
Tidak lama Bella kembali, dengan dua gelas cappuccino. Dan lelaki itu masih menunggunya, duduk di deretan kursi yang berjajar rapi di taman.
Bella tersenyum sambil menyerahkan segelas minuman hangat tersebut "Terimakasih!" Jawab lelaki itu, lantas Bella duduk persis disebelahnya.
"Aku tidak ada hubungannya dengan hal itu, sama sekali. Aku hanya butuh uang dan aku menyanggupinya!"
"Apa sekarang kamu masih butuh uang?"
Lelaki itu tertawa terbahak "Tidak salah jika aku langsung menyukaimu saat pertama bertemu! Apa yang bisa aku lakukan untukmu? Tidak perlu membayar, aku tulus melakukannya untukmu!" Ucap lelaki itu, kemudian dia mengedarkan pandangan pada danau tenang di depannya. Kemudian mereka hanya diam, menikmati kopi dengan suguhan pemandangan yang menenangkan. Sampai akhirnya lelaki itu kembali berbicara, bukan hanya berbicara, tetapi dia sedikit bercerita. Tentang hidupnya...dan dengan khusuk Bella mendengarkan tanpa sedikitpun berpaling dari wajah seputih kapas itu.
"Aku tinggal berdua dengan nenekku, sedari kecil. Aku terbiasa hidup sengsara, jadi aku menikmatinya. Tetapi akhir-akhir ini segalanya terasa sulit, nenek mengidap penyakit ganas dan harus dirawat di rumah sakit. Biaya cukup besar hingga nyaris mencekikku, tabunganku habis terkuras, juga satu persatu benda-benda berhargaku habis terjual. Aku tidak pernah menceritakan ini kepada siapapun sebelumnya, tetapi aku ingin kamu tahu, agar kedepannya tidak ada kesalahpahaman diantara kita. Dan suatu hari aku bertemu dengannya, tidak sengaja dia melihat kesusahanku dan menawarkan sebuah pekerjaan, tidak sulit tetapi mendapat bayaran tinggi. Bukankah itu terlihat seperti angin segar yang berhembus di kala terik menyengat? Aku menerima tawaran itu, meskipun itu tidak baik. Tetapi aku tidak menyesal, karena berkat uang itu nyawa nenek terselamatkan. Jadi apakah kamu marah kepadaku?" Wajah yang semula lurus memandang ke depan, kini berganti menatap Bella. Mata itu, begitu muda dan bersih.
"Dimana nenek kamu dirawat? Ayo kita ke sana!" Itulah kata yang terlintas di benaknya, keinginannya untuk mengulik kebenaran telah sirna. Karena dia tahu dia hanyalah seseorang yang dikendalikan oleh keadaan. Kemudian Bella beranjak dari duduknya dan berjalan dengan perlahan. Lelaki muda itu ikut bangkit, kini dia berjalan persis di belakang Bella. Mengekor seperti anjing kecil yang penurut.
***
Aroma obat yang pertama tercium oleh indra penciumannya, sebuah kamar perawatan yang sangat sederhana. Dan seorang wanita renta tengah tertidur dalam segala ketidaknyamanan.
"Aku akan menganggap semua ini tidak pernah terjadi, jika kamu menuruti semua permintaanku!"
"Apa itu?"
__ADS_1
"Kamu bersedia?" Lantas lelaki muda itu menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Pertemukan aku dengan dokter!" Lantas dengan ragu lelaki itu membimbing Bella bertemu dengan dokter yang menangani neneknya.
Pertemuan berlangsung singkat, intinya mulai sekarang dan seterusnya semua biaya pengobatan nenek lelaki itu akan menjadi tanggung jawabnya.
"Apa kamu berusaha menghukumku? Kamu bisa menyuruhku melakukan hal lain, tetapi tidak seperti ini. Kamu membuatku merasa semakin bersalah!"
"Berapa usiamu anak muda?" Disebut anak muda, lelaki itu menjadi malu dan menundukkan kepalanya.
