
Dua jam berikutnya, Bella kembali menjejakkan langkahnya keluar dari klinik milik Dera. Seperti dugaannya wanita itu tidak pandai berbohong, begitu banyak dusta dimatanya.
Apa yang akan wanita itu lakukan sekarang?
Menghampiri suaminya dan menampar wajah tampan itu dengan keras?
Menjambak rambutnya hingga dia meringis kesakitan?
Ataukah mencabik-cabik tubuhnya dengan kuku-kuku jarinya yang tajam?
Namun akhirnya dia memilih untuk tidak melakukan itu, Bella memilih hal lain yang lebih bermartabat. Menghabiskan uang suaminya dan pulang dengan tentengan penuh di tangannya. Kini wanita itu terlihat sibuk, bergelut di dapur yang terlihat mulai berantakan. Dia akan memasak jamuan makan malam yang lezat untuk menyambut dua orang yang akhir-akhir ini mengharubirukan perasaanya.
Makanan telah siap, terhidang dan tertata dengan rapi, diliriknya jam besar yang menggantung di dinding samping meja makan. Pukul 19.00, sebentar lagi...
Dan....
Ting...tong...
"Biar aku saja yang membukakan pintu Bi!" Ujar Bella kepada asisten rumah tangganya, kala dia melihat wanita itu beringsut dari wastafel.
"Baik Nona!"
Detik berikutnya Bella sudah berada di depan pintu, membuka pintu dan sesosok mahluk cantik menyembul dari sana.
"Ayo masuk!" Perintah Bella dan seutas senyum tertoreh di wajah cantik wanita itu. Kemudian dia melepas long coat warna coklat tuanya dan menggantungnya ditempat yang telah disediakan.
"Kamu mau minum apa?" Tanya Bella kemudian, namun wanita cantik itu menggeleng dan memilih duduk di ruang tengah dekat dengan perapian.
Udara di luar memang cukup dingin. Tidak berselang lama Bella mendengar deru suara mobil yang semakin lama semakin mendekat, kemudian memasuki halamannya. Bella hafal betul suara mobil itu, ya...mobil milik Brian. Kemudian Bella menanggalkan celemeknya dan berjalan mendekati pintu masuk.
__ADS_1
"Untung kamu datang cepat sayang!" Ujar wanita itu sambil meraih tas kerja suaminya dan membimbing lelaki itu masuk ke dalam.
"Ada tamu spesial hari ini, jadi kamu harus bergegas mandi dan kita bisa menikmati makan malam bersama!"
"Siapa?" Tanya Brian dengan suara lesu, pekerjaannya mungkin terlalu berat hari ini. Namun hal indah akan segera datang dan membuat Brian kembali bergairah.
"Rahasia! Aku akan menyiapkan air untukmu sayang!" Secepat kilat wanita itu sudah menghilang dari pandangan Brian berjalan kearah kamar utama. Seolah wanita itu sengaja memberikan sedikit waktu untuk suaminya untuk melihat dan bercakap dengan tamu istimewa yang sedang menghangatkan diri dari rasa sepi yang merongrongnya, rasa sepi yang lantas membuatnya hilang kendali dan kehilangan akal sehatnya.
Namun sepertinya keinginan itu tidak terwujud, karena lelaki itu kini telah berada di belakangnya, memeluk pinggangnya dengan erat.
"Sayang....!"
"Hemmmm....!"
"Aku menginginkannya!" Sentuhan itu membuat tubuh Bella bergeming, tapi tidak dengan akal sehatnya. Secepat kilat wanita itu berbalik badan dan menjauhkan bibir itu dari tengkuknya. Akan tidak baik jika dia terus berada dalam posisi seperti itu, karena hatinya masih sepenuhnya memihak lelaki itu.
"Lekas mandi dalam sepuluh menit!"
"Sayang!" Lelaki yang kini hanya mengenakan handuk untuk menutup bagian bawahnya itu kembali merajuk "Sebentar saja, lima menit!"
