
Dalam hati Bella masih bertanya-tanya, dengan siapa Brian pergi malam itu. Sampai Brian bahkan berani berbohong kepada dirinya.
Namun dia memilih untuk tetap diam, dia tidak ingin mendapatkan kenyataan baru yang mungkin akan menyakiti hatinya lebih dalam. Karena nyatanya luka yang dulu juga belum sepenuhnya mengering.
***
Hari ini bertepatan dengan ulang tahun pernikahan Papa dan Mama Brian, sebuah pesta sederhana digelar di kediaman keluarga Nicholas Gabriel. Hanya teman dekat, keluarga dan rekan bisnis yang menghadiri acara tersebut.
Keluarga dari pihak Bella juga hadir, terlihat Alnord dan Agatha yang datang dengan memakai busana senada.
Mr. Wilhem juga tampak hadir, tentu saja dengan anak semata wayangnya.
Yang terakhir Bella juga mengundang sahabat tercintanya, yaitu Dera.
Sedangkan Bella sudah dari pagi berada di kediaman Nicholas, membantu mendekorasi ruangan semampunya, serta menyiapkan kue-kue untuk perjamuan.
Sedang Brian sendiri baru datang usai pulang dari kantor, jadwal padat, pekerjaan yang menumpuk membuatnya tidak bisa meninggalkan pekerjaan.
***
Pesta berlangsung dengan sederhana, pertama acara sambutan kemudian pasangan yang terbilang tidak muda lagi itu beriringan menaiki podium dan memotong kue bersamaan.
Bella tersenyum dengan sebuah harapan tulus dari dalam hatinya "Semoga pernikahannya dengan Brian bertahan lama dan selalu bahagia."
Sesederhana itu...karena baginya cukup Brian seorang, hanya lelaki itu yang dia inginkan. Meskipun luka yang menganga cukup dalam di hatinya, adalah luka yang ditorehkan oleh lelaki idamannya itu. Tidak masalah! Bukankah semua manusia pasti melakukan kesalahan, hal itu juga berlaku untuk Brian. Dan....dia kembali berharap semoga itulah kesalahan terakhir yang diperbuat suaminya.
Dera terlihat datang menggandeng seorang lelaki tampan berkulit putih bersih, sepertinya lelaki itu lebih muda dari Dera. Namun hal itu bukan masalah besar, apalah arti sebuah usia?
"Siapa ini?"
Itulah pertanyaan yang terpikirkan oleh Bella.
__ADS_1
Lantas Dera tersenyum sambil menjawab "Perkenalkan ini Dayn, kekasihku!"
"Wah....selamat! Halo Dayn...perkenalkan saya Bella!" Kemudian Bella menjulurkan tangannya dan dibalas oleh Dayn.
"Dayn! Senang berjumpa denganmu Bella!" Ucap Dayn masih dengan tangan yang berjabatan dengannya.
Entah kenapa Bella merasakan sesuatu yang ganjil, Dayn seperti sengaja berlama-lama menjabat tangannya dan mata itu terlihat begitu nakal menguliti tubuhnya. Kini dia sedikit menyesal karena menggunakan Dress terlalu ketat dengan belahan dada yang terlalu rendah.
Karena jengah dengan tatapan mata Dayn akhirnya Bella beralasan untuk menemui tamu yang lain, namun sesaat sebelum dia pergi sekilas dia melihat sesuatu yang tidak asing. Terpasang di leher indah sahabatnya...ya...kalung yang sempat dia lihat, kalung itu sama persis dengan milik Brian.
Aaarrrgh!!! Singkirkan pikiran jahat itu Tuhan.
Tapi kalung itu bernilai sangat mahal, bukan bermaksud meremehkan tapi Bella berani memastikan kalau Dera tidak sanggup untuk membeli itu.
Ah...mungkin itu hadiah dari pacar barunya, dari gaya busananya terlihat dia bukanlah lelaki sembarangan.
***
Lagi-lagi Bella merasa menyesal, kenapa dia harus menyiksa diri dengan heels 10 cm nya. Berjalan mondar-mandir dengan sepatu laknat itu malah membuatnya kehilangan kebebasan bergerak, Bella merasakan ngilu di kaki. Namun berkali-kali matanya mencoba mencari sosok Brian. tetap saja sosok itu tidak nampak di matanya, kemana gerangan Brian berada.
Disudut ruang pesta yang sepi dan sedikit cahaya, dua orang mahluk terlihat saling bergelayut manja.
"Jangan di sini Brian!"
"Aku merindukanmu!" Berbisik di telinga si wanita.
"Bagaimana jika ada yang melihat!"
"Tidak ada yang melihat jika kamu mengurangi sedikit desahanmu sayang!"
"Ahhh....! Brian!" Ucap wanita itu dengan manja.
Dan detik berikutnya entah hal laknat apa yang mereka lakukan di tempat sepi seperti itu.
__ADS_1
***
Saat pesta hampir berakhir barulah Bella menemukan sosok Brian.
"Kamu dari mana saja sayang?"
"Maaf Bell! Mendadak ada yang harus aku kerjakan!" Seraya menunjukkan laptop ditangannya.
Senyum Bella merekah "Aku yang terlalu berfikiran yang tidak-tidak!" Gunam Bella.
"Ayo pulang! Aku sangat lelah!"
"Ayo! Aku akan pergi menemui Papa dan Mama dulu ya!"
"Hemmm...!" Kemudian Brian berlalu.
Deg...deg...deg...
"Aroma itu!" Batin Bella.
"Brian!"
"Ya sayang!" Yang dipanggil namanya hanya diam mematung, detik berikutnya Bella sudah menghambur ke pelukan suaminya. Mencoba memastikan, apakah dia salah!
Hati Bella bergidik ngilu, benar...aroma itu datang dari jas yang dikenakan Brian. Aroma kuat, aroma yang amat sangat dikenalnya.
Lelehan larva panas hampir tidak terbendung "Brian! Ada hal yang ingin aku lakukan, pergilah temui Mama Papa!"
Tanpa rasa curiga Brian berlalu dari hadapan Bella, sedang wanita itu hampir saja kehilangan arah dan menggila.
Bella berlari mengelilingi tempat pesta, matanya berpendar mencari-cari seseorang yang bisa menjawab kesalahpahamannya.
Namun orang itu tidak ada di mana-mana, kenapa dia pergi tanpa berbicara apapun kepadanya???
__ADS_1