Berbagi Cinta : Penyesalan

Berbagi Cinta : Penyesalan
Part 61 : Babak Baru Penderitaan


__ADS_3


Musim telah berubah, dingin yang membeku kini mulai menghilang, seiring datangnya mentari pagi yang memberikan semburat warna cerah dengan sedikit kehangatan yang terpendar. Kembang-kembang mulai bermekaran hampir memenuhi seluruh jalanan, aroma yang khas...pemandangan yang menyejukkan. Namun ini bukanlah akhir, ini hanya sebuah perjamuan singkat dari sebuah perjalanan yang melelahkan, karena nyatanya musim akan berganti dan membawa kita dalam kenyataan yang mungkin saja lebih perih dari luka yang diperciki larutan cuka.


Pagi ini berlalu seperti biasa, ketika Brian terbangun lebih dulu dan mencoba menjamahnya, dan sekali lagi Bella mengelak. Dengan sebuah alasan yang sedikit tidak masuk akal dan itu sudah terjadi hampir satu minggu.


Lantas dengan wajah masam lelaki itu beringsut dari pembaringan, menuju kamar mandi. Dan itu adalah pilihan terbaik, guyuran air dingin mungkin akan segera meluruhkan birahinya. Atau mungkin dia bisa bermain dengan sedikit sabun di sana, di mana hanya ada dia, Tuhan. Tidak masalah menjadi sedikit gila, toh itu adalah sesuatu yang wajar yang dititipkan Tuhan kepada setiap manusia.


Lamunan Bella terhenti, kala terdengar dering dari telepon genggam milik Brian. Bella membiarkan suara itu begitu saja, sebab kini dia sedang dijamahi oleh pikiran yang menyembul begitu saja dari kepalanya. Namun akhirnya wanita itu beringsut dan meraih ponsel itu dengan gusar, ini sudah yang keempat kalinya ponsel itu berdering dan mengganggu dirinya.


"Apa yang dilakukan wanita ini pagi-pagi buta?" Gunam Bella, ditaruhnya lagi ponsel itu di atas nakas. Dia sedang enggan untuk bersandiwara. Kemudian wanita itu kembali duduk di tempatnya semula sambil memandangi ranting-ranting yang mulai dipenuhi pucuk-pucuk daun baru dari balik jendela.


Sepuluh menit kemudian Brian keluar dari kamar mandi "Sayang! Kamu belum menyiapkan pakaian kerjaku!" Bella hanya menoleh sesaat, kemudian kembali lagi pada posisinya semula. Namun hatinya tidak sampai hati, akhirnya toh dia bangkit dari kursinya dan berjalan menuju ruang ganti. Memilah-milah pakaian yang cocok untuk suaminya, bagaimanapun juga Brian harus terlihat tampan agar Dera tidak berpaling darinya dan mengambil alih posisinya. Sebab menjadi korban tidak pernah menyenangkan.


"Sayang!" Brian menyembul dari balik pintu, apa Bella terlalu lama didalam sana?


"Ya!" Jawabnya gagap, seolah-olah dia takut jika Brian mampu menangkap isi dalam kepalanya.


Lelaki itu masuk, dan menghampiri dirinya "Apa kamu merasa tidak enak badan?" Sambil menyentuh pelipis Bella dengan tangan dinginnya.


"Aku baik-baik saja!"


"Benarkah? Aku mencemaskanmu!" Berbicara dengan raut wajah sendu, jika itu adalah Bella di masa lalu. Wanita itu pasti langsung memeluk Brian dan menghujani lelaki itu dengan banyak ciuman.

__ADS_1


Bella tersenyum "Maaf karena membuatmu kuatir!" Kemudian meraih kemeja putih yang dipadukan dengan celana bahan warna hijau dan sebuah blazer warna senada. Dia ingat betul, ini pakaian yang dikenakan Brian saat pertama kali dia melihat lelaki itu di sebuah restoran. Pandangan pertama yang membuatnya jatuh begitu saja...


"Kenakan ini! Kamu terlihat dua ratus persen lebih tampan dengan setelan ini?"


