
Bella mengerjapkan mata, cahaya matahari menyilaukan...menembus dari celah-celah gorden.
"Aaaargh!" Bella merasakan pening di kepalanya, sepertinya dia terlalu banyak menenggak bir semalam. Dan seluruh badannya terasa remuk, bagaimana tidak? Dia tertidur dengan posisi duduk, dengan kepala yang bertumpu pada meja di depannya.
Dion masih tertidur, dengan wajah damainya. Meringkuk di sofa yang tidak sepadan dengan tinggi badannya.
Kini matanya beralih melihat jam di layar ponsel "Ah!" Rintihnya.
Jam sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi, tentu saja dia sedikit gusar. Dia jelas terlambat masuk kerja. Lima puluh panggilan tidak terjawab serta puluhan pesan memenuhi ponselnya.
Pelakunya adalah orang yang sama, Brian!
Bella beranjak dari duduknya, menghampiri Dion.
"Dion...maaf akan kekacauan ini! Tapi aku harus pergi!"
Sejenak Dion menggeliat, kemudian lelaki itu membuka matanya perlahan "Kamu mau pergi!"
"Ya!"
"Hemmm....aku mau tidur lagi!"
Dan kini Dion mencari posisi ternyaman dan memejamkan matanya kembali.
Bella sudah berada di dalam mobil, datang kesiangan dengan pakaian yang sama. "Apakah ini bagus?" Gunamnya lirih, tapi akan ada rapat pukul 09.30 nanti tentu saja dia tidak akan sempat jika harus pulang untuk berganti pakaian. Sudah bisa dipastikan dia akan menjadi bahan gunjingan orang sekantor.
***
Setelah menempuh perjalanan hampir 40 menit Bella akhirnya sampai di kantor. Dan benar saja...Bella menjadi pusat perhatian hampir seluruh karyawannya.
Saat memasuki ruangannya, terlihat Calvin sudah ada di sana.
"Ibu sudah datang? Baju yang Ibu minta sudah saya siapkan! Sebaiknya Ibu bergegas, agar bisa sarapan terlebih dahulu!"
"Apakah Brian sudah sarapan?"
"Apa Ibu pikir saya istri Tuan Brian?" Bertanya dengan nada sinis tanpa sedikitpun menatap Bella.
"Wah...kamu!" Kemudian mengambil baju yang di siapkan Calvin dan bergegas menuju toilet.
Sepuluh menit kemudian Bella keluar dengan setelan yang disiapkan oleh Calvin, panggilan Calvin tidak dia perdulikan. Secepat kilat dia sudah melangkah keluar menuju ruangan wakil presdir.
Tok...tok...tok....
"Masuk!" Sebuah suara menyahut dari dalam ruangan.
Dengan perlahan Bella membuka pintu, kepalanya menyembul dari balik pintu. Seolah sedang melihat kondisi, apakah semua baik-baik saja jika dia masuk sekarang.
Brian melihat siapa yang datang "Masuklah!" Ini perintah kedua...dan dengan cepat Bella masuk ke dalam ruangan Brian.
__ADS_1
"Tidur dimana semalam? Kenapa kamu tidak menjawab panggilan teleponku? Apa kamu baik-baik saja?" Pertanyaan beruntun keluar dari mulut Brian jelas dia tidak marah dan hanya tergambar kekhawatiran di sana.
"Maaf karena membuatmu khawatir! Kamu sudah sarapan?"
Brian mendekat, dilihatnya wajah istrinya yang terlihat sedikit gusar "Bagaimana aku bisa sarapan? Saat kamu bahkan tidak memberi kabar? Kamu tidur di mana?"
Pertanyaan yang sama...
Jantung Bella kini berdetak lebih cepat, bagaimana harus menjawab pertanyaan itu? Tidak mungkin jika harus berkata jujur, berdasarkan tabiat Brian...bisa dipastikan lelaki itu akan murka.
"Ah....tunggu dulu!!! Memang apa pedulinya jika lelaki itu marah?" Gunam Bella dalam hati.
"Menginap di rumah Ayah!" Kenapa malah kata seperti itu yang ke luar dari mulutnya...apa Bella benar-benar perduli dengan perasaan Brian.
Brian tersenyum sinis, kemudian berjalan mendekati Bella. Diraihnya pinggang ramping istrinya dengan kedua tangannya.