Dengan kecewa Brian menanggalkan handuknya, diabaikannya air hangat yang tadi disiapkan oleh Bella di dalam Bathtub. Kemudian menyalakan shower, kucuran air dingin membasahi tubuhnya, mungkin itu bisa meredakan gairah yang telah membuncah di bagian bawah tubuhnya yang sedari tadi berdiri tegak.
***
Sepuluh menit berlalu dan Brian belum juga muncul dari dalam kamar, apa lelaki itu kembali merajuk karena keinginannya tidak terpenuhi? Entahlah....
Namun di menit ke lima belas, lelaki itu keluar dari kamarnya dengan setelan celana bahan dan kaos oblong warna putih kesukaannya.
Ada apa dengan tampilannya?
Bukankah tadi Bella sudah menyampaikan, bahwa mereka kedatangan tamu istimewa?
__ADS_1
Bukankah dengan tampilan seperti itu dia akan menjadi malu nantinya?
"Sayang cepat!" Ujar Bella smabil melambaikan tangan, lelaki itu lantas berjalan mendekat...dan wanita misterius itu membalikkan badannya. Bella bisa melihat keterkejutan dari wajah Brian.
"Ah....Dera!"
"Ya! Hari ini aku sengaja masak banyak jadi aku mengundangnya, lagi pula sudah lama kita tidak makan bersama!" Setelah menyilahkan Brian duduk, kebisuan kembali membuncah. Dera terlihat sedikit kikuk dan serba salah, Brian juga menunjukkan sikap yang sama. Andai saja Bella bisa menyelami isi otak mereka, setidaknya dia tahu apa yang sedang dipikirkan oleh orang-orang tersebut. Akhirnya Bella memulai percakapan.
"Bagaimana hubunganmu dengan kekasih barumu Der?"
"Baik!" Jawab Dera sambil tersenyum simpul.
"Sayang! Lihatlah! Kekasih Dera membelikan sebuah kalung indah untuknya!" Sekilas Brian menatap wanita itu "Kenapa kamu tidak membelikannya juga untukku? Ah...aku sangat kecewa!" Kalian akan mengira bahwa Bella adalah seorang artis yang handal, gaya bicaranya terlihat natural dengan wajah penuh kepolosan. Sepertinya Bella menjadi satu tingkat lebih dewasa, terlihat bagaimana dia mengontrol emosi.
Brian membelai wajah Bella dengan kikuk "Kamu bisa membeli apa saja yang kamu inginkan!"
"Oh...ha...ha...ha...aku melupakan sesuatu, semua uang suamiku aku yang memegang kendali. Dan lelaki tampan ini hanya memiliki sedikit uang di dompetnya. Bagaimana bisa aku memintanya untuk membelikan barang mahal seperti itu, maaf sayang aku bersikap keterlaluan!" Jebakan yang sempurna. Sekarang apakah Dera masih ingin memacari suaminya?
Bella berusaha menunjukkan hal baru untuk Dera, bahwa dialah yang memegang kendali. Brian hanya terlihat seperti seekor kuda peliharaan dan Bella sudah memasangkan tali kekang, dia hanya perlu mengarahkan Brian sesuai keinginannya.
Dera hanya tertawa menanggapi lelucon Bella sedang Brian, wajahnya terlihat memerah.
"Jadi kapan kamu akan mengenalkan lelaki itu padaku?"
"Nanti, sekarang ini dia sangat sibuk!"
"Ah...benarkah?" Kemudian berbicara dengan pelan "Apakah itu sebabnya kalian bermain di dalam mobil waktu itu?"
Sontak pipi Dera memerah, dan Brian nyaris tersedak.
Bella mengambil segelas air putih untuk Brian "Ah...sayang jangan terlalu kuno, bukankah hal seperti itu sangat wajar?"
__ADS_1
Dan percakapan kembali berlangsung disela-sela acara makan.
Dan ini baru sebuah awal...