"Benarkah? Kamu terus menggodaku tetapi tidak pernah memberiku kesempatan!" Ucapnya sambil meruncingkan bibirnya.


Bella tersenyum "Aku akan keluar untuk melihat apakah Bibi sudah selesai menyiapkan sarapan untuk kita!"


Namun secepat kilat tangan itu meraih tubuh Bella, tetaplah di sini, aku ingin kamu yang memakaikan baju ini untukku.


Bella tersenyum, cara licik apa lagi yang tengah berusaha ia tontonkan. Namun akhirnya dia pasrah, saat lelaki itu menanggalkan handuknya dan kini mulai mengenakan celana panjang itu. Celana telah terpasang, kemudian dia beralih ke kemeja putih dan Bella dengan telaten mengancingkan beniknya. Susunan balok-balok kokoh yang terpampang di matanya, keras! Bella merindukan itu. Dada bidang nan hangat yang kerap menjadi tempatnya berlindung. Namun dada itu kini bukan lagi miliknya. Seberapa besarnya dia ingin dia tetap mencoba untuk bertahan.


Semua benik telah terpasang, kemudian Bella meraih sebuah dasi warna hijau. Mengalungkannya di leher Brian, sekilas terlintas pikiran licik, haruskah dia menjerat leher lelaki itu dengan dasinya? Lantas jika Brian mati apa yang harus dia lakukan? Ah...dia sedikit menyesal, kenapa dulu dia tidak memelihara sekelompok ikan piranha.


"Kenapa tidak mengangkatnya?"


"Malas!" Brian terkekeh mendengar jawaban istrinya.


"Kamu ternyata sedang melas dengan apapun!" Sambil mencubit cuping hidung Bella "Itukah alasannya kamu terus menolakku!" Bella tersenyum "Bukan itu sayang, bukan!" Gunamnya dalam hati.


***


Usai menandaskan sarapan paginya Brian terburu-buru meninggalkan rumah, dengan dalih ada hal penting yang harus dia kerjakan. Padahal Bella paham betul, itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan pekerjaan.

__ADS_1


Lantas Bella bersiap, meraih tasnya dan bergegas menuju garasi mobil. Bekerja adalah cara terbaik untuk melupakan masalah.


***


Brian gagu, saat dia memandangi layar ponselnya. sebelas panggilan tidak terjawab, apa Bella melihatnya? Ah....kenapa dia tidak mengganti namanya, bagaimana kalau Bella tidak sengaja melihatnya? Kemudian sebuah pesan masuk.


"Ayo bertemu sebentar, ada hal penting yang harus aku sampaikan!"


Penting??? Hal apa gerangan, tidak seperti biasanya Dera bersikap ceroboh seperti ini.


Dan secepat kilat dia menghabiskan menu makan paginya, bergegas pergi dengan dalih urusan pekerjaan. Nyatanya lelaki itu tidak langsung pergi ke kantor, melainkan pergi menuju apartemen pribadinya. Yang kini telah di tempati oleh Dera, tetap bertemu Dera di tempat lamanya bukanlah hal bagus karena Bella bisa saja datang kapanpun tanpa pemberitahuan. Dan apartemen ini dia beli jauh sebelum dia mengenal Bella, ini adalah tempat paling pribadi baginya. Dan dia rasa ini juga tempat yang aman bagi dirinya dan juga Dera.


Mobil berpacu dengan kecepatan tinggi hingga sampailah di tempat yang dia inginkan, memarkir mobil di basement dan secepat kilat menaiki lift menuju tempat yang kini tengah dihuni sesosok wanita yang tengah menunggunya dengan cemas.


***


Dera sendiri mondar-mandir dengan cemas, apakah semua akan berjalan sesuai keinginanya? Keringat dingin mulai membanjiri tubuhnya sampai dia merasa semua tulang belulangnya terlepas dari engselnya. Saat dia mendengar suara orang yang menekan-nekan kata sandi di luar sana dan menit berikutnya pintu terbuka, sesosok tubuh menyembul dari balik pintu.


"Apa yang terjadi!"


Dera berlari ke arah lelaki itu, memeluk dan mendekapnya dalam kehangatan.


"Aku hamil!"

__ADS_1


__ADS_2