Berbagi Cinta : Penyesalan

Berbagi Cinta : Penyesalan
Part 79 : Bantu Aku


__ADS_3

Teruntuk para pembaca setia "BERBAGI CINTA : PENYESALAN"


Saya meminta maaf yang sebesar-besarnya karena baru bisa up date cerita ini dikarenakan masalah pribadi, dan selanjutnya saya akan berusaha untuk up date setiap harinya, jadi mohon dukungannya 🥰🥰🥰



Apa aku masih mencintainya?


Pertanyaan yang masih sering kali memenuhi rongga kepala Bella.


Pertanyaan yang bahkan tidak mampu dia jawab. Perpisahan itu....dia berharap semua akan kembali seperti sedia kala. Kehidupannya, kehidupan Brian. Namun nyatanya perpisahan itu tetap saja membawa luka...memilih untuk bersama ataupun berpisah ternyata sama-sama menyakitkan.


Dan kini dia tengah terduduk lesu, memandangi buket mawar putih yang teronggok di lantai. Saat pemiliknya meninggalkan begitu saja.


Butik telah sepi, lampu-lampu telah lama dipadamkan. Hanya lampu di ruang kerjanya yang masih menyala, pintu yang sedikit terkuak menebarkan cahaya di koridor yang gelap.


Air matanya meleleh lagi...bayangan Brian selalu nampak di pelupuk matanya.


"Apakah dunianya kini telah teralihkan oleh Brian?"


Tiba-tiba terdengar derit pintu dan suara derap langkah kaki.


Meskipun tidak tahu siapa itu, namun dia bisa memastikan bahwa itu adalah suara derap langkah kaki Dion.


Bella memalingkan pandangannya, seorang lelaki dengan setelan celana bahan hitam dan kemeja putih dengan 2 kancing yang entah sengaja atau tidak telah terlepas.


Raut wajahnya seketika terlihat gusar, berjalan mendekati Bella.


"Sampai kapan kamu akan duduk di situ?"


Yang ditanya hanya diam melongo, lantas mengulurkan tangannya dan disambut oleh Dion. Lelaki itu lantas menarik tangan Bella, membuat wanita itu kini berdiri tepat dihadapannya. Tubuh mungil itu sekitar 20 cm lebih pendek darinya...entah dia yang terlalu tinggi atau wanita itu yang terlalu pendek.

__ADS_1


Dion mengelus pelan rambut Bella seraya berkata "Sampai kapan kamu akan terus berada dalam bayang-bayang Brian?"


Pertanyaan tiba-tiba itu sontak membuat dada Bella terasa sesak, dipandanginya wajah yang sedari tadi terus menatap dirinya dengan kelembutan itu.


"Bisakah kamu membantuku melupakannya?" Tangis Bella kembali pecah memenuhi ruangan yang sepi.


Lantas Dion dengan tangan kekarnya memeluk erat tubuh itu dan menenggelamkan Bella kedalam pelukannya.


Dielusnya punggung Bella, kemudian dia berbicara setengah berbisik "Apa kamu sungguh-sungguh ingin melupakannya?"


"He em!"


***


Bella terbangun pagi ini dalam keadaan sedikit limbung, dia tidak ingat seberapa lama dia menangis di dada bidang Dion sampai akhirnya lelaki itu memapahnya dan mengantarkannya pulang ke rumah, bahkan selama perjalanan pulang dia masih tetap menangis dalam pelukan lelaki itu hingga dia terlelap dan terbangun pagi ini di ranjangnya.


"Kamu sudah bangun?" Sebuah suara datang dan membuatnya tersadar dari lamunan singkatnya.


"Aku menginap di sini! Cepat mandi dan ayo kita sarapan!"


"Kamu tidur di mana?" Tanya Bella kemudian, karena seingatnya dia hanya punya satu tempat tidur di apartemennya.


"Tepat di sebelahmu!"


"Di sebelahku?" Tanyanya lagi sembari melototkan matanya.


"Ha...ha...ha...kenapa reaksimu seperti itu? Aku tidur di sofa, di ruang tamu!"


"Bukankah sofa itu terlalu sempit untuk tubuhmu yang jangkung?"


"Lantas apa aku boleh tidur di sebelahmu lain kali?"

__ADS_1


Pertanyaan itu sontak membuat Bella gagap "Hemmm...tentu! Bukankah kita sering tidur bersama dulu!"


"Tapi sekarang berbeda Bella!"


"Apanya yang berbeda?"


"Kamu tidak tahu?"


"Hemmm!"


"Kamu benar- benar tidak tahu?" Sambil mendekatkan wajahnya pada Bella, jarak mereka kini sangat dekat hingga Bella mampu merasakan hembusan nafas Dion. Seketika wajah Bella memerah, dia memikirkan sesuatu yang tiba-tiba melintas begitu saja dalam otaknya. Di dorongnya tubuh jangkung dihadapannya.


"Ah!" ******* lembut Dion nyatanya membuat bulu kuduk Bella merinding "Kenapa kamu begitu kasar?"


"Kamu menghalangi jalanku!" Seraya bangkit dari ranjangnya dan berjalan menuju kamar mandi.


Dion tersenyum...


Ini pertama kalinya Bella nampak malu-malu dihadapannya, dan wajahnya yang memerah tadi membuatnya semakin gelisah.


Di matanya, Bella nampak selalu mengagumkan.


***


Bella berdiri khusuk memandangi buket dan kotak kado yang tertumpuk di ruangannya.


Sampai kapan lelaki busuk itu akan terus berulah seperti ini...apa dia sungguh berfikir dosanya bisa dimaafkan???


Kemudian dia berjalan tergesa, meraih ponsel yang sedari tadi bertengger di atas meja.


"Halo!" Suara dari seberang sana membuatnya kembali melumer, namun dia kembali tersadar. Dia menelepon bukan untuk menuntaskan rindu.

__ADS_1


"Ayo kita bertemu!" Hanya itu yang terucap, kemudian dia mematikan panggilannya dan menyuruh asistennya untuk mengangkut semua sampah yang bersarang di ruangannya.


__ADS_2