka yang tidak sama dan kini bisa dipastikan Dion adalah korban.
Korban dari kecantikan dan kebaikan Bella tentunya.
Dalam hati Calvin bergunam "Saingannya kini bertambah satu!"
"Tapi sepertinya kakak belum tahu sesuatu!"
__ADS_1
"Apa itu?"
"Bella sudah dimiliki seseorang!"
Dion nyaris tersedak, mendengar kata-kata Calvin barusan.
Matanya beredar memandang Calvin dan Bella bergantian, mencoba mencari sebuah kebenaran.
"Iya! Aku sudah menikah!"
Dion membelalakkan matanya lebar-lebar "Kamu!"
"Ada apa dengan matamu? Bukan salahku jika aku tidak memberitahumu, kemana saja kamu selama ini?" Kata-kata Bella terdengar satu oktaf lebih tinggi, dia jelas tidak terima Dion bersikap seperti itu.
Kini dia mendengus kesal, jika saat itu Dion ada di sini, bisa dipastikan lelaki yang dinikahinya bukanlah Brian. Menikahi Dion terdengar lebih baik, paling tidak Bella sudah paham di luar kepala semua sifat Dion.
***
Usai makan siang hanya Calvin yang kembali ke kantor. Sedangkan Bella dan Dion pergi berdua, menghabiskan waktu hingga hari yang terang berubah menjadi malam yang gelap.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, saat mobil Ferrari 250 GT SWB California milik Bella memasuki halaman rumahnya.
Bella turun dari mobilnya, melangkah menuju ke pintu kemudian menekan kata sandi.
Pintu terbuka...
Gelap...
Baru beberapa langkah, lampu tiba-tiba menyala. Brian berdiri mematung di dekat saklar, dengan wajah menegang.
"Ah....kamu mengagetkanku! Ayo makan!" Kata Bella sambil berlalu dari hadapan Brian dan melangkah ke arah meja makan.
Baru juga hendak mengambil piring, tiba-tiba Brian bertanya.
"Siapa dia?"
Deg...jantung Bella berdetak cepat, dalam hati bertanya siapa yang Brian maksud? Apa jangan-jangan tadi Brian melihatnya saat bersama Dion?
Dengan gagap Bella menjawab "Teman!"
Brian tertawa sinis "Teman? Aku bahkan tidak pernah berpelukan seerat itu di tempat umum dengan temanku!"
Bella tergagap...
"Kami sudah lama tidak bertemu!"
"Apa ini....!" Berjalan mendekati...menepis tubuh Bella hingga nyaris menyentuh tembok di belakangnya, kemudian melanjutkan kata-katanya "Sepertinya hubungan kalian sangat sepesial!"
__ADS_1
Bella mendorong tubuh lelaki di depannya itu, bukan karena jijik....tapi dia tidak ingin lelaki itu mendengar detak jantungnya yang sedari tadi bergemuruh riuh..ya...bersentuhan semacam ini saja mampu membuatnya hilang kendali. Apalagi sedari tadi lelaki itu memandanginya tajam, seolah hendak menelanjangi tubuhnya dengan tatapan itu.
"Kami memang sangat dekat, tapi hubungan kami sangat sehat!" Sambil berlalu meninggalkan Brian.
Baru beberapa langkah, tangan kekar dan hangat itu menarik tangannya "Jangan menemuinya lagi!"
Sesaat Bella hanya terdiam, apa maksud sebenarnya dari kata-kata itu? Selalu saja seperti itu, membuatnya terbang terlalu tinggi lantas menghempaskannya begitu saja.
"Kamu tidak berhak mengatur hidupku!" Jawab Bella dengan sinis.
"Kumohon!" Pinta Brian sekali lagi dengan suara bergetar.
"Lepaskan!" Kata Bella berusaha menepis tangan itu.
Brian tetap bertahan, menggenggam tangan itu. Seolah ingin agar wanita itu tidak menjauh darinya.
"Berjanjilah padaku!"
Bella berbalik badan, dilihatnya wajah itu. Lelaki yang selalu memorak-porandakan hatinya.
"Tidak!"
Emosi Brian memuncak, mendengar jawaban yang terlontar dari mulut Bella. Dihimpitnya tubuh kecil di depannya, kini tubuhnya menempel sepenuhnya dengan tubuh Bella.
Brian menjadi hilang kendali...
Diraihnya wajah di depannya itu, dengan kasar Brian ******* bibir itu.
Bella terpekik...dia tidak menyangka dengan serangan itu. Dengan sekuat tenaga dia berusaha mendorong tubuh lelakinya. Namun sekuat apapun dia berusaha, tubuh itu bahkan tidak berpindah sedikitpun.
Serangannya semakin kasar dan arogan, Bella bahkan kesusahan untuk bernafas.
Kini Bella menangis, dia ketakutan....sesuatu yang pernah terjadi di masa lalu tiba-tiba muncul begitu saja dalam ingatannya.
Keputusasaan, pemaksaan, cinta....hingga cinta itu terbentuk setinggi gunung dan seluas samudra kemudian dihempaskan begitu saja dengan sebuah penghianatan.
Brian kembali dalam kesadarannya...
Bella menangis...
Ketakutan.
Pagutan itu telah berhenti sepenuhnya.
Tubuh Brian yang sedari tadi memanas, nafas memburu dan menggelora perlahan mulai menghilang.
Tubuhnya lunglai...
__ADS_1
"Maaf!"
Dan Bella masih dengan tangisnya...berdiri mematung bersandar pada dinding dibelakangnya.