"22 tahun!"
"Siapa namamu yang sebenarnya? Aku yakin Dayn bukanlah namamu!"
"Suga!"
"Ya!"
"Aku tahu kamu tertarik padaku! Tapi aku sudah tua dan sudah memiliki suami, bagaimana jika kamu menjadi adikku saja? Entah kenapa aku sangat menyukaimu! Mungkin karena kamu sangat pemberani!"
"Adik?" Sebuah pandangan dengan sorot penuh keheranan.
"Apa kamu sudah makan adik kecil?" Dan lelaki kecil bernama Suga itu menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Ayo temani kaka makan!"
Awalnya Suga sangat malu-malu, namun akhirnya bocah ingusan itu menandaskan semua makanannya. Usai makan Bella bersikeras untuk pergi ke rumah bocah tersebut.
Rumahnya sangat sederhana namun tertata rapi, sebuah halaman luas dengan bunga-bunga.
"Apa kamu juga menanam sayuran?" Pertanyaan tiba-tiba, karena nyatanya Bella mendapati beberapa tanaman hortikultura yang ditempatkan pada pot-pot yang menggantung dengan rapi.
"Ya! Tapi hanya kubis, lobak, brokoli, wortel dan bit yang bertahan selama musim dingin kemarin."
"Jadi kamu sering memasak?"
"Ya! Itu salah satu cara untuk berhemat!"
"Ha...ha...ha...!" Tawa Bella kembali pecah, lantas jemari lentik itu mengusap-usap kepala si bocah dengan lembut.
"Apa yang kamu lakukan?"
Bocah kecil itu terlihat marah "Bukankah tiga jam yang lalu kamu setuju bahwa aku lelaki dewasa? Jangan lakukan itu! Aku sudah cukup besar untuk perhatian semacam itu, aku juga seperti lelaki-lelaki yang lain!" Kali ini Bella tertawa makin keras, apakah bocah kecil itu baru saja berkata bahwa dia seorang lelaki dewasa? Menyentuhnya bukan membuat dia tersanjung, melainkan membangkitkan bagian lain dari dirinya? Tapi aneh kenapa Bella tidak merasakan sedikitpun keseganan, padahal awalnya dia sangat risih saat bocah ingusan itu memandangi tubuhnya dengan intens.
Lantas dia kembali melanjutkan kata-katanya "Bagaimana mungkin kamu bisa memperlakukanku seperti anak kecil saat kamu tahu perasaanku yang sesungguhnya?" Berbicara dengan sedikit nada keras dengan mimik wajah yang serius.
"Maaf! Aku tidak akan mengulanginnya!" Kali ini Bella mengalah, karena dia tidak ingin bocah itu tersinggung karena perbuatannya.
__ADS_1
Menit berikutnya percakapan kembali terjadi, kali ini tentang rencana Bella untuk memindahkan nenek Suga ke rumah sakit yang lebih bagus, awalnya Suga menolak, tetapi setelah Bella membujuk dan mengatakan bahwa kondisi neneknya tidak cukup baik untuk bertahan di ruang perawatan sederhana, akhirnya dia setuju dengan saran Bella.
Ternyata Suga masih terdaftar sebagai salah satu mahasiswa di sebuah universitas terbaik, namun saat ini dia mengambil cuti untuk fokus bekerja, apa saja ia lalukan, menjadi pengantar susu sambil berangkat ke kedai kopi tempatnya bekerja di pagi hari, siangnya dia berstirahat sambil sesekali mengambil foto-foto indah yang kemudian akan dia jual di sebuah situs online, sorenya bekerja di restoran ayam dan malamnya sesekali ia mengambil job di sebuah klub malam. Ia bercerita bahkan terkadang ada tante-tante kaya yang merayu dan mengajaknya berkencan, tentu tidak secara percuma. Namun Suga selalu menolak, itu bukan jalan yang baik, ah...Bella semakin merasa sayang kepada bocah ingusan itu.