Bella diam....tidak memberontak, pikirannya sedikit kacau. Apa yang lelaki itu ketahui? Wajahnya bahkan terlihat sangat menyeramkan.
Detik berikutnya Brian berbisik pelan di telinga Bella "Sayangnya aku pergi ke rumah Ayah semalam dan kamu sangat tidak pandai berbohong!"
Deg...deg...deg....
Bella tidak mampu berkata-kata lidahnya kelu.
Lantas Brian kembali berucap "Kemana saja kamu semalam?" Kemudian bibir itu dengan perlahan menjamah leher jenjangnya.
Bella semakin bergidik ngilu...karena kekhawatirannya dan sentuhan pelan itu...
"Kenapa hanya diam? Haruskah aku menghukummu sekarang?" Dan kini tidak hanya bibir itu yang bergerilya, tangan Brian juga ikut beraksi memberikan sentuhan-sentuhan yang mematikan.
"Ma..maaf Brian!"
"Maaf untuk apa sayang?"
Bella menunduk ragu, antara berkata jujur atau sebaiknya berbohong saja.
"Aa...aku menginap di rumah teman!"
"Dera?"
Bella mengangguk.
"Kenapa tidak bilang dari tadi?" Dan detik berikutnya Brian sudah menjauh dari tubuh Bella, berjalan ke mejanya dan duduk dengan khusuk.
"Ah....untung dia tidak curiga!" Gunam Bella.
Melihat Brian seperti itu entah kenapa membuatnya tidak senang. Sebenarnya dia tidak suka jika lelaki itu mendekatinya dan memaksanya. Akan tetapi dia juga tidak suka jika Brian menjauh dan acuh padanya.
Jadi sebenarnya apa yang dia inginkan?
"Mau sarapan bersama?" Pertanyaan yang tiba-tiba saja keluar dari mulut Bella hingga membuat Brian sedikit bingung hingga memunculkan banyak pertanyaan di kepalanya.
__ADS_1
Apa yang sebenarnya dilakukan wanita ini?
Kenapa tiba-tiba melunak padanya? Mmmm....apakah aku harus mencari tahu jawabannya?
"Tentu!" Jawab Brian, kini lelaki itu kembali fokus pada pekerjaannya.
Secepat kilat Bella menyiapkan sarapan di ruangan Brian. Dan tentu saja membuat Calvin meradang...bukan Brian...harusnya dia yang sarapan dengan bos cantiknya itu.
Kini dua pasangan itu tengah duduk bersebelahan, menikmati menu sarapan pagi dengan damai, tanpa percapakan yang berarti.
***
Brian terlihat sedikit gusar sedari tadi. Entah sudah berapa batang rokok yang dihisapnya, dan kini hanya tersisa puntung-puntung yang memenuhi asbak.
Tok...tok...tok....
Suara pintu yang diketuk.
"Masuk!"
Kemudian pintu terbuka, wajah yang tidak asing menyembul dari balik pintu.
"Mmmmm....!" Calvin mendekat sambil mengibas-ngibaskan map yang dipegangnya. Jelas kepulan asap rokok mengganggu indra penciumannya.
"Apa yang terjadi?" Tanya Calvin.
Pemandangan seperti ini tidak asing baginya dan bisa dipastikan bosnya itu dalam kondisi yang tidak baik.
"Bella berbohong padaku!" Brian berkata lirih tanpa sedikitpun menoleh kepada lawan bicaranya.
"Tentang apa?"
"Dia menemui lelaki lain semalam dan sepertinya mereka bersama sepanjang malam!"
"Ah....!"
Mendengar cara Calvin menanggapi perkataannya bisa disimpulkan bahwa Calvin mengetahui sesuatu.
"Kenapa reaksimu seperti itu?"
"Bukankah anda juga sering seperti itu?" Calvin berucap begitu saja.
"Apa kamu bilang?" Brian tersulut emosi, ditariknya kerah baju Calvin dengan mata membelalak seolah siap untuk menerkam mangsa.
"Apa saya melakukan kesalahan?"
Brian limbung, dilepaskannya kerah baju Calvin "Maaf!"
"Lebih baik anda pulang dan beristirahat!"
"Apa kamu mengenal lelaki itu?"
__ADS_1
Calvin tidak tahu apa yang seharusnya dia katakan.
Dan keheningan merayap menghampiri mereka.